Sri Mulyani Beberkan Strategi 'Ngutang' pada 2021

CNN Indonesia | Selasa, 29/09/2020 20:22 WIB
Menkeu Sri Mulyani membeberkan strategi penarikan utang pada 2021. Salah satunya, menjaga imbal hasil agar tetap rendah. Menkeu Sri Mulyani membeberkan strategi penarikan utang pada 2021. Salah satunya, menjaga imbal hasil agar tetap rendah. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan sejumlah strategi penarikan utang untuk membiayai sejumlah program pemerintah pada tahun depan.

Ani, panggilan akrabnya, menerangkan nantinya pemenuhan utang didominasi oleh penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) maupun Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan harga yang kompetitif baik di luar negeri maupun dalam negeri.

Karena itu, menurutnya, stabilitas dalam negeri harus terus dijaga dengan baik agar yield atau imbal hasil surat berharga pemerintah tetap rendah.


"Kama akan jaga supaya kita masuk kelompok emerging market yang tetap bertahan dalam rating yang cukup baik meskipun di seluruh dunia banyak sekali mengalami downgrade rating," imbuhnya dalam konferensi pers APBN 2021, Selasa (29/9).

Ani menuturkan supply-demand di pasar keuangan serta yield SBN perlu tetap diperhatikan karena akan berdampak pada pemenuhan pembiayaan utang dan beban fiskal.

Diketahui, sejak Maret 2020 kondisi pandemi telah menyebabkan gejolak pasar keuangan global sehingga yield SBN meningkat signifikan.

Untungnya, sejak Juni lalu yield SBN mulai membaik seiring berkurangnya volatilitas dan kembalinya kepercayaan pelaku pasar keuangan.

"Banyak sekali yang mengalami kemerosotan rating akibat suasana pandemi yang meningkatkan beban utang dan defisit mereka. Kami berusaha terus menunjukkan komitmen menjaga APBN kita sehingga akan tetap bisa merespons kondisi extra ordinary, namun dalam jangka panjang tetap menjaga APBN kita sehat dan sustainable," tuturnya.

Nantinya, pemerintah juga akan mengoptimalisasi lelang SBN dengan mempertimbangkan partisipasi Bank Indonesia (BI), baik dalam lelang reguler, green shue option maupun private placement.

"Bank Indonesia akan tetap berpartisipasi seperti yang diatur dalam SKB kita yang pertama," terang Ani.

Di samping itu, pengadaan uang tunai valuta asing dengan memanfaatkan fleksibilitas antar instrumen utang untuk mendukung kebutuhan pembiayaan juga akan dilakukan.

Terakhir pemerintah tetap bakal menerbitkan SBN ritel sebagai upaya pendalaman pasar dengan mempertimbangkan minat investor domestik. "Kami melakukan pinjaman dan melakukan issue dalam bentuk ritel," tandasnya.

[Gambas:Video CNN]



(hrf/bir)