Alasan Ekonomi AS Cepat Pulih dari Pandemi Corona

CNN Indonesia | Kamis, 17/09/2020 23:20 WIB
Aktivitas perekonomian di beberapa negara bagian Amerika Serikat mulai pulih setelah terpukul pandemi virus corona selama enam bulan terakhir. Aktivitas perekonomian di beberapa negara bagian Amerika Serikat mulai pulih setelah terpukul pandemi virus corona selama enam bulan terakhir. Ilustrasi. (Anthony DELANOIX via Unsplash).
Jakarta, CNN Indonesia --

Aktivitas ekonomi di beberapa negara bagian Amerika Serikat mulai pulih setelah terpukul pandemi virus corona selama enam bulan terakhir.

Beberapa pemulihan tersebut yakni sektor real estate mulai berkembang pesat di Maine, angka pengangguran turun ke bawah 5 persen di Nebraska dan jam kerja karyawan UMKM yang mulai bertambah di Rhode Island.

Indeks Back to Normal yang dibuat oleh CNNBusiness dan Moody's Analytics menunjukkan ekonomi negara bagian sudah kembali beroperasi hampir 88 persen dari kondisi Maret sebelum pandemi.


Persentase tersebut menjadi yang tertinggi selama enam bulan terakhir. Meskipun belum pulih sepenuhnya, rebound negara-negara bagian ini juga termasuk yang terkuat di Amerika Serikat.

Lantas mengapa mereka pulih jauh lebih cepat daripada yang lain? 

Ekonom Moody Analytics Mark Zandi, Dante DeAntonio, dan Matt Colyar menggali data dan menemukan empat faktor penting yang membuat mereka pulih lebih cepat.

Pertama, negara bagian dengan sedikit kasus covid-19 mengalami pemulihan lebih cepat. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) bahwa ekonomi dunia masih bergantung dengan perkembangan kasus penularan virus corona.

"Pemulihan sedang berlangsung, menyusul pelonggaran dari kebijakan lockdown dengan pembukaan sebagian operasional bisnis. Namun, ketidakpastian masih tinggi dan kepercayaan masih rapuh," ungkap OECD.

Di Maine, aktivitas ekonomi telah kembali hampir 93 persen dari posisi Maret sebelum pandemi. Pemulihan ini sejalan dengan angka kasus virus corona di negara bagian ini yakni 366 kasus per 100 ribu penduduk.

Hal serupa terjadi di dua negara bagian lainnya dekat Maine, yakni Vermont dan New Hampshire.

Sebaliknya, perekonomian negara bagian Lousiana dengan angka infeksi tertinggi di AS yakni 3.406 kasus per 100 penduduk masih kolaps. Dalam Indeks Back to Normal, Lousiana menduduki peringkat ke-48 dengan persentase aktivitas ekonomi mencapai 73 persen.

Kedua, jumlah penduduk yang sedikit di pedesaan. Sehingga, aturan jaga jarak dan ruang terbuka lebih besar untuk bergerak lebih mudah dijalankan bagi beberapa negara bagian.

Hal tersebut terlihat dari negara bagian seperti South Dakota dan Nebraska dengan rebound cukup tinggi dibandingkan negara bagian padat penduduk seperti New York, Texas, dan California.

Kota-kota besar menghadapi tantangan yang lebih berat dalam mengurangi virus. Jutaan komuter tidak lagi naik angkutan umum dan seluruh kantor menjadi gelap. Itu merugikan bisnis yang melayani pekerja kantoran di pusat kota

Ketiga, tidak buru-buru membuka aktivitas perekonomian. Negara bagian seperti Alabama, Arizona, Texas, dan Florida yang pertama membuka kembali perekonomian selama pandemi hanya mendapatkan keuntungan ekonomi jangka pendek.

"Itu karena kasus virus corona dengan cepat melonjak di negara bagian itu. Akhirnya, gubernur memberlakukan kembali pembatasan pada bisnis dan pertemuan sosial," tulis DeAntonio dan Colyar dalam catatan penelitian seperti dikutip dari CNNBusiness.

Keempat, perekonomian mengandalkan sektor pariwisata. Satu negara bagian paling terpukul oleh anjloknya perjalanan adalah Hawaii. Saat ini Hawaii memiliki tingkat pengangguran yang diasuransikan tertinggi di Amerika Serikat.

Angka tersebut mencapai 20 persen pekerja per 22 Agustus. Jam kerja karyawan UMKM turun 50 persen dibandingkan Maret. Bahkan, reservasi restoran di negara bagian itu masih turun 98 persen dibandingkan sebelum pandemi per awal September lalu.

[Gambas:Video CNN]



(hrf/age)