Tunggu Putusan The Fed, Rupiah Melemah ke Rp14.542

CNN Indonesia | Rabu, 29/07/2020 16:23 WIB
Nilai tukar rupiah melemah 0,05 persen di posisi Rp14.542 per dolar AS pada perdagangan Rabu (29/7) sore. Nilai tukar rupiah melemah 0,05 persen di posisi Rp14.542 per dolar AS pada perdagangan Rabu (29/7) sore. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Nilai tukar rupiah bertengger di posisi Rp14.542 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Rabu (29/7) sore. Posisi tersebut melemah 0,05 persen dibandingkan perdagangan Selasa (28/7) sore di level Rp14.535 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.570 per dolar AS atau melemah dibandingkan posisi kemarin yakni Rp14.543 per dolar AS.

Sore ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang menguat 0,22 persen, dolar Singapura menguat 0,28 persen, won Korea Selatan menguat 0,32 persen, yuan China menguat 0,03 persen, ringgit Malaysia menguat 0,22 persen, baht Thailand menguat 0,07 persen, dan rupee India menguat 0,05 persen.


Hanya peso Filipina dan dolar Taiwan yang terpantau mengalami pelemahan masing-masing sebesar 0,01 persen dan 0,12 persen.

Di sisi lain, mayoritas mata uang di negara maju masih bergerak variatif terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris melemah 0,27 persen dan dolar Australia melemah 0,31 persen. Sebaliknya dolar Kanada menguat 0,22 persen dan franc Swiss menguat 0,32 persen.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi memprediksi dalam perdagangan sore ini rupiah akan ditutup melemah tipis 7 poin di level 14.542 dari penutupan pasar hari sebelumnya.

Sementara dalam perdagangan besok, rupiah kemungkinan akan diperdagangkan fluktuatif namun di tutup menguat 50-100 poin di kisaran Rp14.500-Rp14.580.

Menurut Ibrahim pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi proyeksi ekonom bahwa Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) akan menahan suku bunga acuannya di level 0-0,25 persen .

Di samping itu, pandemi virus corona yang melandai dan berangsur-angsur stabil di AS, dengan penurunan 2 persen dalam jumlah kasus baru minggu lalu, juga membuat dolar mengalami penguatan. "Tetapi dampak pembatasan ekonomi untuk membatasi penyebarannya dan hilangnya pekerjaan baru mulai dirasakan," ucap Ibrahim dikutip dari keterangan tertulisnya.

Sementara dari sisi internal, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sentimen negatif pasar atas proyeksi ekonomi Indonesia kuartal II dan III yang mengalami pertumbuhan negatif.

Memang ada optimisme kuartal ketiga ekonomi akan kembali rebound namun hal ini harus dibarengi dengan penanganan pandemi virus corona yang efektif. "Kalau itu terjadi, maka pertumbuhan ekonomi kita secara keseluruhan tahun akan bisa tetap di zona positif," tandas Ibrahim.

[Gambas:Video CNN]



(hrf/age)