Lepas Resesi, Australia Dibayangi Perang Dagang Lawan China

CNN Indonesia | Kamis, 03/12/2020 20:50 WIB
Perekonomian Australia mulai bangkit pada kuartal III lalu. Namun, ketegangan hubungan dengan China menjadi risiko yang harus dihadapi. Perekonomian Australia mulai bangkit pada kuartal III lalu. Namun, ketegangan hubungan dengan China menjadi risiko yang harus dihadapi. Ilustrasi. (Istockphoto/simonbradfield).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ekonomi Australia berhasil tumbuh positif dan keluar dari jurang resesi pada kuartal III 2020. Namun, ekonomi negeri kanguru masih dibayangi tekanan dari perang dagang dengan China.

Mengutip CNN Business, ekonomi Australia tumbuh 3,3 persen pada kuartal III 2020. Australia berhasil keluar dari resesi yang pertama kali terjadi sejak tiga dekade terakhir.

Pemulihan ekonomi negara tetangga Indonesia itu terjadi berkat peningkatan konsumsi masyarakat usai pembukaan kebijakan penguncian wilayah (lockdown) di tengah pandemi virus corona atau covid-19. Kendati begitu, pandemi tetap menjadi tantangan bagi Australia seperti halnya negara-negara lain yang masih memerangi corona.


"Seperti yang dikatakan gubernur bank sentral Australia pagi ini, 'kami sekarang telah berbelok dan pemulihan sedang berlangsung', tapi banyak tantangan tetap," kata Menteri Keuangan Australia Josh Frydenberg, Kamis (3/12).

Tantangan lain, katanya, juga berasal dari ketegangan hubungan dengan China, mitra dagang utama Australia. Ketegangan bermula sejak Perdana Menteri Australia Scott Morrison menyerukan penyelidikan internasional tentang asal-usul pandemi virus corona pada April lalu yang dianggap pemerintah China sebagai manipulasi politik.

Hal ini sempat membuat China mengenakan tarif impor tinggi bagi produk ekspor Australia, misalnya anggur, daging sapi, hingga selai.

"China adalah mitra dagang nomor satu kami. Banyak pekerjaan Australia bergantung pada perdagangan," katanya.

China tercatat sebagai mitra dagang utama China dengan nilai perdagangan mencapai Aus$215 miliar pada 2018. Hasil penelitian Universitas Australia Barat dan Universitas Nasional Australia mengestimasi ketegangan hubungan dagang dengan China bisa menurunkan kontribusi perdagangan sekitar 6 persen terhadap pertumbuhan ekonomi atau Produk Domestik Bruto (PDB).

Pasalnya, ekspor ke China mencapai sepertiga dari total ekspor Australia ke seluruh dunia. Sementara, kontribusi ekspor barang dan jasa Australia mencapai 22 persen ke PDB negara tersebut pada 2019.

Ekonom dari Universitas Sydney Hans Hendrischke menilai ketegangan dagang dengan China akan merugikan sektor pertanian Australia, meski estimasi pastinya masih dihitung.

"Saat ini, larangan perdagangan China menargetkan poin-poin yang merugikan sektor ekspor yang relatif kecil, seperti anggur, daging sapi, dan area lainnya," katanya.

[Gambas:Video CNN]

Bahkan, menurutnya, industri tersebut mungkin akan perlu restrukturisasi. Namun, dampak keseluruhannya lebih karena tekanan politik daripada ekonomi.

Tak hanya pertanian, perang dagang dengan China juga diperkirakan bakal menekan industri tambang, terutama bijih besi dan batu bara Tercatat, 68 persen ekspor bahan baku ini menuju China pada tahun lalu.

Laporan terakhir dari media Australia mengatakan ada ratusan juta dolar ekspor batu bara yang sempat ditahan di lepas pantai China akibat ketegangan ini.

(uli/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK