Alasan Investasi Bodong Tumbuh Subur di Indonesia

CNN Indonesia | Rabu, 14/04/2021 19:59 WIB
Ekonom menilai salah satu alasan investasi bodong terus menjamur adalah karakter masyarakat yang ingin mendapatkan keuntungan tanpa kerja keras. Ekonom menilai salah satu alasan investasi bodong terus menjamur adalah karakter masyarakat yang ingin mendapatkan keuntungan tanpa kerja keras. Ilustrasi. (Istockphoto/ Ipopba).
Jakarta, CNN Indonesia --

Investasi bodong atau ilegal di Indonesia ibarat jamur di musim hujan, tumbuh subur. Padahal, korbannya sudah banyak, begitu juga dengan nominal dana masyarakat yang kemudian raib tanpa garansi.

Data Satgas Waspada Investasi (SWI) mencatat setidaknya ada 390 kegiatan investasi ilegal dan 1.200 fintech bodong yang ditutup sepanjang Januari 2020 sampai Februari 2021.

Sementara kerugian yang muncul dari investasi bodong ini mencapai Rp114,9 triliun pada periode 2011-2020, bukan jumlah yang sedikit.


Ekonom CORE Indonesia Piter Abdullah Redjalam mengatakan ada satu alasan utama mengapa investasi bodong tumbuh subur di dalam negeri, yaitu karakter serakah dari sebagian masyarakat. Mereka ingin 'cuan' tanpa kerja keras.

"Karakteristik masyarakat kita perlu diakui ada yang serakah dan malas, mau dapat hasil banyak, tanpa kerja keras. Bisa dilihat, semua korban investasi bodong seperti itu, mau dapat uang dengan mudah, untung besar, tapi tidak pakai kerja keras," kata Piter kepada CNNIndonesia.com, Rabu (14/4).

Alasan lain karena literasi dan inklusi keuangan masyarakat Indonesia masih rendah. Saat ini, masih banyak yang belum tahu mana investasi yang benar-benar aman, mana yang rasional potensi keuntungannya, dan lainnya.

"Padahal mereka memiliki dana, tapi mereka tidak tahu sebaiknya menempatkan dana di mana yang aman, mereka tidak teredukasi," imbuhnya.

Masalahnya, ada sebagian masyarakat lainnya yang punya karakter memanfaatkan mereka yang serakah dan malas ini. Maka dari itu, iming-iming yang diberikan mudah membuat tergiur dan membuat investasi bodong mudah diterima.

"Mereka tahu masyarakat kita banyak tidak punya informasi, pengetahuan, tapi punya dana, serakah mau untung 'gede' tanpa kerja keras, jadi mulailah diberi iming-iming. Bahkan korbannya pun ada yang profesor. Jadi ini bukan soal semata-mata mana yang teredukasi, tapi karena serakah juga," terangnya.

Senada, Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia Andy Nugroho juga berpandangan demikian. Ada kecenderungan masyarakat ingin dapat uang cepat, sehingga memang ada demand (permintaan) dari masyarakat itu sendiri.

"Makanya kalau diiming-iming bisa dapat hasil sekian, tidak capek, tidak perlu kerja, dapat untung besar, orang kita suka tergiur dan ingin seperti itu, sehingga penggandaan uang yang seperti ini (investasi bodong) masih diterima," kata Andy.

Padahal, menurut Andy, berbagai sosialisasi mengenai informasi produk investasi sejatinya sudah diberikan. Begitu juga perkembangannya di media sosial, media berita, dan lainnya.

Belum lagi, SWI terus merilis daftar investasi bodong di masyarakat. Lalu, menutup mereka. Sayangnya, mati satu tumbuh seribu, karena memang permintaannya masih ada di masyarakat.

"Kalau pun ada yang kurang dari regulator, mungkin lebih ke personel di lapangan, karena jumlahnya tidak sebanyak dengan investasi bodong yang bermunculan terus, mereka cepat," tuturnya.

Begitu juga dengan penetrasi dari para pelaku penyedia instrumen investasi, mulai dari manajer investasi, bursa efek, hingga pemerintah. Menurut Andy, semuanya sudah memberikan informasi, tapi memang sebagian masyarakat lebih memilih investasi bodong yang memberi iming-iming luar biasa.

Dari kondisi ini, Andy memberi masukan agar masyarakat mulai mau belajar apa itu investasi dan bagaimana melakukannya. Beberapa kiat berinvestasi, pertama, kenali tujuan investasi.

"Apakah untuk menikah tahun depan, atau pendidikan anak, pensiun, dan lainnya, karena beda tujuan, bisa beda instrumen, beda lama waktu kita memarkirkan dananya," terangnya.

Kedua, kenali instrumen investasi yang ada. Pastikan, instrumen tersebut aman dan wajar. Ketiga, pertimbangkan likuiditas.

"Misalnya, investasi di properti untung tidak? Untung, bagus, harganya naik untuk jangka panjang, tapi saat dijual butuh waktu, di awal besar menyedot likuiditasnya. Beda dengan emas misal, mudah dibeli, mudah dijual, mungkin tidak besar harganya, tapi untungnya tidak terlalu tinggi," ucapnya.

[Gambas:Video CNN]

Keempat, cermati potongan pajaknya. Kelima, jangan taruh semua dana di satu investasi saja.

"Ada yang suka properti, dia beli rumah lima, kontrakan juga, tapi ini jangan sebaiknya," pungkasnya.

(uli/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK