PSBB, Serapan Kantor dan Mal di Jakarta Anjlok 58 Persen

CNN Indonesia | Kamis, 17/09/2020 13:52 WIB
Konsultan properti menyatakan serapan kantor dan pusat perbelanjaan anjlok parah akibat PSBB. Di kawasan CBD serapan anjlok sampai 58 persen. Serapan gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan di Jakarta anjlok akibat PSBB. Ilustrasi. (CNNIndonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Konsultan properti, Savills Indonesia menyatakan serapan perkantoran maupun pusat perbelanjaan di DKI Jakarta merosot drastis pada semester I 2020 kemarin. Hal itu terjadi akibat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilaksanakan dalam rangka mempersempit penyebaran virus corona.

Direktur Riset dan Konsultan Savills Indonesia Anton Sitorus mengatakan penurunan serapan kantor paling terasa terjadi di wilayah central business district (CBD). Penurunan mencapai 58 persen menjadi 38.500 meter persegi.

Sementara itu, untuk wilayah non CBD, serapan turun 20 persen menjadi 35.300 meter persegi.


"Jadi memang akibat dari kondisi keterbatasan di luar bagi karyawan, sehingga banyak kantor tutup mempengaruhi rencana dan ekspansi perusahaan untuk menambah ruangan kantor," ujarnya dalam Savills Indonesia Media Briefing, Kamis (17/9).

Akibat kondisi tersebut, tingkat kekosongan (vacancy) perkantoran di wilayah CBD secara rata-rata mencapai 25 persen dan non CBD 27 persen. Untuk wilayah CBD, kekosongan paling banyak disumbang oleh gedung grade A, lantaran pasokannya 55 persen atau yang paling banyak.

"Pasokan gedung perkantoran di daerah CBD juga didominasi dengan gedung kategori grade A, dimana memang kebanyakan developer (pengembang) berlomba membangun gedung yang kualitasnya bagus. Harapannya, bisa menarik penyewa baru maupun eksisting untuk berpindah ke lokasi merek dengan perbaikan kualitas dari kantor sebelumnya," paparnya.

Jika dilihat dari lokasi, pasokan paling banyak ruang perkantoran CBD berasal dari kawasan Sudirman sebanyak 42 persen dan Kuningan 33 persen. Anton memprediksi serapan ruang kantor di CBD masih mengalami tekanan sampai akhir tahun akibat pandemi, sehingga kekosongan pun diramal bertambah.

[Gambas:Video CNN]

Kondisi itu berbanding terbalik dengan pasokan ruang kantor yang justru terus bertambah hingga akhir tahun.

"Diperkirakan sampai akhir tahun penurunannya sampai 30 persen-35 persen, dengan proyeksi demikian tingkat vacancy akan meningkat tahun ini dan tahun depan. Pasokan masuk cukup tinggi, sehingga tingkat vacancy diprediksi 27 persen," ucapnya.

Sedangkan untuk wilayah non CBD, tingkat kekosongan paling tinggi berada di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Pusat. Ia menuturkan proyeksi perkantoran non CBD tak banyak berbeda dengan CBD yang masih terus tertekan hingga akhir tahun.

Alasannya, pasokan perkantoran pada kawasan non CBD terus bertambah sampai 500 ribu meter persegi dalam beberapa tahun ke depan. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 persen didominasi oleh perkantoran di kawasan Jakarta Selatan.

"Kami perkirakan tingkat vacancy juga akan naik tahun ini dan tahun depan di kisaran antara 28 persen sedikit lebih tinggi dari CBD. Tapi, diperkirakan seiring dengan menurunnya juga pasokan baru, tingkat vacancy akan kembali menurun di 2022 dan selanjutnya," ucapnya.

Serapan Pusat Perbelajaan

Tak hanya ruang kantor, serapan pada pusat perbelanjaan juga anjlok hingga 77 persen pada paruh pertama 2020. Anton mengakui kondisi tersebut tidak lepas dari kebijakan PSBB di ibu kota.

"Sektor pusat perbelanjaan sewa di Jakarta ini memang sejak diberlakukannya PSBB itu kondisinya cukup challenging (menantang). Di mana traffic pengunjung yang sangat minim sangat berpengaruh kepada tenant yang melakukan usaha, sehingga ekspansi ritel baru akhirnya boleh dibilang pending dengan kondisi pandemi seperti sekarang ini," ujarnya.

Ia menuturkan sebetulnya serapan ruang pada pusat perbelanjaan mulai naik tahun lalu. Namun, balik arah turun sangat dalam karena pandemi.

Di sisi lain, pusat perbelanjaan cukup beruntung karena pasokan sangat minim sepanjang semester I 2020. Jadi, tingkat kekosongannya hanya 10 persen, sementara tingkah hunian stabil di kisaran 90 persen.

Namun, berkaca dari kondisi saat ini, ia memprediksi tingkat kekosongan bertambah hingga akhir tahun lantaran banyak penyewa tenant yang memutuskan untuk hengkang.

"Dan ini tentu akan memberikan dampak pada vacancy yang saat ini berada di sekitar 10 persen mungkin akan naik sampai 12 persen -13 persen sampai dengan akhir tahun ini," ucapnya.

(ulf/agt)