5 Negara dengan Transfer Hasil Kejahatan Cyber Terbesar ke RI

CNN Indonesia | Selasa, 01/12/2020 14:48 WIB
PPATK menyatakan ada lima negara dengan nilai transfer dana hasil kejahatan cyber terbesar ke Indonesia. Berikut rinciannya. PPATK menyatakan ada 5 negara dengan transfer dana kejahatan cyber terbesar ke Indonesia. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mencatat ada 140 negara atau yurisdiksi yang melakukan transfer ke para money mules atau  perantara dan penampung aliran dana terkait tindak kejahatan cyber di Indonesia.

Kabid Penyelenggaraan Diklat PPATK Yusup Darmaputra mengatakan di antara negara tersebut terdapat lima dengan jumlah asal dana terbesar.

"Teridentifikasi sebanyak 140 negara yang melakukan transfer ke Indonesia dan ada lima yang terbesar," ujarnya ujarnya dalam webinar bertajuk Membedah Tindak Pidana Siber Sebagai Tindak Pidana Asal TPPU, Selasa (1/12).


Pertama, Amerika Serikat sebanyak 3.522 kali dengan total pengiriman transfer Rp272 miliar.

Kedua, Korea Selatan dengan 1.262 kali pengiriman dan total transfer sebesar Rp224 miliar.

Ketiga,Taiwan dengan pengiriman 846 kali dan total transfer Rp82,7 miliar.

Keempat, Hongkong dengan 693 kali pengiriman dan total transfer Rp78,5 miliar.

[Gambas:Video CNN]

Kelima, Jerman dengan 670 kali pengiriman dan total dana yang ditransfer sebesar Rp47,9 miliar.

"Ini negara-negara yang terjebak sebagai korban dari tindak pidana siber ini," ungkap Yusup.

Menurut Yusup ada empat jenis tindak pidana cyber yang kerap terjadi saat ini dan uangnya ditransfer ke Indonesia, yakni business email compromise (BEC), romance scam, jual-beli online, dan investment scam.

BEC dilakukan dengan cara meretas email CEO perusahaan kemudian mengirimkan email tersebut ke pegawai perusahaan untuk melakukan transfer pembayaran.

"Dalam hal ini pelaku sudah menyiapkan rekening penampungan yang namanya mirip dengan nama pemasok sebenarnya," kata Yusup.

Sementara romance scam adalah kejahatan yang dilakukan dengan cara mendekati korban melalui dating apps dan media sosial dengan profil menarik. Misalnya mengaku sebagai tentara, dokter hingga pengusaha.

"Pelaku menjanjikan pengiriman paket ke korban namun mengaku bahwa paket tertahan di bea cukai Indonesia, kemudian pelaku meminta korban mengirimkan uang untuk menebus paket itu," jelas Yusup.

Kemudian, kejahatan jual beli online dilakukan dengan cara membuat website penjualan palsu dan setelah korban melakukan pembayaran barang tidak dikirim seperti yang dijanjikan.

"Terakhir investment scam dilakukan dengan menawarkan investasi dengan keuntungan tinggi yang menggiurkan sehingga korban mentransfer dana ke pelaku," tandasnya.

(agt/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK