Corona, Daya Tahan Perusahaan Logistik Maksimal 6 Bulan

CNN Indonesia | Rabu, 30/09/2020 14:22 WIB
Pelaku usaha memaparkan rata-rata perusahaan logistik hanya mampu bertahan dalam tiga hingga enam bulan saja di tengah pandemi corona. Pelaku usaha memaparkan rata-rata perusahaan logistik hanya mampu bertahan dalam tiga hingga enam bulan saja di tengah pandemi corona.Ilustrasi logistik. (ANTARA FOTO/Budi Candra Setya)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sektor logistik menjadi salah satu sektor yang terdampak cukup dalam akibat pandemi covid-19. Bahkan, secara rata-rata perusahaan logistik hanya mampu bertahan dalam tiga hingga enam bulan saja.

Direktur Eka Sari Lorena Group (ESL Group) Eka Sari Lorena Soerbakti mengatakan kemampuan masing-masing perusahaan bertahan di tengah pandemi ini beragam. Namun, berdasarkan data dari asosiasi rata-rata kemampuan perusahaan bertahan akibat covid-19 hanya 3-6 bulan.

"Kalau informasi dari organisasi yang ada, average (rata-rata) perusahaan bisa tahan tiga sampai enam bulan ke depan. Tidak bisa disamaratakan karena setiap perusahaan punya kemampuan untuk transformasi. Tapi, secara average berdasarkan informasi di Kadin, perusahaan logistik itu tiga sampai enam bulan," ujarnya dalam acara Logisly Online Media Session, Rabu (30/9).


Sejumlah faktor yang menurutnya mempengaruhi daya tahan perusahaan meliputi sasaran pelanggan, jenis usaha logistik yang dilakoni, dan jumlah cadangan modal yang dimiliki perusahaan. Sebab, tidak bisa dipungkiri perusahaan terpaksa menggunakan tabungan mereka untuk mempertahankan kondisi keuangan di tengah covid-19.

Kondisi Pelaku Usaha Logistik

Dalam kesempatan itu, ia juga menggambarkan kondisi pelaku usaha logistik saat ini. Menurutnya, sebagian perusahaan mampu menjaga kinerja, bahkan cenderung naik. Sebaliknya, ada perusahaan yang berdarah-darah.

Khusus untuk ESL Group, ia mengungkapkan terjadi penurunan pada pengiriman logistik melalui udara. Kondisi ini disebabkan maskapai mengurangi jumlah penerbangan mereka.

"Tidak beroperasinya maskapai secara besar-besaran itu sangat mempengaruhi pengiriman udara, kalau angkutan udara untuk penumpang turun 90 persen, kalau barang 70 persen-80 persen," ucapnya.

Namun, angkutan logistik dan udara kondisi cenderung lebih baik. Ia mengatakan ESL Group cukup beruntung karena mayoritas bisnis logistik berbasis pada angkutan logistik darat. Namun, ia tidak merincikan secara gamblang kinerja dari angkutan logistik ESL Group.

"Jadi, memang yang bertahan signifikan saat ini melalui darat. Kami bekerja sama dengan KAI dan perusahaan lainnya untuk kolaborasi melakukan diversifikasi pada bisnis kami," tuturnya.

Oleh sebab itu, ia menilai pemerintah hendaknya memberikan insentif pada sektor logistik guna meringankan beban biaya pelaku usaha. Salah satunya keringanan maupun bebas biaya uji KIR.

"Apa yang diharapkan dari policy maker (pemerintah) pada pelaku usaha logistik yaitu insentif yang cepat dan tepat, misalnya pengadaan truk itu beban biayanya besar sekali, bunganya juga sama seperti komersial. Juga banyak hal lain seperti kita harus melakukan pengecekan kendaraan KIR, kalau di luar negeri KIR gratis kalau di Indonesia KIR mahal dan harus antri," tutupnya.

Sebaliknya, Co-Founder&CEO Logisly Roolin Njotosetiadi mengaku bisnisnya justru mampu tumbuh di tengah pandemi ini. Logisly sendiri adalah platform logistik digital yang menghubungkan pesanan digital dari shipper kepada pengusaha armada truk di seluruh Indonesia.

"Peningkatan kami di kuartal I dan kuartal II sampai dua digit, tapi ini bukan masa untuk tumbuh namun lebih mementingkan kesehatan perusahaan," ucapnya.

Kunci pertumbuhan itu, kata dia, adalah merambah bisnis pada sektor yang masih tumbuh positif saat pandemi, antara lain komunikasi dan informasi, farmasi, dan layanan sosial.

"Kami membantu pemerintah salurkan bantuan sosial untuk beras dan minyak goreng, jadi dari gudang Perum Bulog kami ke RT RW di Jakarta. Kemudian di telekomunikasi, kami membawa alat-alat untuk telekomunikasi," katanya.

Berdasarkan lapangan usaha, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan sektor transportasi dan pergudangan menjadi sumber kontraksi tertinggi untuk ekonomi nasional semester II 2020 yang tercatat minus 5,32 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan sektor transportasi dan pergudangan tercatat minus hingga 30,84 persen sepanjang April-Juni 2020. Realisasi itu berbanding terbalik dengan kuartal II 2019 yang tumbuh 5,88 persen.

"Sektor transportasi terdampak luar biasa karena pandami virus corona. Ini karena ada imbauan work from home (WFH) dan school from home (SFH) sebagai salah satu langkah pencegahan penyebaran pandemi virus corona," ungkap Suhariyanto.

Selain itu, penurunan sektor transportasi juga terjadi karena kebijakan larangan mudik saat Idul Fitri tahun ini. Kemudian, penurunan aktivitas kargo pada masa pandemi juga mempengaruhi kinerja transportasi

[Gambas:Video CNN]



(ulf/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK