Gelombang Merger Landa Perbankan Spanyol di Tengah Corona

CNN Indonesia | Minggu, 22/11/2020 16:42 WIB
Sejumlah bank di Spanyol memutuskan untuk merger di tengah resesi ekonomi karena pendemi dan menjamurnya fintech. Sejumlah bank di Spanyol memutuskan untuk merger di tengah resesi ekonomi karena pendemi dan menjamurnya fintech. (AFP/JAIME REINA).
Jakarta, CNN Indonesia --

Gelombang merger melanda sektor perbankan Spanyol di tengah pandemi virus corona. Wabah itu menjerumuskan Swiss ke jurang resesi ekonomi dan menekan suku bunga perbankan. 

Selain itu, keputusan merger perbankan juga dipengaruhi oleh meningkatnya persaingan dari perusahaan rintisan teknologi keuangan (fintech).

CaixaBank, bank terbesar ketiga Spanyol, dan Bankia, bank terbesar keempat, September lalu menyetujui merger yang akan berdampak pada pemberian pinjaman domestik terbesar negara dengan aset sekitar €664 miliar (US$ 788 miliar).


Sementara BBVA, bank terbesar kedua di Swiss, Senin lalu mengumumkan bahwa pihaknya sedang dalam pembicaraan dengan Banco Sabadell, bank terbesar kelima di Spanyol, mengenai kemungkinan kerja sama.

Jika sukses, kerja sama itu akan menciptakan bank domestik terbesar kedua di Spanyol, jauh di depan Santander yang akan tetap menjadi bank terbesar negara dari sisi total aset karena kehadiran dana internasionalnya yang besar.

Ada pula pemberi pinjaman kelas menengah seperti Liberbank dan Unicaja yang mengkonfirmasi pembicaraan merger pada Oktober 2020.

Xavier Vives, dari IESE Business School Barcelona, mengatakan tren ini bukanlah hal baru di Spanyol. Hal serupa pernah terjadi di mana lusinan bank menghilang dalam gelombang merger usai krisis keuangan 2008, atau ketika Madrid menerima bailout Uni Eropa sebesar €41,3 miliar untuk sektor perbankan yang sakit.

"Operasi baru ini defensif untuk menghindari masalah di masa depan," kata Vives seperti dikutip AFP, Minggu (22/11).

Namun, berbeda dengan krisis sebelumnya, ketika pemberi pinjaman menghadapi masalah solvabilitas. Kali ini, masalahnya adalah kurangnya profitabilitas.

"Suku bunga rendah, kurva imbal hasil sangat datar, dan dengan pandemi Covid, revisi suku bunga ditunda. Dalam keadaan seperti ini, bisnis perbankan tidak terlalu menguntungkan," imbuhnya.

Pada saat yang sama, bank juga menghadapi persaingan sengit dari perusahaan rintisan fintech yang beroperasi secara online dan memiliki biaya operasional yang jauh lebih rendah daripada bank tradisional.

"Pastinya, dengan suku bunga negatif sangat sulit mendapatkan uang.Tapi masalah besar bagi bank adalah tidak mungkin meraup untung dengan model berbasis bank yang memiliki cabang, terutama jika pesaingnya fintech dan operator baru," kata Ricardo Zion, pakar bank dari EAE Business School.

Zion menganalogikan persaingan tersebut ibarat maskapai penerbangan tradisional dengan armada dan pilot sendiri yang berpenghasilan €400 ribu setahun, melawan maskapai penerbangan bertarif rendah yang menggunakan pesawat sewaan dan pilot yang berpenghasilan €60 ribu.

Oleh karena itu, merger menjadi relevan. Pasalnya, saat bank meningkatkan provisi mereka untuk menghadapi kenaikan kredit macet, operasi merger ini memperkuat solvabilitas mereka.

"Berbeda dengan krisis yang lalu, ketika bank bermasalah, sekarang mereka harus menjadi bagian dari solusi," tambahnya.

Pekerja Khawatir

Kendati demikian, konsolidasi perbankan yang akan mengarah pada penutupan cabang-cabang dan PHK, telah meningkatkan kewaspadaan serikat pekerja.

Pepe Alvarez, pemimpin serikat UGT yang merupakan serikat terbesar kedua di Spanyol, mengaku khawatir tentang besarnya PHK yang dapat terjadi.

"Lembaga keuangan harus menyadari upaya yang dilakukan oleh negara ini untuk membuat mereka bertahan selama krisis terakhir dan mereka tidak dapat membalas budi dengan lebih banyak pemecatan," ujarnya dalam sebuah wawancara dengan radio publik Spanyol.

Apalagi, menurut CCOO, serikat pekerja terbesar Spanyol, antara 2008 dan akhir 2019 perbankan Spanyol memangkas hampir 100 ribu pekerjaan, atau sekitar 37 persen dari angkatan kerja mereka.

[Gambas:Video CNN]

Rencana PHK sendiri sebelumnya telah diumumkan, salah satunya oleh Santander yang berniat memangkas 4.000 pekerjaan. Ada pula Sabadell yang dikabarkan akan melakukan PHK 1.800 karyawan, sementara merger antara CaixaBank dan Bankia dilaporkan akan menyebabkan hilangnya 8.000 pekerjaan.

Sementara itu, kelompok konsumen khawatir peningkatan konsentrasi di sektor ini akan mengarah pada oligopoli yang akan merugikan pelanggan, dengan hanya selusin bank yang tersisa di negara itu. Sebagai pembanding, terdapat lebih dari 70 bank di Swiss pada satu dekade lalu.

Namun demikian, para pengamat mengatakan ini seharusnya tidak menjadi masalah jika ada tiga atau empat bank besar dan persaingan yang memadai dari aktor digital baru.

(hrf/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK