TAIPAN

John Paul DeJoria, Kaya Raya Usai Terlunta-lunta di Jalanan

CNN Indonesia | Minggu, 14/02/2021 08:02 WIB
Sebelum kaya seperti sekarang, John Paul DeJoria salah satu pendiri perusahaan perawatan rambut John Paul Mitchell Systems pernah hidup miskin. Ini kisahnya. Sebelum kaya seperti sekarang, John Paul DeJoria salah satu pendiri perusahaan perawatan rambut John Paul Mitchell Systems pernah hidup miskin. (CNNIndonesia/Basith Subastian).
Jakarta, CNN Indonesia --

Jadi miliarder tak pernah terlintas dalam benak John Paul DeJoria. Harap maklum, pria berdarah Yunani-Italia-Amerika ini sangat miskin pada masa kecilnya.

Karena jerat kemiskinan itu, orang tuanya bercerai pada saat ia berusia dua tahun. Untuk bertahan hidup dengan ibunya, ia bersama dengan saudara laki-lakinya harus menjual kartu Natal dan koran dari rumah ke rumah.

Semua kerja keras itu, ia lakukan pada usia sembilan tahun. Sampai beranjak dewasa pun, jerat kemiskinan belum juga menjauh dari kehidupan DeJoria. 


Bahkan, setelah ia menyelesaikan sekolahnya di Angkatan Laut pada 1966 silam, John yang kala itu kembali dari pendidikannya masih harus menghadapi kenyataan pahit.

Istri pertamanya meninggalkannya bersama dengan seorang anak yang masih berusia dua tahun. Sampai dengan usia 20 tahun jerat kemiskinan yang dialaminya semakin menjadi.

Ia yang tak mampu lagi membayar sewa apartemen harus hidup terlunta-lunta di jalanan bersama dengan anaknya. Demi bertahan hidup, John harus mengumpulkan botol bekas yang kemudian ia jual supaya mendapatkan beberapa sen buat makan.

DeJoria sebenarnya terus berupaya mengubah nasibnya dengan menjadi petugas kebersihan, penjual asuransi hingga produk perawatan rambut untuk Redken Laboratories pada periode 1064-1979 lalu.

Gambas:Video CNN]

Sayang, usahanya tak berbuah manis. Ia bahkan harus dipecat karena berbeda prinsip dengan perusahaan tempatnya bekerja.

Jalan keberuntungan akhirnya datang juga menghampiri DeJoria. Usai dipecat, jalan kaya itu mulai terbuka baginya.

Bermodal pinjaman US$700, ia bersama dengan stylist bernama Paul Mitchell, pemimpin revolusi rambut di awal tahun 1980-an sepakat membuat produk salon dan perawatan rambut.

Kerja sama berbuah sukses. Dalam waktu tak lama, mereka berhasil mengubah modal itu menjadi untung US$2.000 dan kemudian menjadikan perusahaan perawatan rambut mereka menjadi yang paling besar di dunia. 

Sayang, di tengah hasil manis itu, Mitchell meninggal karena kanker. John yang mengambil alih pengelolaan perusahaan tak mau mengecewakan temannya.

Saat ini, ia berhasil membawa perusahaan yang ia rintis bersama Mitchell meraup pendapatan sampai dengan US$1 miliar.

Sukses di bisnis itu tak lantas membuat John berpuas diri. Dengan naluri bisnis yang diasahnya sejak kecil, ia merambah bisnis minuman keras tequila. Bersama dengan seorang arsitek Martin Crowley yang menjadi temannya, ayah empat anak itu membangun Patron Spirits Company.

Dalam perjalanannya, Patron yang diluncurkan pada 1989 lalu itu tumbuh menjadi sebuah merek minuman keras paling bernilai di dunia.

Berdasarkan data 2011, penjualan minuman keras produksi Patron berhasil mencapai 2,45 juta. Itu memberikan pendapatan US$100 juta-US$250 juta.

Pundi-pundi itu menempatkannya menjadi salah satu orang terkaya di dunia dengan total kekayaan US$2,7 miliar dolar versi Forbes.

Namun, sukses itu tak membuat DeJoria jemawa. Menurutnya, sukses tak hanya soal berapa banyak dolar dan sen yang bisa dikumpulkan. 

Sukses juga tidak mau diukurnya berdasarkan kekuasaan yang bisa dia dapat dari kekayaannya.

Pelajaran yang pernah ia dapatkan ketika hidup dalam kemiskinan serta ajaran dari ibunya membuatnya menjadi seorang dermawan. Karena sikap itulah, ia kemudian menandatangani program amal bertajuk The Giving Pledge yang dirintis Bill Gates dan Warren Buffet.

Dengan tandatangan itu, ia setuju menyerahkan setengah penghasilannya untuk memperbaiki dunia. Tak cukup sampai di situ, ia juga mendirikan JP's Peace Love & Happiness Foundation.

Itu merupakan pusat donasi amal yang bertujuan menyelamatkan lingkungan, membantu orang miskin dan melindungi hak-hak hewan.

Melalui yayasan itu, dia mengumpulkan jutaan dolar untuk mendukung lebih dari 160 badan amal di seluruh dunia.

Salah satu badan amalnya adalah Grow Appalachia. Programnya menyediakan benih dan alat untuk membantu keluarga miskin di enam negara bagian di Appalachia tengah menanam makanan mereka sendiri untuk memerangi malnutrisi dan Sea Shepherd, sebuah komunitas konservasi satwa laut yang menghadapi perburuan ilegal dan perusakan satwa liar di lautan dunia.

(agt/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK