ANALISIS

Semrawut Saldo Rp20 Miliar Atlet e-Sport Raib di Maybank

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Kamis, 12/11/2020 06:59 WIB
Ekonom menilai pembobolan rekening Rp20 miliar di Maybank tak lazim, baik dari kelalaian nasabah dan oknum bank yang memanfaatkan kepercayaan nasabah. Ekonom menilai pembobolan rekening Rp20 miliar di Maybank tak lazim, baik dari kelalaian nasabah dan oknum bank yang memanfaatkan kepercayaan nasabah. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --

Insiden pembobolan rekening bank kembali terjadi. Kali ini, menimpa seorang atlet e-sport Winda Lunardi dan sang ibu, Floleta, yang memarkir dana mereka di Maybank Indonesia.

Tidak tanggung-tanggung, dana yang diklaim raib mencapai Rp20 miliar dari dua rekening, masing-masing milik Winda Rp15 miliar dan Floleta Rp5 miliar.

Winda bercerita mulai membuka rekening pada 2015 lalu. Saat itu, ia memilih membuka rekening tanpa buku tabungan, tapi rekening koran.


Rekening yang dibuka Winda juga tanpa kartu ATM. Dengan demikian, nasabah harus ke cabang Maybank Indonesia jika hendak menarik dana dari tabungan tersebut.

Sejak tabungan dibuka pada 2015 lalu hingga awal tahun ini, ia mengaku tak pernah mengecek saldo secara langsung ke pihak bank. Ia hanya memantau lewat rekening koran yang dikirimkan pihak bank setiap bulan.

Hingga akhirnya, sang ibu berniat mengambil dana di rekening pada Februari 2020 lalu. Ibu dari Winda datang ke cabang Maybank di kawasan Mangga Dua.

Sesampainya di cabang Maybank itu, sang ibu diberitahu petugas bahwa uangnya di rekening hanya tersisa Rp17 juta. Sementara, rekening Winda tinggal Rp600 ribu.

"Kami sudah menabung dari 5 tahun lalu. Jadi, dari 2015 kami tuh menabung. (Rekening koran tiap bulan) kami dapat, jadi yang diduga selama ini rekening koran yang kami dapat itu ternyata rekening koran palsu," cerita Winda kepada wartawan di Mabes Polri, dikutip Kamis (12/11).

Dalam wawancara dengan TVOne, pihak Winda menyatakan jenis rekening yang dibuka di Maybank hanya produk tabungan biasa. Namun, pihak bank memang menawarkan bunga cukup tinggi, yakni 9 persen.

Setelah ia menabung, rekening koran yang ia dapatkan setiap bulan memperlihatkan bahwa jumlah bunga yang masuk sesuai dengan yang dijanjikan pihak Maybank. Makanya, ia tak pernah mempermasalahkan tabungannya di Maybank.

"Waktu itu orang tua saya dapat bunga khusus, 9 persen, jadi tertarik untuk menabung di Maybank, dananya saat itu benar-benar masuk, jadi saya pikir aman dan harusnya memang dilindungi oleh bank," kata Winda dalam wawancara bersama awal November lalu.

Setelah tahu dananya hilang, Windak sontak meminta penjelasan dari Maybank Indonesia. Namun, ia mengaku belum ada kejelasan dan akhirnya menempuh jalur hukum.

Bareskrim pun telah menetapkan Kepala Maybank Cabang Cipulir berinisial A sebagai tersangka kasus dugaan pembobolan saldo tabungan Rp20 miliar itu.

Pengacara Hotman Paris Hutapea selaku kuasa hukum Maybank Indonesia, melihat hal berbeda. Ia mempertanyakan beberapa keanehan atas kasus hukum kliennya melawan Winda.

Hotman menerangkan ada aliran dana dari rekening Winda ke Prudential lewat transaksi transfer sebesar Rp6 miliar untuk pembelian polis asuransi atas nama Winda.

[Gambas:Video CNN]

Dengan indikasi ini, Hotman menduga Kepala Maybank Cabang Cipulir berinisial A melakukan praktik bank dalam bank dengan mengakses uang milik nasabah.

Sebab, uang yang dibelikan polis asuransi itu justru ditransfer ke rekening ayah Winda bernama Herman Lunardi sebesar Rp4,8 miliar. Ia meminta agar penyidik turut mendalami temuan itu.

Ekonom Indef Eko Listyanto menilai setiap bank memang menyediakan layanan rekening koran. Ini berarti, nasabah tak mendapatkan buku tabungan. Rekening koran bentuknya akan lebih besar dibandingkan dengan buku tabungan biasa.

Namun, produk tabungan dengan rekening koran dan tabungan biasa sebenarnya tak berbeda. Hanya saja, cara pengecekannya yang berbeda.

"Rekening koran sama seperti buku tabungan, lebih lebar. Rekening koran juga bisa menjelaskan detail transaksi. Produk tabungannya biasa," ucap Eko kepada , Kamis (12/11).

Rekening koran diberikan kepada nasabah setiap bulan. Nasabah tak perlu ke bank karena rekening koran umumnya dikirim ke kediaman nasabah.

Namun, ia berpendapat apa yang terjadi antara Winda dan Maybank Indonesia tidak lazim. Seharusnya, pihak Winda tetap mengecek jumlah tabungan yang ada di bank langsung ke pihak perbankan, bukan hanya melihat di rekening koran.

"Mungkin, nasabah menerima rekening koran setiap bulan, tapi seharusnya tetap pro aktif, mengecek secara berkala," kata Eko.

Anehnya lagi, Winda mengaku tak memegang buku tabungan dan kartu ATM karena memilih layanan rekening koran. Sementara, Hotman menyatakan Kepala Cabang Maybank Cipulir A mengaku bahwa dirinya memegang buku tabungan dan ATM korban.

Eko menilai ini tak lazim. Sebab, kode etik perbankan tak pernah mengizinkan pihak bank memegang buku tabungan dan ATM nasabah dalam waktu yang lama, karena bisa menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan.

Maka, jika pihak bank sampai memegang buku tabungan dan ATM nasabah, ini adalah hal terlarang. Eko menyatakan ini bisa terjadi karena dua hal.

Pertama, ada oknum dari pihak Maybank yang memang sengaja menipu nasabah sejak awal, sehingga tak memberitahu secara rinci hak-hak apa saja yang dimiliki pihak Winda sebagai nasabah.

Dengan demikian, buku tabungan dan kartu ATM Winda selama ini dipegang oleh tersangka. Alhasil, tersangka bisa bebas mengambil uang Winda.

Kedua, Eko menduga pihak Winda lalai. Korban tak kritis dan tak mengecek tabungannya secara berkala di bank, sehingga dimanfaatkan oleh oknum di Maybank.

Sejauh ini, pihak Bareskrim Polri menduga Kepala Maybank Cabang Cipulir berinisial A yang menjadi tersangka melakukan modus dengan iming-iming keuntungan lewat skema tabungan berjangka.

Korban sempat dijanjikan dengan keuntungan hingga 10 persen. Bareskrim Polri menyatakan tersangka menawarkan kepada Winda untuk membuka rekening berjangka yang sebenarnya fiktif.

"Tapi sekali lagi, ini harus benar-benar ada kejelasan dari sisi hukum. Setelah itu, akan terlihat apakah ini kelalaian nasabah atau memang niat jahat dari bank-nya, Maybank atau oknumnya," terang Eko.

Sementara, Ekonom Perbanas Institute Piter Abdullah menyatakan nasabah memang bisa memilih antara buku tabungan atau rekening koran. Biasanya, rekening koran akan menunjukkan informasi yang lebih rinci dibandingkan buku tabungan.

Piter bilang rekening koran bisa diantar ke rumah atau lewat e-mail. Namun, laporan itu diberikan hanya satu kali dalam sebulan.

Meski pihak Winda memilih rekening koran, tapi Piter menilai seharusnya Winda mengecek tabungan mereka secara berkala. Apalagi, nominal dalam tabungan tersebut jumlahnya signifikan.

"Masa 5 tahun tidak dilihat sama sekali. Ini aneh bin ajaib," imbuh Piter.

Dengan kelalaian nasabah, maka oknum di bank dengan mudah memanfaatkan situasi. Ia menduga tersangka membobol rekening Winda dengan tanda tangan palsu.

"Bayangan saya, ini pembobolan oleh orang internal. Jadi benar-benar mengandalkan kelalaian nasabah, karena nasabah tidak cek uangnya, jadi dilakukan transaksi palsu, surat penarikan atau pencairan dipalsukan," kata Piter.

Tak Buat Rush di Maybank

Pun demikian, Eko menilai kasus pembobolan rekening Winda di Maybank diprediksi tidak akan membuat penarikan dana besar-besaran (rush) di bank grup Malayan Banking Berhard tersebut.

"Ini hanya terkait dengan satu kasus, ada oknum di dalamnya. Ini tidak berdampak sistemik, tidak ada berita penarikan dana besar-besaran dari Maybank kan sejauh ini," imbuh Eko.

Lagi pula, lanjut dia, kasus pembobolan rekening ini juga langsung ditanggapi oleh pihak Maybank dan diurus oleh kepolisian. Tetapi, Eko menegaskan kasus ini harus tuntas agar publik tak berspekulasi.

"Karena mau bagaimana pun, orang kan sekarang lebih hati-hati. Jangan sampai kasus ini berdampak pada industri perbankan, meski sejauh ini tidak ada dampak sistemik," jelas Eko.

Ia menyatakan masyarakat harus lebih jeli dan kritis ketika hendak membuka rekening di bank. Jangan sampai, masyarakat tidak tahu hak-haknya sebagai nasabah perbankan.

Nasabah juga bisa mengecek jumlah tabungannya di perbankan secara berkala. Tak harus ke bank, tapi nasabah bisa memantau lewat internet banking yang bisa dibuka 24 jam.

"Jangan terlalu percaya, nanti jadi dimanfaatin. Install (unduh) mobile banking, itu 24 jam, jadi bisa tahu," pungkas Eko.

(bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK