ESDM Kesulitan Capai Target Rasio Elektrifikasi karena Corona

CNN Indonesia | Kamis, 30/07/2020 20:12 WIB
Kementerian ESDM mengakui kesulitan mencapai target elektrifikasi karena wilayah yang jadi sasaran berada di pelosok dan virus corona. ESDM kesulitan mengejar target elektrifikasi karena virus corona. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Jojon).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan rasio elektrifikasi nasional pada semester I 2020 sebesar 99,09 persen. Pemerintah menargetkan rasio elektrifikasi dapat mencapai 100 persen tahun ini.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana rasio desa berlistrik juga belum menyentuh 100 persen. Tercatat, hingga akhir Juni 2020 rasio listrik masih sebesar 99,51 persen.

Rida bilang pihaknya kesulitan mencapai target karena wilayah yang belum mendapatkan aliran listrik berada di pelosok, sehingga sulit terjamah. Pemerintah mengaku butuh upaya lebih untuk menjangkau wilayah tersebut.


"Ada kemajuan yang pesat dari 2015 tapi tahun-tahun selanjutnya melandai. Sisanya kesulitan dijangkau oleh PT PLN (Persero). Dipikir mudah karena sisa sedikit untuk menyentuh target, ternyata pas ke lapangan butuh upaya lebih," ungkap Rida dalam video conference, Kamis (30/7).

Rida mengungkapkan masih ada 433 desa yang belum mendapatkan aliran listrik. Mayoritas berada di Papua dan Papua Barat.

"Kami awalnya sudah bekerja sama dengan banyak pihak untuk 433 desa itu tapi karena ada virus corona terhenti dulu sampai 2021, jadi kemungkinan capaian tidak sampai 100 persen," terang Rida.

Sementara, Kementerian ESDM mencatat realisasi mega proyek listrik 35 ribu Megawatt (MW) yang sudah beroperasi secara komersial (commercial operation date/COD) baru sebesar 23 persen atau setara dengan 8.187 MW per Juni 2020.

[Gambas:Video CNN]

Sementara, pembangkit listrik yang sedang konstruksi sebesar 54 persen atau 19.250 MW, proses pengadaan sebesar 2 persen atau 839 MW, perencanaan 2 persen atau 724 MW, dan kontrak belum kontraksi sebesar 19 persen atau 6.528 MW.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Jisman Hutajulu menambahkan ada potensi penundaan jadwal operasional proyek pembangkit listrik akibat pandemi virus corona. Hal ini seiring dengan penurunan permintaan listrik beberapa waktu terakhir.

Namun, ia belum bisa memastikan proyek mana saja yang akan ditunda operasionalnya. Kementerian ESDM sejauh ini masih berdiskusi dengan Kementerian Keuangan.

"Sampai sekarang PLN belum menyampaikan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang baru kepada kami," pungkas Jisman.

(aud/agt)