Ekonom Beri Catatan Asumsi Makro RAPBN 2021

CNN Indonesia | Jumat, 14/08/2020 17:20 WIB
Ekonom Core Yusuf Rendy Manilet menilai asumsi makro ekonomi RAPBN 2021 cukup realistif. Namun, target pertumbuhan ekonomi akan sulit dicapai. Ekonom Core Yusuf Rendy Manilet menilai asumsi makro ekonomi RAPBN 2021 cukup realistif. Namun, target pertumbuhan ekonomi akan sulit dicapai. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai asumsi makro ekonomi pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2021 (RAPBN 2021) cukup realistis. Namun, ia memberikan catatan pada target pertumbuhan ekonomi.

Untuk diketahui, target pertumbuhan ekonomi dipatok 4,5 persen-5,5 persen tahun depan. Target itu, melompat tinggi dari prediksi pemerintah tahun ini yakni minus 0,4 persen sampai 1 persen dengan titik tengah sedikit di atas nol persen.

"Dari pengalaman realisasi APBN sebelumnya saya kira level realistisnya itu tidak besar, sehingga menurut saya betul ekonomi bisa potensi tumbuh positif, tapi peluang tidak tercapainya target itu besar," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.


Alasannya, pertumbuhan ekonomi utamanya dalam masa konsolidasi ekonomi akibat Covid-19 sangat bergantung pada realisasi belanja pemerintah. Tahun depan, pemerintah mengalokasikan Rp2.747,5 triliun untuk belanja negara.

Ia mengakui, angka belanja negara tersebut cukup besar untuk mendongkrak ekonomi tahun depan. Namun, kata dia, berkaca dari pengalaman realisasi belanja negara sebelumnya selalu mengalami kendala.

"Permasalahan APBN tahun ke tahun ada di tataran realisasinya. Kalau pemerintah belum bisa menjalankan APBN tepat dan cepat seperti tahun sebelumnya, jadi perlu ditanyakan lagi target pertumbuhan ekonominya," imbuh Yusuf.

Kondisi serupa juga terjadi pada target inflasi tahun depan, yakni 3 persen. Menurutnya, realisasi inflasi sangat bergantung pada dana perlindungan sosial yang menjadi tumpuan mengungkit daya beli masyarakat. Tahun depan, pemerintah mengalokasikan Rp419,3 triliun untuk perlindungan sosial.

"Angka 3 persen itu relatif realistis dengan asumsi melihat pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Kalau memang betul pertumbuhan ekonomi 4,5 persen-5 persen, maka inflasi di 3 persen masih realistis," paparnya.

Sementara itu, ia menilai target nilai tukar rupiah di posisi Rp14.600 per dolar AS juga cukup realistis. Pasalnya, dalam pidatonya Jokowi menyatakan akan melakukan sejumlah upaya meliputi perluasan basis investor, penyempurnaan infrastruktur pasar Surat Berharga Negara (SBN), dan diversifikasi.

Yusuf menilai upaya-upaya itu bisa meningkatkan basis investor domestik atas kepemilikan SBN. Jadi, rupiah tidak mudah goncang ketika terjadi aliran modal asing keluar (capital outflow) lantaran basis investor domestik meningkat.

"Dengan berkurangnya kepemilikan asing di surat utang pemerintah maka volatilitas rupiah mengecil sehingga rentang target itu masih berada dalam tataran realistis," katanya.

[Gambas:Video CNN]

Namun, ia memberikan catatan pada target suku bunga SBN 10 tahun, yakni 7,29 persen. Menurunnya, angka tersebut masih bisa ditekan. Pasalnya, tren suku bunga baik di negara maju dan juga Indonesia, adalah tren suku bunga rendah.

"Ada peluang sebenarnya suku bunga ini bisa lebih rendah dari target pemerintah," tuturnya.

(ulf/sfr)