Kekhawatiran Resesi AS Buat Rupiah Melemah Rp14.600

hrf, CNN Indonesia | Kamis, 30/07/2020 16:22 WIB
Nilai tukar rupiah melemah 0,4 persen ke posisi Rp14.600 per dolar AS pada perdagangan Kamis (30/7) sore. Nilai tukar rupiah melemah 0,4 persen ke posisi Rp14.600 per dolar AS pada perdagangan Kamis (30/7) sore. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma).
Jakarta, CNN Indonesia --

Nilai tukar rupiah bertengger di posisi Rp14.600 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Kamis (30/7) sore. Posisi tersebut melemah 0,40 persen dibandingkan perdagangan Selasa (29/7) sore di level Rp14.542 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.653 per dolar AS atau melemah dibandingkan posisi kemarin yakni Rp14.570 per dolar AS.

Sore ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau melemah terhadap dolar AS. Yen Jepang menguat 0,15 persen, dolar Singapura melemah 0,15 persen, won Korea Selatan melemah 0,09 persen, yuan China melemah 0,03 persen, rupee India melemah 0,07 persen, dan dolar Taiwan melemah 0,09 persen.


Sebaliknya peso Filipina menguat 0,09 persen, ringgit Malaysia menguat 0,02 persen, dan baht Thailand menguat 0,08 persen.

Di sisi lain, mayoritas mata uang di negara maju masih bergerak variatif terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris menguat 0,10 persen dan dolar Australia menguat 0,71 persen. Sedangkan dolar Kanada melemah 0,59 persen dan franc Swiss melemah 0,23 persen.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi memprediksi perdagangan minggu depan, rupiah kemungkinan akan kembali menguat imbas dari pengumuman stimulus AS di kisaran Rp14.550-14.630.

Ibrahim mengatakan pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi kekhawatiran investor untuk berinvestasi ke negara emerging market menjelang rilis data produk domestic bruto (PDB) AS yang akan menunjukkan seberapa dalam resesi di negeri Paman Sam.

"Sehingga berpengaruh terhadap fluktuasi mata uang di pasar," ujar Ibrahim dikutip CNNIndonesia.com dari keterangan tertulisnya.

Proyeksi kebijakan Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang mengindikasikan akan mempertahankan kebijakan ultra longgar dalam waktu yang cukup lama juga mempengaruhi penguatan dolar AS.

Pelaku pasar menilai The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan 0 - 0,25 persen, dan kebijakan pembelian aset (quantitative easing/QE) selama diperlukan guna membangkitkan perekonomian AS.

"Artinya, kebijakan tersebut akan ditahan cukup lama, mengingat perekonomian AS masih jauh dari kata bangkit. The Fed melihat perekonomian sudah mulai pulih, tetapi masih sangat jauh dari level sebelum virus corona menyerang dunia," imbuhnya.

Sementara dari sisi internal, pasar masih menunggu kebijakan Gubernur DKI Jakarta terkait PSBB. Jika kembali terjadi lonjakan kasus Covid-19 maka Gubernur DKI Jakarta kemungkinan akan kembali menerapkan masa transisi kembali yang akan diberlakukan untuk 2 minggu ke depan.

"Penerapan ini akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di DKI Jakarta yang merupakan barometer ekonomi Indonesia sehingga sangat wajar kalau arus modal asing kembali keluar pasar walaupun di hari-hari sebelumnya mata uang rupiah begitu digdaya terhadap mata uang lainnya," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]



(age)