Laba Rontok, Saudi Aramco Tetap Tebar Dividen

CNN Indonesia | Senin, 10/08/2020 11:30 WIB
Saudi Aramco mencatat penurunan laba drastis hingga 73,4 persen. Namun, BUMN migas Arab Saudi itu tetap membagikan dividen US$18,75 miliar. Saudi Aramco mencatat penurunan laba drastis hingga 73,4 persen. Namun, BUMN migas Arab Saudi itu tetap membagikan dividen US$18,75 miliar. Ilustrasi. (AFP/Hassan Ammar).
Jakarta, CNN Indonesia --

Saudi Aramco, perusahaan minyak raksasa Arab Saudi, mencatat penurunan laba sebesar 73,4 persen dari 92,6 miliar riyal atau setara Rp361,14 triliun (kurs Rp3.900 per riyal Arab) pada kuartal II 2019 menjadi 24,6 miliar riyal atau setara Rp95,94 triliun pada kuartal II 2020.

Kendati labanya rontok, perusahaan tetap berkomitmen membagikan dividen kepada pemilik saham sekitar US$18,75 miliar atau setara Rp270,1 triliun (kurs Rp14.600 per dolar AS) pada kuartal II 2020. 

CEO Saudi Aramco Amin Nasser mengatakan penurunan laba terjadi akibat berkurangnya permintaan minyak global dan merosotnya harga minyak hingga menyentuh level terendah dalam dua dekade terakhir.


Hal ini terjadi karena tekanan pandemi virus corona atau covid-19, sehingga nilai penjualan minyak para eksportir terbesar di dunia turun.

Menurut Nasser, penurunan permintaan utamanya berasal dari China, salah satu negara konsumen minyak Aramco.

Namun, ia memandang permintaan akan mulai meningkat sejalan dengan pemulihan ekonomi berkat pelonggaran kebijakan penguncian wilayah di sejumlah negara. 

"Lihat China, permintaan bensin dan solar mereka hampir mencapai level sebelum covid-19. Kami melihat bahwa Asia meningkat dan pasar lain (juga). Saat negara-negara mengurangi penguncian, kami memperkirakan permintaan meningkat," ungkap Nasser seperti dikutip dari aljazeera.com, Senin (10/8). 

Kendati laba tertekan, namun perusahaan yang berhasil mencatatkan rekor flotasi mencapai US$29,4 miliar saat pertama kali melantai di bursa Riyadh tahun lalu itu, tetap berkomitmen membagi dividen kepada para pemegang saham.

Targetnya, perusahaan akan menyebar dividen sebesar US$18,75 miliar pada kuartal II. Perusahaan menargetkan pembagian dividen mencapai US$75 miliar atau setara Rp1.095 triliun sepanjang tahun ini.

Menurut Nasser, target dividen tetap penting untuk dikejar agar bisa membantu pemerintah untuk mengelola defisit fiskal negara yang terletak di kawasan Timur Tengah itu. 

"Kami bermaksud untuk membayar US$75 miliar, bergantung persetujuan dewan dan kondisi pasar," jelasnya.

Di sisi lain, Saudi Aramco mencatat arus kas turun dari US$21,1 miliar pada kuartal I menjadi US$6,1 miliar pada kuartal II 2020. Penurunan arus kas cukup signifikan bila dibandingkan tahun lalu, yakni US$38 miliar pada kuartal I dan US$20,6 miliar pada kuartal II 2019.

Sementara, gearing ratio sekitar 20,1 persen pada akhir Juni 2020. Hal ini membuat perusahaan menangguhkan rencana akuisisi Saudi Basic Industries Corp dan konsolidasi utang bersih SABIC ke neraca Aramco. 

Analis sekaligus Kepala Penelitian di Al Rajhi Capital Mazen al-Sudairi memprediksi Aramco hanya akan mengantongi laba sekitar 31,3 miliar riyal pada paruh kedua tahun ini. Sementara, kebutuhan belanja modal diperkirakan berkisar US$25 miliar sampai US$30 miliar sampai akhir tahun. 

Menurut dia, kondisi keuangan Aramco sejatinya masih cukup kuat, meski terhantam dampak pandemi corona. Hal ini tercermin dari kekuatan kapitalisasi perusahaan di pasar modal, yaitu merupakan perusahaan publik paling bernilai kedua di dunia setelah Apple. 

"Ini adalah kuartal terburuk dalam sejarah modern industri minyak dan (Aramco) bertahan dengan angka yang sehat menunjukkan prospek yang sangat positif. Angka Aramco sehat dibandingkan dengan rekan global lainnya," imbuh dia. 

Bila dibandingkan dengan perusahaan minyak dunia lain, BP justru telah memotong setoran dividen mereka untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir. Begitu pula dengan Royal Dutch Shell yang juga memotong dividen untuk pertama kali sejak Perang Dunia kedua. 

[Gambas:Video CNN]



(uli/bir)