Bos Indosterling Sudah Jadi Tersangka Kasus Gagal Bayar

CNN Indonesia | Selasa, 17/11/2020 10:14 WIB
Bos Indosterling Optima Investa Sean William Henley sudah ditetapkan jadi tersangka oleh Mabes Polri 30 September terkait kasus gagal bayar dana nasabah. Direktur Indosterling Optima Investa (IOI) Sean William Henley sudah ditetapkan jadi tersangka kasus gagal bayar dana nasabah. Ilustrasi. (Unsplash/Pixabay).
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur PT Indosterling Optima Investa (IOI) Sean William Henley sudah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan tindak pidana operasional dan keuangan oleh Bareskrim Polri Cq Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus pada 30 September 2020.

Informasi disampaikan Tim Kuasa Hukum William, Hardodi Law Firm lewat surat klarifikasi bernomor Ref_19/HDL/LTR/XI/2020 tertanggal 19 November 2020 yang dipublikasi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

"Kami jelaskan terkait pemberitaan media massa terkait dengan ditetapkannya Bapak (William) sebagai tersangka oleh Bareskrim Polri Cq Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus benar adanya," seperti dikutip dari surat tersebut pada Selasa (17/11).


Namun, Hardodi selaku pengacara William menyebut penetapan tersangka bukan berarti kliennya telah terbukti melakukan tindak pidana yang dituduhkan.

Status tersangka, katanya, diberikan karena penegakan hukum di RI mengenal asas praduga tidak bersalah.

Dalam tanggapan Hardodi terhadap pemberitaan BEI bernomor S-06953/BEI.PP1/11-2020 tersebut, ia bilang saat ini proses hukum perkara telah memasuki tahap penyidikan di Bareskrim Polri Cq Direktorat Tindak Pidana Ekonomi.

Adapun upaya hukum yang telah ditempuh pihaknya adalah menyelesaikan kewajiban melalui Putusan Homologasi kepada nasabah melalui Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 174/PDT.SUS-PKPU/2020/PN.NIAGA.JKT.PST. tanggal 2 Agustus 2020.

Juga mengikuti proses hukum sesuai hukum acara pidana, melakukan pendekatan dengan nasabah yang terikat dengan putusan PKPU, dan menyiapkan langkah Hukum Praperadilan.

Diketahui, IOI didugat oleh 58 nasabah lanjut usia (lansia) atas kasus gagal bayar senilai Rp95 miliar. Gugatan itu sebagai buntut kasus dugaan gagal bayar perusahaan terhadap nasabah atas kepemilikan produk investasi High Yield Promissory Notes (HYPN).

Andreas, kuasa hukum para nasabah, mengatakan gugatan pengembalian dana ini sebenarnya sudah dilakukan sejak April 2020 lalu ketika Indosterling tidak lagi membayarkan imbal hasil alias bunga bulanan kepada para nasabah.

Sebelumnya, perusahaan mengiming-imingi keuntungan sebesar 9 persen sampai 12 persen per tahun atas dana nasabah yang ditempatkan di produk mereka.

[Gambas:Video CNN]

Gugatan juga dilayangkan karena manajemen perusahaan dan agen pemasaran produk investasi dianggap tak transparan terhadap status dana nasabah. Sebab, mereka hanya menghindar saat ditanya nasabah.

"Sejak April 2020, bunga tidak pernah dibayarkan lagi sampai sekarang, akhirnya didatangi, menggugat pengembalian dana, tapi ternyata yang dilaporkan bilang sudah ada proses PKPU," ujar Andreas kepada CNNIndonesia.com, Senin (16/11).

Andreas menjelaskan perusahaan pernah menyatakan bakal mencairkan aset properti di daerah Menteng, Jakarta Pusat, dengan nilai Rp74 miliar. Namun, aset tersebut muncul di situs jual beli properti dengan harga hanya Rp39 miliar.

"Tapi kemudian tidak jelas apa itu tetap jadi dijual untuk gantikan dana nasabah atau tidak," imbuhnya.

Tiba-tiba, sambung Andreas, perusahaan mengakuZ sudah menindaklanjuti masalah pembayaran ini ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Hal ini tertuang dalam Surat Perkara Nomor 174/Pdt.Sus-PKPU/2020/PN Jkt.Pst tertanggal 29 Juni 2020.

Dalam surat itu, Indosterling mengajukan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) agar pembayaran dapat ditunda paling lama 45 hari sejak putusan pengadilan.

"Masalahnya, dari semua klien yang saya tangani tidak ada yang ikut PKPU sama sekali, tapi perusahaan mengaku sudah bisa menjalankan PKPU. Padahal, ini hasilnya ini tidak ada jaminan pengembalian dana dan dana disebutkan bisa dicicil hingga tujuh tahun," tuturnya.

Karena kondisi tersebut, para nasabah pun melaporkan perusahaan, khususnya CEO Indosterling Sean William Hanley ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Kepolisian.

(wel/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK