Perencana keuangan membeberkan sejumlah tips untuk menghindari kerugian karena menempatkan uang di robot trading. Berikut ulasannya. Ilustrasi. (Istockphoto/ Ipopba).
Jakarta, CNN Indonesia --
Kasus robot tradingterus bermunculan hingga saat ini. Padahal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah berkali-kali mengatakan tak pernah mengeluarkan izin untuk sarana investasi itu.
Namun, korban robot trading justru semakin banyak. Awal pekan ini, belasan korban melaporkan robot trading DNA Pro terkait dugaan penipuan ke Polda Metro Jaya.
Belasan korban itu diproyeksi rugi hingga Rp7 miliar. Laporan dilayangkan oleh seseorang berinisial RD yang mewakili korban bersama pengacaranya, Charlie Wijaya.
Sebelum kasus robot trading DNA Pro mencuat, ada pula kasus investasi berkedok robot trading bernama Viral Blast dan PT FSP Akademi Pro.
Seperti biasa, masyarakat tergoda dengan iming-iming cuan selangit. Oknum menjanjikan bahwa korban nantinya dapat menarik dana dalam jumlah besar.
Tapi ujung-ujungnya, masyarakat rugi karena tak bisa melakukan penarikan dari aplikasi. Bahkan, dalam beberapa kasus dana tersebut juga tak bisa ditransfer ke rekening masing-masing.
Semua ini mungkin tak akan terjadi jika masyarakat lebih hati-hati dalam berinvestasi. Masyarakat juga harus paham betul mengenai instrumen yang dipilih sebelum berinvestasi.
Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Pasar Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Tirta Karma Sanjaya membeberkan beberapa modus penawaran yang dilakukan oleh penyedia robot trading.
Pertama, menjanjikan keuntungan tetap (fix income) dan bagi hasil (profit sharing). Kedua, mereka menawarkan produk melalui iklan radio, TV, media elektronik, dan media sosial.
Ketiga, memberikan janji atau iming-iming iklan yang menyesatkan, seperti pernyataan 'dengan tidur nyenyak, sudah dapat untung'. Keempat, menawarkan jasa sewa robot trading melalui member get member.
Lantas, bagaimana cara berinvestasi agar tak boncos seperti korban robot trading?
Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho mengatakan masyarakat jangan rakus dalam berinvestasi. Kuncinya, masyarakat harus bisa mengontrol nafsu atau emosi.
Andi menjelaskan bahwa masyarakat bisa mendulang untung dalam berinvestasi. Begitu juga sebaliknya, masyarakat harus siap-siap rugi ketika harga pasar sedang turun.
Misalnya, seseorang bernama Mawar berinvestasi di saham A. Harga saham tersebut naik selama satu pekan setelah Mawar melakukan transaksi beli, sehingga ia langsung mendapatkan untung dari saham tersebut.
Namun, jika harga saham A turun setelah Mawar melakukan transaksi beli, maka nilai aset Mawar otomatis ikut berkurang.
"Namanya investasi untung bisa, tapi jangan kemudian inginnya selalu untung. Itu tidak bisa," terang Andi.
Jadi, jangan mudah tergiur janji manis seseorang yang menawarkan suatu investasi dengan keuntungan pasti dan dalam jumlah besar.
Selain mengontrol emosi, masyarakat juga harus mempelajari berbagai macam instrumen investasi. Jangan sampai masyarakat berinvestasi di salah satu instrumen, tapi mereka sendiri tak mengerti cara kerja instrumen tersebut.
"Jangan masuk instrumen yang tidak paham pola seperti apa," ujar Andi.
Sebagai contoh, seseorang ingin berinvestasi di reksa dana, maka ia harus paham cara main di reksa dana terlebih dahulu sebelum membeli di perusahaan manajer investasi. Begitu juga dengan saham, obligasi, valuta asing (valas), hingga kripto.
"Harus paham ada potensi kerugian, ada high risk high return," imbuh Andi.
Bersambung ke halaman berikutnya...
3. Berani Cut Loss
Andi mengingatkan masyarakat untuk menentukan cut loss dalam berinvestasi. Dengan kata lain, masyarakat harus menetapkan sampai di angka berapa mereka bersedia menerima kerugian.
Sederhananya, harga saham A terus melemah dalam sepekan terakhir sekitar Rp100 ribu jika dibandingkan dengan saat pertama beli. Nah, masyarakat harus menetapkan mau melepas saham itu di level berapa.
"Prinsip cut loss artinya menentukan target rugi yang akan didapat," ujar Andi.
Hal ini biasanya berbeda-beda tiap investor. Pasalnya, hal ini akan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing orang.
"Kalau terima loss 3 persen ya sudah, tapi kalau mampu terima loss 5 persen-10 persen ya silakan," ucap Andi.
Namun, ia mengatakan jangan sampai masyarakat mendiamkan sahamnya yang terus menurun tanpa menetapkan target cut loss. Hal itu berpotensi membuat investor rugi besar.
"Harus diperhatikan, jangan turun terus didiamkan dan berharap naik lagi. Takutnya kebablasan," jelas Andi.
Andi menjelaskan investasi sebaiknya menggunakan uang dingin. Hal ini berarti uang yang tak akan digunakan dalam jangka panjang.
Tapi, ukuran jangka panjang atau jangka pendek setiap orang akan berbeda. Hal itu akan kembali dengan kebutuhan masing-masing orang.
"Tergantung kebutuhan dan lihat tujuan orang itu seperti apa, rencana uang itu mau digunakan kapan dan untuk apa. Beda-beda jangka waktu setiap orang," tutup Andi.
Ia menjelaskan menggunakan uang dingin dalam berinvestasi akan lebih aman. Pasalnya, masyarakat lebih bebas memilih instrumen investasi, seperti saham, emas, membeli valas, atau reksa dana.
Jika menggunakan uang panas atau uang yang akan digunakan dalam jangka pendek, maka masyarakat harus mencari instrumen yang rendah risiko, seperti deposito. Namun, potensi keuntungannya akan lebih rendah dibandingkan dengan instrumen yang berisiko tinggi.
Selain itu, Andi menjelaskan masyarakat juga harus pintar mengelola investasi. Jangan semua uang dingin dimasukkan dalam satu keranjang investasi yang sama dan dalam satu waktu.
"Misalnya uang dingin ada Rp10 juta, nah itu semua dibeliin kripto. Jangan begitu. Atur pola manajemennya yang bagus," papar Andi.
Sebagai gambaran, masyarakat bisa menggunakan 30 persen dari total uang dingin terlebih dahulu untuk membeli kripto. Lalu, lihat perkembangan dari aset kripto tersebut.
Jika positif, maka tak ada salahnya untuk menambah modal di aset kripto. Lalu, masyarakat juga bisa menggunakan sisa uang dingin untuk membeli instrumen investasi lain.
Intinya, lebih baik menempatkan dana di berbagai instrumen investasi dibandingkan hanya di dalam satu keranjang investasi. Sebab, jika di aset di instrumen A minus, maka ada potensi di instrumen lain positif sehingga masih memiliki cuan.
5. Cek Identitas Perusahaan
Perencana Keuangan Oneshildt Financial Planning Budi Rahardjo menambahkan masyarakat jangan lupa mengecek identitas perusahaan sebelum berinvestasi.
Misalnya mau investasi di reksa dana yang diterbitkan perusahaan A, masyarakat bisa mengecek apakah perusahaan itu terdaftar di OJK atau tidak.
"Cek juga perusahaan itu mendapatkan izin usaha sesuai tidak dengan yang dioperasikan sekarang. Jangan-jangan iya ada nama PT ada NPWP, tapi izinnya perdagangan, bukan mengelola uang. Itu kan beda," ungkap Budi.
Jika izin usaha sudah sesuai dengan operasional bisnis perusahaan itu sekarang, kata Budi, masyarakat juga jangan langsung berpikir bahwa investasi di perusahaan itu selalu untung. Tidak begitu cara mainnya.
"Meski sudah terdaftar di OJK, bukan berarti investasi aman, dijamin," kata Budi.
Untung dan rugi investasi akan bergantung dari produk yang dipilih dan situasi pasar. Maka dari itu, tak ada satu orang pun yang bisa memberikan kepastian investasi di instrumen A akan selalu untung.Mentok-mentok, seseorang hanya bisa memproyeksi. Bukan memberikan jaminan.
Kasus robot tradingterus bermunculan hingga saat ini. Padahal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah berkali-kali mengatakan tak pernah mengeluarkan izin untuk sarana investasi itu.
Namun, korban robot trading justru semakin banyak. Awal pekan ini, belasan korban melaporkan robot trading DNA Pro terkait dugaan penipuan ke Polda Metro Jaya.
Belasan korban itu diproyeksi rugi hingga Rp7 miliar. Laporan dilayangkan oleh seseorang berinisial RD yang mewakili korban bersama pengacaranya, Charlie Wijaya.
Sebelum kasus robot trading DNA Pro mencuat, ada pula kasus investasi berkedok robot trading bernama Viral Blast dan PT FSP Akademi Pro.
Seperti biasa, masyarakat tergoda dengan iming-iming cuan selangit. Oknum menjanjikan bahwa korban nantinya dapat menarik dana dalam jumlah besar.
Tapi ujung-ujungnya, masyarakat rugi karena tak bisa melakukan penarikan dari aplikasi. Bahkan, dalam beberapa kasus dana tersebut juga tak bisa ditransfer ke rekening masing-masing.
Semua ini mungkin tak akan terjadi jika masyarakat lebih hati-hati dalam berinvestasi. Masyarakat juga harus paham betul mengenai instrumen yang dipilih sebelum berinvestasi.
Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Pasar Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Tirta Karma Sanjaya membeberkan beberapa modus penawaran yang dilakukan oleh penyedia robot trading.
Pertama, menjanjikan keuntungan tetap (fix income) dan bagi hasil (profit sharing). Kedua, mereka menawarkan produk melalui iklan radio, TV, media elektronik, dan media sosial.
Ketiga, memberikan janji atau iming-iming iklan yang menyesatkan, seperti pernyataan 'dengan tidur nyenyak, sudah dapat untung'. Keempat, menawarkan jasa sewa robot trading melalui member get member.
Lantas, bagaimana cara berinvestasi agar tak boncos seperti korban robot trading?
Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho mengatakan masyarakat jangan rakus dalam berinvestasi. Kuncinya, masyarakat harus bisa mengontrol nafsu atau emosi.
Andi menjelaskan bahwa masyarakat bisa mendulang untung dalam berinvestasi. Begitu juga sebaliknya, masyarakat harus siap-siap rugi ketika harga pasar sedang turun.
Misalnya, seseorang bernama Mawar berinvestasi di saham A. Harga saham tersebut naik selama satu pekan setelah Mawar melakukan transaksi beli, sehingga ia langsung mendapatkan untung dari saham tersebut.
Namun, jika harga saham A turun setelah Mawar melakukan transaksi beli, maka nilai aset Mawar otomatis ikut berkurang.
"Namanya investasi untung bisa, tapi jangan kemudian inginnya selalu untung. Itu tidak bisa," terang Andi.
Jadi, jangan mudah tergiur janji manis seseorang yang menawarkan suatu investasi dengan keuntungan pasti dan dalam jumlah besar.
Selain mengontrol emosi, masyarakat juga harus mempelajari berbagai macam instrumen investasi. Jangan sampai masyarakat berinvestasi di salah satu instrumen, tapi mereka sendiri tak mengerti cara kerja instrumen tersebut.
"Jangan masuk instrumen yang tidak paham pola seperti apa," ujar Andi.
Sebagai contoh, seseorang ingin berinvestasi di reksa dana, maka ia harus paham cara main di reksa dana terlebih dahulu sebelum membeli di perusahaan manajer investasi. Begitu juga dengan saham, obligasi, valuta asing (valas), hingga kripto.
"Harus paham ada potensi kerugian, ada high risk high return," imbuh Andi.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Berani Cut Loss
Perencana keuangan membeberkan sejumlah tips untuk menghindari kerugian karena menempatkan uang di robot trading. Berikut ulasannya. Ilustrasi. (Istockphoto/ Gazanfer).
3. Berani Cut Loss
Andi mengingatkan masyarakat untuk menentukan cut loss dalam berinvestasi. Dengan kata lain, masyarakat harus menetapkan sampai di angka berapa mereka bersedia menerima kerugian.
Sederhananya, harga saham A terus melemah dalam sepekan terakhir sekitar Rp100 ribu jika dibandingkan dengan saat pertama beli. Nah, masyarakat harus menetapkan mau melepas saham itu di level berapa.
"Prinsip cut loss artinya menentukan target rugi yang akan didapat," ujar Andi.
Hal ini biasanya berbeda-beda tiap investor. Pasalnya, hal ini akan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing orang.
"Kalau terima loss 3 persen ya sudah, tapi kalau mampu terima loss 5 persen-10 persen ya silakan," ucap Andi.
Namun, ia mengatakan jangan sampai masyarakat mendiamkan sahamnya yang terus menurun tanpa menetapkan target cut loss. Hal itu berpotensi membuat investor rugi besar.
"Harus diperhatikan, jangan turun terus didiamkan dan berharap naik lagi. Takutnya kebablasan," jelas Andi.
Andi menjelaskan investasi sebaiknya menggunakan uang dingin. Hal ini berarti uang yang tak akan digunakan dalam jangka panjang.
Tapi, ukuran jangka panjang atau jangka pendek setiap orang akan berbeda. Hal itu akan kembali dengan kebutuhan masing-masing orang.
"Tergantung kebutuhan dan lihat tujuan orang itu seperti apa, rencana uang itu mau digunakan kapan dan untuk apa. Beda-beda jangka waktu setiap orang," tutup Andi.
Ia menjelaskan menggunakan uang dingin dalam berinvestasi akan lebih aman. Pasalnya, masyarakat lebih bebas memilih instrumen investasi, seperti saham, emas, membeli valas, atau reksa dana.
Jika menggunakan uang panas atau uang yang akan digunakan dalam jangka pendek, maka masyarakat harus mencari instrumen yang rendah risiko, seperti deposito. Namun, potensi keuntungannya akan lebih rendah dibandingkan dengan instrumen yang berisiko tinggi.
Selain itu, Andi menjelaskan masyarakat juga harus pintar mengelola investasi. Jangan semua uang dingin dimasukkan dalam satu keranjang investasi yang sama dan dalam satu waktu.
"Misalnya uang dingin ada Rp10 juta, nah itu semua dibeliin kripto. Jangan begitu. Atur pola manajemennya yang bagus," papar Andi.
Sebagai gambaran, masyarakat bisa menggunakan 30 persen dari total uang dingin terlebih dahulu untuk membeli kripto. Lalu, lihat perkembangan dari aset kripto tersebut.
Jika positif, maka tak ada salahnya untuk menambah modal di aset kripto. Lalu, masyarakat juga bisa menggunakan sisa uang dingin untuk membeli instrumen investasi lain.
Intinya, lebih baik menempatkan dana di berbagai instrumen investasi dibandingkan hanya di dalam satu keranjang investasi. Sebab, jika di aset di instrumen A minus, maka ada potensi di instrumen lain positif sehingga masih memiliki cuan.
5. Cek Identitas Perusahaan
Perencana Keuangan Oneshildt Financial Planning Budi Rahardjo menambahkan masyarakat jangan lupa mengecek identitas perusahaan sebelum berinvestasi.
Misalnya mau investasi di reksa dana yang diterbitkan perusahaan A, masyarakat bisa mengecek apakah perusahaan itu terdaftar di OJK atau tidak.
"Cek juga perusahaan itu mendapatkan izin usaha sesuai tidak dengan yang dioperasikan sekarang. Jangan-jangan iya ada nama PT ada NPWP, tapi izinnya perdagangan, bukan mengelola uang. Itu kan beda," ungkap Budi.
Jika izin usaha sudah sesuai dengan operasional bisnis perusahaan itu sekarang, kata Budi, masyarakat juga jangan langsung berpikir bahwa investasi di perusahaan itu selalu untung. Tidak begitu cara mainnya.
"Meski sudah terdaftar di OJK, bukan berarti investasi aman, dijamin," kata Budi.
Untung dan rugi investasi akan bergantung dari produk yang dipilih dan situasi pasar. Maka dari itu, tak ada satu orang pun yang bisa memberikan kepastian investasi di instrumen A akan selalu untung.Mentok-mentok, seseorang hanya bisa memproyeksi. Bukan memberikan jaminan.