Respons Warga soal Vaksin Mandiri: Ikhlas di Bawah Rp1 Juta

CNN Indonesia | Rabu, 09/12/2020 11:48 WIB
Warga mengaku rela membayar sendiri vaksin corona yang akan didistribusikan. Asalkan uji klinisnya berhasil dan harganya kurang dari Rp1 juta. Warga mengaku rela membayar sendiri vaksin corona yang akan didistribusikan. Asalkan uji klinisnya berhasil dan harganya kurang dari Rp1 juta. (Muchlis - Biro Setpres).
Jakarta, CNN Indonesia --

Vaksin corona buatan Sinovac dari China sudah tiba di Indonesia. Vaksin ini masih akan diuji mutu oleh PT Bio Farma (Persero) dan BPOM sebelum didistribusikan.

Sebagai langkah awal, vaksin tidak serta merta dibagikan ke masyarakat, melainkan untuk garda terdepan terlebih dulu, seperti tenaga kesehatan, pejabat pemerintah.

Namun, ke depan, pemerintah berkomitmen menyediakan lebih banyak vaksin dari produsen lain, termasuk Pfizer, Sinopharm, dan Bio Farma, untuk didistribusikan ke masyarakat. Sebagian akan diberikan gratis, sebagian lain diminta membayar alias mandiri.


Menanggapi ini, sejumlah masyarakat kompak menjawab rela membayar vaksin demi menghindari penyakit covid-19. Asalkan, hasil uji klinis vaksin tersebut benar-benar berhasil.

Tuti (25) misalnya, siap melakukan vaksin mandiri. Selain pertimbangan pencegahan penyakit, ia mengakui pemerintah sudah babak belur mengeluarkan dana untuk penanganan covid-19.

"Saya tidak menunggu vaksin gratis, karena kemampuan pemerintah juga terlihat sudah sangat berat menanggulangi pandemi covid-19. Apalagi, penduduk Indonesia besar jadi banyak masyarakat yang butuh untuk dapat vaksin gratis," ungkap Tuti kepada CNNIndonesia.com, Rabu (9/12).

Ia menilai semakin lama pemberian vaksin justru ekonomi semakin terpuruk. Sebab, jika penularan terus berlanjut, maka pembatasan sosial masih berlangsung.

Karenanya, ia rela membayar sendiri vaksin, namun dengan batas kesanggupan bayar di kisaran Rp400 ribu-Rp500 ribu per dosis.

"Jangan lebih dari itu, akan menambah beban kami sebagai masyarakat. Belum lagi dalam satu keluarga kan ada beban lain yang harus dipenuhi, jadi kalau bisa disubsidi pemerintah sedikit untuk meringankan beban," pintanya.

Dalam distribusinya, ia berharap pemerintah betul-betul melakukan pengawasan di lapangan. Jadi, distribusinya bisa merata serta tidak tumpang tindih.

"Kemudian dicek betul data penerima vaksin antara mandiri dan gratis. Jangan sampai yang harusnya gratis malah bayar dan jangan sampai ada pungli atau kecurangan lain," tuturnya.

[Gambas:Video CNN]

Senada, Akbar (29) mengaku siap untuk membayar vaksin secara mandiri. Sebab, ia menilai vaksin bisa melindungi dirinya dan keluarga dari paparan corona. Sepakat dengan Tuti, kesanggupannya membayar vaksin, yakni di bawah Rp1 juta.

"Tapi kalau mau hasil maksimal, sebaiknya vaksin di bawah Rp500 ribu. Semakin banyak orang dapat vaksin, penyebaran virus corona semakin sempit," jelasnya.

Sebagai catatan, ia menilai distribusi vaksin tersebut harus diprioritaskan kepada tenaga kesehatan sebagai garda terdepan. Mengingat, ketersediaan vaksin covid-19 masih sedikit.

"Meski saya rela membayar, untuk saat ini menurut saya vaksin jangan dikomersialkan dulu," terangnya.

Sementara itu, Abdul (27) mengaku belum siap membayar vaksin secara mandiri. Alasannya, hasil uji klinis tahap III vaksin Sinovac tersebut belum keluar.

"Vaksin Sinovac kan belum teruji, jadi saya belum rela bayar mandiri. Hasil uji klinis III belum kelar soalnya," ujarnya.

Bahkan, ia mengaku belum mau ikut program vaksinasi jika hasil uji klinis tahap III vaksin Sinovac belum rilis. Alasannya, guna menghindari risiko yang tidak diinginkan.

Sementara itu, jika hasil uji klinis tahap III vaksin Sinovac sudah keluar, serta bisa digunakan oleh publik, barulah ia mau ikut serta dalam program vaksin tersebut. Sepakat dengan Tuti dan Akbar, kesanggupan bayar Abdul juga di bawah Rp1 juta.

"Sebaiknya sih di bawah Rp1 juta, itu pun kalau sudah teruji. Lebih dari itu, pemerintah seharusnya memberi subsidi supaya biar semua dapat," katanya.

Seperti diketahui, vaksin Sinovac sebanyak 1,2 juta telah tiba di Indonesia pada Minggu (6/12). Untuk kloter pertama ini, vaksin Sinovac diprioritaskan kepada tenaga kesehatan serta diberikan secara cuma-cuma alias gratis. Selanjutnya, pemerintah akan mendatangkan sebanyak 1,8 juta dosis pada bulan ini.

(ulf/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK