Corona, Defisit Anggaran AS Bengkak 218 Persen Jadi US$3,1 T

CNN Indonesia | Sabtu, 17/10/2020 07:08 WIB
Defisit anggaran Amerika Serikat (AS) menembus US$3,1 triliun per akhir September 2020. Angka itu jauh di atas defisit saat krisis 2009, US$1,4 triliun. Defisit anggaran Amerika Serikat (AS) menembus US$3,1 triliun per akhir September 2020. Pelebaran terjadi seiring meningkatnya belanja dan turunnya penerimaan. llustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Defisit anggaran Amerika Serikat (AS) melesat 218 persen menjadi US$3,1 triliun hingga akhir September 2020. Kenaikan itu terjadi karena pembengkakan belanja untuk membantu perekonomian di tengah pandemi virus corona.

Dilansir AFP, Sabtu (17/10), realisasi defisit itu lebih dari dua kali lipat dibandingkan saat krisis keuangan global pada 2009. Kala itu, dompet pemerintah AS tekor US$1,4 triliun.

Kementerian Keuangan AS mengungkapkan kinerja perusahaan yang babak belur membuat belanja meningkat dan penerimaan pajak turun.


Untuk menutup pelebaran defisit, utang pemerintah AS meningkat menjadi US$26,9 triliun. Angka itu lebih besar dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) negeri Paman Sam yang susut pada kuartal II lalu ke level di bawah US$20 triliun.

Sebelum pandemi, selisih antara pendapatan dan belanja pemerintahan Trump sudah meningkat. Tahun ini, defisit anggaran untuk pertama kalinya tembus US$1 triliun menyusul kebijakan penurunan tarif pajak sejak akhir 2017 lalu.

Kondisi fiskal sedikit terbantu oleh tingkat suku bunga pinjaman hampir nol persen yang membuat pembayaran bunga utang turun 9 persen atau US$50 miliar.

Gedung Putih menilai pembengkakan defisit merupakan konsekuensi dari langkah cepat Presiden Donald Trump untuk mengurangi dampak pandemi terhadap warga AS.

[Gambas:Video CNN]

"Di bawah kepemimpinan Presiden Trump, ekonomi mulai pulih kembali," ujar Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dan Kepala Anggaran Gedung Putih Russel Vought dalam pernyataan bersama.

Mnuchin menambahkan pemerintah tetap berkomitmen untuk mendukung pekerja, keluarga, dan perusahaan AS. Ia juga menjamin pemulihan ekonomi akan berkelanjutan.

Selama beberapa pekan terakhir, pembicaraan terkait paket stimulus baru buntu di Kongres. Jika lolos, paket itu akan menambah stimulus senilai hampir US$3 triliun yang telah dikucurkan pada awal pandemi.

(afp/sfr)