Merger Bank Syariah BUMN, Solusi Kendala Perbesar Pasar

CNN Indonesia | Selasa, 13/10/2020 13:22 WIB
Merger bank syariah BUMN dinilai bakal menjadi solusi tantangan industri bank syariah di dalam negeri, salah satunya memperbesar pasar industri bank syariah. Merger bank syariah BUMN dinilai bakal menjadi solusi tantangan industri bank syariah di dalam negeri, salah satunya memperbesar pasar industri bank syariah. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --

Merger bank syariah BUMN sejatinya bukan rencana baru. Keinginan ini sudah jadi gagasan yang diamini oleh banyak pihak, dari pemerintah hingga ekonomi, sejak beberapa tahun terakhir.

Ada beberapa pertimbangan yang sempat mempengaruhi. Pertama, rencana pembentukan holding para bank konvensional BUMN. Hal ini sedikit banyak menurunkan harapan agar bank syariah pelat merah yang merupakan anak usaha para anggota Himpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara) bisa juga dilakukan.

Kedua, keinginan memperbesar pasar industri bank syariah di dalam negeri. Sebab, banyak sekali tantangan di industri bank syariah di dalam negeri, mulai dari permodalan, dana kelola, hingga persaingan bisnis yang jauh mengekor bank konvensional.


Padahal, potensi pasar perbankan syariah digadang-gadang sangat besar. Bahkan, tak perlu muluk sampai ke pasar syariah dunia, di dalam negeri pun sangat besar karena mayoritas penduduk Indonesia merupakan muslim.

Singkatnya, pemerintah pun akhirnya berusaha mengeksekusinya sejak 2019. Pemerintah melalui Bambang P.S. Brodjonegoro yang kala itu menjabat sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional sekaligus Kepala Bappenas meminta Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS), yang memiliki direksi baru pada awal tahun lalu, untuk mendorong pembentukan bank syariah BUMN.

Harapannya, pembentukan satu bank syariah BUMN dengan kekuatan besar bisa menjadi pemimpin penggarapan pasar di dalam negeri. Caranya, dengan merger tiga bank syariah BUMN dan satu unit usaha.

Mereka adalah PT Bank Mandiri Syariah, PT Bank BNI Syariah, PT Bank BRI Syariah Tbk, dan Unit Usaha Syariah (UUS) PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN.

"Salah satu cara terbaik ya merger dari anak-anak perusahaan (yang sudah ada), tapi mungkin itu perlu waktu karena saham dimiliki oleh masing-masing induknya," kata Bambang kala itu, dikutip Selasa (13/10).

Kendati begitu, Bambang tak mematok target waktu realisasi. Yang terpenting, KNKS bisa segera merumuskan tata hukum pengalihan aset, pembentukan perusahaan terpisah dari induk, dan lainnya agar merger terwujud.

Selang beberapa bulan, KNKS di bawah Direktur Eksekutif Ventje Rahardjo Soedigno menelurkan kajian konversi, merger, holding, dan pembentukan bank BUMN syariah. Dalam kajiannya, ada beberapa masalah yang tengah dihadapi industri bank syariah, seperti keterbatasan modal, tingginya biaya dana (cosf of fund), hingga selalu berada di bawah 'pamor' bank konvensional.

Dari masalah ini, KNKS membentuk beberapa skenario pembentukan bank syariah dan salah satu alternatifnya adalah merger bank syariah BUMN. Kendati begitu, langkah ini punya keuntungan dan kekurangan, namun biaya yang dibutuhkan relatif lebih rendah.

"Alternatif metode ini diharapkan akan menjadi strategi jangka menengah setelah anchor bank syariah BUMN yang cukup besar tersedia," tulis hasil kajian KNKS yang dikutip CNNIndonesia.com.

Hitung-hitungan KNKS, menyatukan tiga bank syariah BUMN dan satu unit usaha syariah hanya perlu biaya sekitar Rp10-15 miliar untuk biaya konsultasi, legal, dan lainnya. Keuntungannya berupa efisiensi kebijakan strategis perbankan syariah ke depan, solusi meningkatkan permodalan sehingga mendapat akses transaksi dan pembiayaan yang besar, hingga inklusi perbankan syariah.

Kekurangannya, menimbulkan delay bisnis karena karena proses adaptasi nilai, budaya, struktural, dan sistem. Lalu, tidak memberikan nilai tambah bagi perbankan syariah alias tetap BUKU III dan bank induk dikhawatirkan tidak ingin melepas anak usahanya.

Sementara alternatif lain dengan keuntungan dan kelebihannya, memiliki biaya yang lebih tinggi. Misalnya, konversi bank syariah BUMN yang sudah ada perlu biaya Rp10-20 miliar, mendirikan bank syariah baru kurang lebih Rp200-500 miliar, dan membeli bank swasta syariah yang sudah ada butuh biaya akuisisi Rp3-4 triliun dan due diligence Rp30-50 miliar.

Hanya saja, kalau dibanding mengkonversi bank swasta konvensional menjadi syariah dan menjadikan bank syariah BUMN terbesar sebagai pelopor jauh lebih murah. Masing-masing hanya butuh biaya Rp8-10 miliar dan tanpa biaya, namun butuh waktu lebih lama.

Hasil kajian ini kemudian diberikan ke induk bank syariah, yaitu para bank BUMN dan Kementerian BUMN. Sejalan dengan kajian KNKS, Menteri BUMN Erick Thohir rupanya mengamini rencana ini.

Bahkan, ia menargetkan bisa selesai pada Februari 2021. Harapannya, bank syariah BUMN dapat menjadi bank alternatif utama bagi pasar muslim di Indonesia.

"Saya mau menjadikan syariah agar ada alternatif, jangan sampai Indonesia berpenduduk muslim terbesar tidak punya fasilitas itu. Kalau syariah dimergerin akhirnya bisa jadi top it bank, menjadi alternatif pilihan," kata Erick yang kini juga tengah menjabat sebagai Wakil Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI).

Hasilnya, saat ini merger tiga bank syariah dan satu unit usaha sudah di depan mata. Para pihak akan mengumumkan soal penandatanganan Conditional Merger Agreement Bank BUMN Syariah pada sore ini. Begitu juga dengan langkah-langkah merger ke depan juga akan diumumkan.

Bila sudah digabungkan, minimal aset para bank syariah BUMN akan mencapai Rp245,87 triliun. Total aset ini merupakan catatan terakhir dari masing-masing bank per kuartal II 2020.

Terdiri dari aset BRI Syariah sebesar Rp49,6 triliun, BNI Syariah Rp50,78 triliun, Bank Syariah Mandiri Rp114,4 triliun, dan UUS BTN Rp31,09 triliun. 

[Gambas:Video CNN]



(uli/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK