Alasan Rupiah Tak Gigit Jari di Tengah Kontraksi Ekonomi

CNN Indonesia | Kamis, 06/08/2020 20:17 WIB
Ekonom menilai rupiah perkasa di tengah kontraksi ekonomi karena kondisi tersebut sudah diprediksi sebelumnya. Ekonom menilai rupiah perkasa di tengah kontraksi ekonomi karena kondisi tersebut sudah diprediksi sebelumnya. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ekonom Indef Eko Listiyanto menilai menyebut nilai tukar rupiah tak keok di tengah kontraksi ekonomi. Bahkan, rupiah sempat menguat 0,51 persen ke posisi Rp14.550 per dolar AS pada saat rilis data pertumbuhan ekonomi terkontraksi Rabu (5/8) lalu.

Menurut dia, kenaikan tersebut disebabkan pasar telah memprediksi ekonomi bakal minus. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi minus 5,32 persen secara tahunan pada kuartal II, dan minus 1,26 persen pada semester I 2020.

"Kenapa sektor keuangan lebih adem? Karena memang sudah diprediksi ekonomi kuartal II negatif, hanya nilainya saja yang masih beda-beda," jelasnya, dalam diskusi virtual Indef, Kamis (6/8).


Selain itu, Eko menilai Indonesia masih memiliki kecukupan cadangan devisa (cadev). Bank Indonesia (BI) mencatat cadev pada akhir Juni 2020 sebesar US$131,7 miliar. Posisi cadangan devisa naik US$1,2 miliar dibandingkan Mei sebesar US$130,5 miliar.

Posisi cadev ini berbeda saat tekanan ekonomi pada krisis 1998 silam. Kala itu, cadev hanya sebesar US$14,44 miliar, sehingga rupiah meluncur hingga ke posisi Rp17 ribu per dolar AS. Sedangkan pertumbuhan ekonomi saat itu mencapai negatif dua digit, yakni minus 13,13 persen.

"Mungkin, kemarin juga dilakukan intervensi oleh BI. Upaya itu dilakukan oleh BI karena punya cadev yang lebih tinggi," imbuhnya.

Di samping itu, ia menilai suku bunga Indonesia masih menarik di mata investor asing. Suku bunga acuan BI sebesar 4 persen pada Juli.  

"Tetapi, kalau pertumbuhan ekonomi terus merosot image (citra), sektor keuangan juga akan terseret," tuturnya.

Usai menguat, mata uang Garuda melemah 0,24 persen menjadi Rp14.585 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Kamis sore ini. Namun, depresiasi ini ditengarai karena kekhawatiran memanasnya tensi AS-China, bukan karena kontraksi pertumbuhan ekonomi.

"Pergerakan mata uang di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia hari kembali dilanda kekhawatiran ketegangan hubungan AS-China," pungkas Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra.

[Gambas:Video CNN]



(ulf/bir)