Tips Berhemat di Tengah Kenaikan BBM Imbas Perang Rusia-Ukraina
CNN Indonesia
Sabtu, 05 Mar 2022 08:35 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Perencana keuangan menyarankan masyarakat memprioritaskan kebutuhan primer demi mengantisipasi kenaikan harga BBM imbas perang Rusia-Ukraina. (Istockphoto/Jacoblund).
Jakarta, CNN Indonesia --
Harga bahan bakar minyak (BBM) PT Pertamina (Persero) kembali naik di tengah perang Rusia dan Ukraina. Ketegangan dua negara itu membuat harga minyak mentah dunia melonjak.
Mengutip AFP, Jumat (4/3), harga minyak mentah berjangka Brent dan West Texas Intermediate (WTI) sempat tembus ke level US$110 per barel. Angka itu merupakan yang tertinggi sejak 2014.
Tentu, sebagai negara yang masih banyak mengimpor minyak akan terasa juga dampaknya. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor minyak dan gas (migas) Indonesia sebesar US$18,23 miliar per Januari 2022 atau naik dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$13,33 miliar.
Pjs Corporate Secretary PT Pertamina (Persero)Patra Niaga Sub Holding Commercial & Trading PertaminaIrtoGinting mengatakan pihaknya menaikkan harga Pertamax Turbo, Pertamax Dexlite, hingga Pertamax Dex. Ketiganya naik sekitar Rp500 hingga Rp1.000 per liter.
Dengan kebijakan itu, harga Pertamax Turbo yang Februari lalu dinaikkan dari Rp12 ribu menjadi Rp13.500 kini naik menjadi Rp14.500 per liter. Pertamax Dexlite yang dinaikkan dari Rp9.500 menjadi Rp12.150 kini naik menjadi Rp12.950 per liter.
Lalu, Pertamax Dex yang sebelumnya sudah naik dari Rp11.050 ke Rp13.200 kini dibanderol Rp13.700 per liter. Harga tersebut hampir merata di beberapa daerah seperti Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTT, hingga NTB. Sementara daerah lainnya menyesuaikan dengan harga di masing-masing daerah.
Jika harga BBM di dalam negeri naik, maka otomatis akan berimbas pada banyak hal. Biaya logistik dan sejumlah barang tentu ikut naik.
Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho menyarankan masyarakat mengurangi penggunaan mobil untuk pergi ke kantor. Sebagai gantinya, masyarakat dapat menggunakan motor.
"Jadi beralih ke motor, ini kan jauh lebih hemat. Kerja motor, nanti mobil keluar ketika akhir pekan," ucap Andi.
Jika tak punya motor, masyarakat dapat naik transportasi umum. Contohnya seperti bus TransJakarta dan KRL.
Selain itu, masyarakat juga dapat 'nebeng' dengan teman. Dengan demikian, biaya untuk BBM bisa ditanggung bersama.
"(Transportasi umum) itu akan murah sekali nanti jatuhnya," imbuh Andi.
2. Pangkas Biaya 'Nongkrong'
Selain itu, masyarakat juga dapat 'nebeng' dengan teman. Dengan demikian, biaya untuk BBM bisa ditanggung bersama.Setelah menghemat dari segi transportasi, masyarakat juga dapat mengurangi biaya 'nongkrong'. Pasalnya, 'nongkrong' bukan kebutuhan primer.
"Lihat pos pengeluaran lain, kurangi terutama kemewahan, mengurangi jajan, 'kurangi nongkrong'," ucap Andi.
Andi mengatakan masyarakat mengutamakan kebutuhan prioritas. Hal ini demi menjaga arus kas keuangan tetap lancar meski mayoritas harga naik.
Senada, Perencana Keuangan OneShildt Financial Planning Budi Raharjo mengatakan masyarakat harus mengevaluasi biaya pengeluaran beberapa bulan terakhir. Setelah itu, masyarakat harus membuat daftar prioritas baru dengan membuang hal-hal yang bukan kebutuhan primer.
"Kalau tidak penting dihilangkan dulu. Pengeluaran tersier bisa ditempatkan di belakang. Kurangi frekuensi yang kurang prioritas misalnya 'nongkrong'," tutur Budi.Senada, Perencana Keuangan OneShildt Financial Planning Budi Raharjo mengatakan masyarakat harus mengevaluasi biaya pengeluaran beberapa bulan terakhir. Setelah itu, masyarakat harus membuat daftar prioritas baru dengan membuang hal-hal yang bukan kebutuhan primer.
3. Beli Barang yang Lebih Murah
Selanjutnya, Budi menyarankan agar masyarakat beralih ke produk dengan merek lebih murah, tetapi dengan kualitas yang tetap baik dan memiliki fungsi sesuai kebutuhan.
"Pilih produk-produk lebih murah, tapi fungsi sama, merek turunin tapi fungsi sama kalau untuk beli barang," terang Budi.
Cara lain, masyarakat dapat memburu diskon atau promo. Menurut Budi, biasanya banyak diskon yang bertebaran di e-commerce, sehingga masyarakat dapat memanfaatkan hal tersebut.
"Cari peluang hemat dari digital, promo-promo," imbuh Budi.
Dengan demikian, masyarakat tetap dapat berbelanja sesuai kebutuhan atau keinginan. Namun, masyarakat bisa sedikit berhemat di tengah kenaikan sejumlah harga barang.
4. Cari Peluang Usaha
Ketika mayoritas harga barang naik, Budi mengatakan masyarakat juga harus mulai mencari tambahan pemasukan. Misalnya, masyarakat bisa mulai mencari supplier barang-barang murah untuk dijual kembali.
"Contohnya sekarang lagi musim beli buah, terus cari harga miring. Lalu dijual lagi ke orang lain, selisih harga bisa untuk tambah penghasilan," ujar Budi.
Selain itu, Budi mengatakan masyarakat juga dapat menawarkan jasa sesuai kemampuan diri masing-masing. Bisnis jasa, kata Budi, biasanya tak perlu mengeluarkan modal.
Menurut Budi, berbisnis lebih baik ketimbang harus memaksakan ikut-ikutan trading, tetapi pengetahuan soal investasi masih minim.
"Daripada trading tapi belum menguasai, gejolak-gejolak belum tahu, volatilitas instrumen. Saya lebih prefer cari tambahan kepada income dari bisnis," tutup Budi.Menurut Budi, berbisnis lebih baik ketimbang harus memaksakan ikut-ikutan trading, tetapi pengetahuan soal investasi masih minim.
Harga bahan bakar minyak (BBM) PT Pertamina (Persero) kembali naik di tengah perang Rusia dan Ukraina. Ketegangan dua negara itu membuat harga minyak mentah dunia melonjak.
Mengutip AFP, Jumat (4/3), harga minyak mentah berjangka Brent dan West Texas Intermediate (WTI) sempat tembus ke level US$110 per barel. Angka itu merupakan yang tertinggi sejak 2014.
Tentu, sebagai negara yang masih banyak mengimpor minyak akan terasa juga dampaknya. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor minyak dan gas (migas) Indonesia sebesar US$18,23 miliar per Januari 2022 atau naik dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$13,33 miliar.
Pjs Corporate Secretary PT Pertamina (Persero)Patra Niaga Sub Holding Commercial & Trading PertaminaIrtoGinting mengatakan pihaknya menaikkan harga Pertamax Turbo, Pertamax Dexlite, hingga Pertamax Dex. Ketiganya naik sekitar Rp500 hingga Rp1.000 per liter.
Dengan kebijakan itu, harga Pertamax Turbo yang Februari lalu dinaikkan dari Rp12 ribu menjadi Rp13.500 kini naik menjadi Rp14.500 per liter. Pertamax Dexlite yang dinaikkan dari Rp9.500 menjadi Rp12.150 kini naik menjadi Rp12.950 per liter.
Lalu, Pertamax Dex yang sebelumnya sudah naik dari Rp11.050 ke Rp13.200 kini dibanderol Rp13.700 per liter. Harga tersebut hampir merata di beberapa daerah seperti Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTT, hingga NTB. Sementara daerah lainnya menyesuaikan dengan harga di masing-masing daerah.
Jika harga BBM di dalam negeri naik, maka otomatis akan berimbas pada banyak hal. Biaya logistik dan sejumlah barang tentu ikut naik.
Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho menyarankan masyarakat mengurangi penggunaan mobil untuk pergi ke kantor. Sebagai gantinya, masyarakat dapat menggunakan motor.
"Jadi beralih ke motor, ini kan jauh lebih hemat. Kerja motor, nanti mobil keluar ketika akhir pekan," ucap Andi.
Jika tak punya motor, masyarakat dapat naik transportasi umum. Contohnya seperti bus TransJakarta dan KRL.
Selain itu, masyarakat juga dapat 'nebeng' dengan teman. Dengan demikian, biaya untuk BBM bisa ditanggung bersama.
"(Transportasi umum) itu akan murah sekali nanti jatuhnya," imbuh Andi.
2. Pangkas Biaya 'Nongkrong'
Selain itu, masyarakat juga dapat 'nebeng' dengan teman. Dengan demikian, biaya untuk BBM bisa ditanggung bersama.Setelah menghemat dari segi transportasi, masyarakat juga dapat mengurangi biaya 'nongkrong'. Pasalnya, 'nongkrong' bukan kebutuhan primer.
"Lihat pos pengeluaran lain, kurangi terutama kemewahan, mengurangi jajan, 'kurangi nongkrong'," ucap Andi.
Andi mengatakan masyarakat mengutamakan kebutuhan prioritas. Hal ini demi menjaga arus kas keuangan tetap lancar meski mayoritas harga naik.
Senada, Perencana Keuangan OneShildt Financial Planning Budi Raharjo mengatakan masyarakat harus mengevaluasi biaya pengeluaran beberapa bulan terakhir. Setelah itu, masyarakat harus membuat daftar prioritas baru dengan membuang hal-hal yang bukan kebutuhan primer.
"Kalau tidak penting dihilangkan dulu. Pengeluaran tersier bisa ditempatkan di belakang. Kurangi frekuensi yang kurang prioritas misalnya 'nongkrong'," tutur Budi.Senada, Perencana Keuangan OneShildt Financial Planning Budi Raharjo mengatakan masyarakat harus mengevaluasi biaya pengeluaran beberapa bulan terakhir. Setelah itu, masyarakat harus membuat daftar prioritas baru dengan membuang hal-hal yang bukan kebutuhan primer.
Buru Diskon, Cari Barang Murah
Perencana keuangan menyarankan masyarakat memprioritaskan kebutuhan primer demi mengantisipasi kenaikan harga BBM imbas perang Rusia-Ukraina. (iStockphoto/Creative-Family).
3. Beli Barang yang Lebih Murah
Selanjutnya, Budi menyarankan agar masyarakat beralih ke produk dengan merek lebih murah, tetapi dengan kualitas yang tetap baik dan memiliki fungsi sesuai kebutuhan.
"Pilih produk-produk lebih murah, tapi fungsi sama, merek turunin tapi fungsi sama kalau untuk beli barang," terang Budi.
Cara lain, masyarakat dapat memburu diskon atau promo. Menurut Budi, biasanya banyak diskon yang bertebaran di e-commerce, sehingga masyarakat dapat memanfaatkan hal tersebut.
"Cari peluang hemat dari digital, promo-promo," imbuh Budi.
Dengan demikian, masyarakat tetap dapat berbelanja sesuai kebutuhan atau keinginan. Namun, masyarakat bisa sedikit berhemat di tengah kenaikan sejumlah harga barang.
4. Cari Peluang Usaha
Ketika mayoritas harga barang naik, Budi mengatakan masyarakat juga harus mulai mencari tambahan pemasukan. Misalnya, masyarakat bisa mulai mencari supplier barang-barang murah untuk dijual kembali.
"Contohnya sekarang lagi musim beli buah, terus cari harga miring. Lalu dijual lagi ke orang lain, selisih harga bisa untuk tambah penghasilan," ujar Budi.
Selain itu, Budi mengatakan masyarakat juga dapat menawarkan jasa sesuai kemampuan diri masing-masing. Bisnis jasa, kata Budi, biasanya tak perlu mengeluarkan modal.
Menurut Budi, berbisnis lebih baik ketimbang harus memaksakan ikut-ikutan trading, tetapi pengetahuan soal investasi masih minim.
"Daripada trading tapi belum menguasai, gejolak-gejolak belum tahu, volatilitas instrumen. Saya lebih prefer cari tambahan kepada income dari bisnis," tutup Budi.Menurut Budi, berbisnis lebih baik ketimbang harus memaksakan ikut-ikutan trading, tetapi pengetahuan soal investasi masih minim.