Mengenal Hiperinflasi, Ancaman usai Inflasi September Nyaris 6 Persen
CNN Indonesia
Senin, 03 Okt 2022 20:03 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ketua MPR Bambang Soesatyo meramal hiperinflasi akan terjadi di Indonesia pada September 2022, ditandai dengan inflasi yang tembus di kisaran 10-12 persen. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Ciri khas hiperinflasi menurut Boediono adalah hilangnya kepercayaan orang saat memegang uang.
"Begitu dia menerima uang, segera dia belanjakan untuk membeli barang untuk menghindari kerugian dari nilai uang yang merosot cepat," lanjutnya.
Gejala psikologis tersebut dinamai kecepatan perpindahan uang (velocity of circulation of money) atau ia sebut "V".
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan V bisa menimbulkan suatu paradoks. Meski jumlah uang terus bertambah cepat, pelaku ekonomi selalu merasakan kekurangan likuiditas.
Apakah Indonesia Terancam Kembali ke Jurang Hiperinflasi?
Analis Makro Bank Mandiri Faisal Rachman tidak melihat adanya hiperinflasi di Indonesia untuk tahun ini. Pasalnya, kondisi global dikatakan sudah mulai membaik, harga minyak dunia pun berangsur turun.
"Kalau dilihat, fear of global recession telah menurunkan harga komoditas dunia. Kemarin harga pertamax juga diturunkan lagi. Jadi, kalau melihat itu saya rasa tidak akan sampai hiperinflasi," jelasnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (3/10).
Sampai akhir tahun, ia memproyeksi inflasi akan berada di level 6,27 persen. Jika ada risiko yang lebih besar pun tidak akan melebihi 7 persen.
Sejalan dengan Faisal, Direktur Eksekutif Segara Institute Piter Abdullah melihat kemungkinan hiperinflasi terjadi di Indonesia sangat jauh. Apalagi, inflasi year to date 2022 masih aman di level 4,84 persen.
"Jadi lonjakan inflasi pasca kenaikan harga BBM masih cukup terkendali. Memang ada kenaikan tapi bukan skenario terburuk. Hiperinflasi jauh dari mungkin terjadi. Sampai akhir tahun inflasi saya perkirakan di kisaran 5,75-6,25 persen," jelas Piter.
Meski hiperinflasi adalah peristiwa langka khususnya untuk negara maju, ini telah terjadi berkali-kali sepanjang sejarah di negara-negara seperti China, Jerman, Rusia, Hongaria, dan Georgia.
Menurut Boediono, inflasi apalagi hiperinflasi selalu merupakan proses interaksi yang intens antara ekonomi dan politik.
"Sejarah menunjukkan bahwa hiperinflasi biasanya berakhir (dan seringkali hanya biasa diakhiri) dengan perubahan sistem politik. Itu terjadi di Indonesia pada 1966," jelasnya.
Menurut data penelitian Ekonom AS Steve Hanke dan Nicholas Krus, rata-rata negara yang pernah merasakan hiperinflasi adalah mereka yang terdampak perang dunia. Berikut daftar 10 negara yang pernah merasakan kejamnya hiperinflasi:
1. Hungaria (1945-1946, inflasi bulanan tertinggi 41,9 triliun persen) 2. Zimbabwe (2007-2008, inflasi bulanan tertinggi 7,96 miliar persen) 3. Yugoslavia (1992-1994, inflasi bulanan tertinggi 313 juta persen) 4. Republik Srpska (1992-1994, inflasi bulanan tertinggi 297 juta persen) 5. Jerman (1922-1923, inflasi bulanan tertinggi 29,5 ribu persen) 6. Yunani (1941-1945, inflasi bulanan tertinggi 13,8 ribu persen) 7. China (1947-1949, inflasi bulanan tertinggi 5.070 persen) 8. Danzig (1922-1923, inflasi bulanan tertinggi 2.440 persen) 9. Armenia (1993-1994, inflasi bulanan tertinggi 438 persen) 10. Turkmenistan (1993-1994, inflasi bulanan tertinggi 429 persen)
(skt/dnz)
Jakarta, CNN Indonesia --
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Bambang Soesatyo (Bamsoet) pernah meramal hiperinflasi akan terjadi di Indonesia pada September 2022.
Prediksi itu ia lontarkan dalam Pidato Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI & DPD RI Tahun 2022 di Gedung DPR pada Agustus lalu.
Bamsoet memprediksi hiperinflasi ditandai dengan inflasi yang tembus di kisaran 10-12 persen.
Lantas, apa sebenarnya pengertian hiperinflasi, penyebab, dampak, hingga tanggapan para ahli? Simak penjelasan berikut ini.
Arti Hiperinflasi
Eks Wakil Presiden RI Boediono menjelaskan hiperinflasi dalam bukunya berjudul "Ekonomi Indonesia", sebagai stadium akhir dari penyakit inflasi yang menahun dan tidak ditangani dengan tuntas.
Sementara, Investopedia dan Forbes mendeskripsikan hiperinflasi sebagai inflasi yang meningkat dengan cepat. Biasanya mencapai lebih dari 50 persen per bulan.
Secara sederhana, hiperinflasi adalah istilah untuk menggambarkan kenaikan harga umum yang cepat, berlebihan, dan tidak terkendali dalam suatu perekonomian negara.
Ada dua faktor utama yang bisa menyebabkan hiperinflasi, yaitu pasokan uang berlebih dan inflasi tarikan permintaan.
Hiperinflasi bisa disebabkan oleh peningkatan pesat jumlah uang beredar suatu negara, biasanya ketika pemerintah menciptakan lebih banyak uang. Ketika lebih banyak uang tersedia, nilai setiap unit mata uang turun dan harga-harga bakal naik.
Hiperinflasi juga bisa terjadi ketika peningkatan permintaan yang tiba-tiba melebihi penawaran, disebut dengan inflasi tarikan permintaan. Jadi orang-orang kehilangan kepercayaan pada sistem moneter suatu negara.
Hal ini membuat harga meroket cepat karena tidak ada cukup barang dan jasa yang tersedia untuk memenuhi peningkatan permintaan keseluruhan dari konsumen.
Harga barang-barang konsumsi naik terlalu cepat untuk mengimbangi upah saat terjadi hiperinflasi, membuat konsumen tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar.
Orang-orang bakal menimbun produk karena takut akan kenaikan harga di masa depan atau berkurangnya pasokan. Namun, tindakan ini malah memperparah hiperinflasi.
Selain itu, orang-orang mungkin tidak bakal menyimpan uang di lembaga keuangan. Ini membuat bank dan pemberi pinjaman bangkrut.
"Hiperinflasi umumnya akan melumpuhkan ekonomi dan kadang-kadang menyebabkan keruntuhan total sistem ekonomi dan moneter," kata Penasihat Investasi dan Pendiri Stivers Financial Services Brian Stivers, mengutip Forbes.
Indonesia Pernah Alami Hiperinflasi
Hiperinflasi pernah terjadi di Indonesia pada akhir masa Orde Lama, 1963-1965.
Presiden RI saat itu, Soekarno, memiliki proyek pembangunan mencetak Rupiah untuk membayar utang dan mendanai proyek-proyek megah.
Tingkat inflasi saat itu terus meroket. Pada 1962, inflasi tahunan mencapai 165 persen dan mencapai puncak pada 1965 ketika inflasi menembus 600 persen.
Pendapatan per kapita Indonesia anjlok. Itu membuat Pemerintah RI melakukan pemotongan pemotongan nilai rupiah (Sanering/Gunting Syafrudin) dari 1000 Rupiah menjadi 1 Rupiah pada Desember 1965.
Boediono juga menyinggung dalam bukunya bahwa Indonesia pernah mengalami hiperinflasi sekitar tahun 1961 atau akhir era Orde Lama. Saat itu, inflasi biasa berubah menjadi hiperinflasi.
"Hiperinflasi ditandai oleh laju inflasi yang sangat tinggi, barangkali di kisaran 100 persen atau lebih," jelas eks Gubernur Bank Indonesia (BI) tersebut dalam bukunya.
Sebut Ciri Hiperinflasi adalah Hilangnya Kepercayaan Terhadap Uang
Ketua MPR Bambang Soesatyo meramal hiperinflasi akan terjadi di Indonesia pada September 2022, ditandai dengan inflasi yang tembus di kisaran 10-12 persen. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Ciri khas hiperinflasi menurut Boediono adalah hilangnya kepercayaan orang saat memegang uang.
"Begitu dia menerima uang, segera dia belanjakan untuk membeli barang untuk menghindari kerugian dari nilai uang yang merosot cepat," lanjutnya.
Gejala psikologis tersebut dinamai kecepatan perpindahan uang (velocity of circulation of money) atau ia sebut "V".
Kenaikan V bisa menimbulkan suatu paradoks. Meski jumlah uang terus bertambah cepat, pelaku ekonomi selalu merasakan kekurangan likuiditas.
Apakah Indonesia Terancam Kembali ke Jurang Hiperinflasi?
Analis Makro Bank Mandiri Faisal Rachman tidak melihat adanya hiperinflasi di Indonesia untuk tahun ini. Pasalnya, kondisi global dikatakan sudah mulai membaik, harga minyak dunia pun berangsur turun.
"Kalau dilihat, fear of global recession telah menurunkan harga komoditas dunia. Kemarin harga pertamax juga diturunkan lagi. Jadi, kalau melihat itu saya rasa tidak akan sampai hiperinflasi," jelasnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (3/10).
Sampai akhir tahun, ia memproyeksi inflasi akan berada di level 6,27 persen. Jika ada risiko yang lebih besar pun tidak akan melebihi 7 persen.
Sejalan dengan Faisal, Direktur Eksekutif Segara Institute Piter Abdullah melihat kemungkinan hiperinflasi terjadi di Indonesia sangat jauh. Apalagi, inflasi year to date 2022 masih aman di level 4,84 persen.
"Jadi lonjakan inflasi pasca kenaikan harga BBM masih cukup terkendali. Memang ada kenaikan tapi bukan skenario terburuk. Hiperinflasi jauh dari mungkin terjadi. Sampai akhir tahun inflasi saya perkirakan di kisaran 5,75-6,25 persen," jelas Piter.
Meski hiperinflasi adalah peristiwa langka khususnya untuk negara maju, ini telah terjadi berkali-kali sepanjang sejarah di negara-negara seperti China, Jerman, Rusia, Hongaria, dan Georgia.
Menurut Boediono, inflasi apalagi hiperinflasi selalu merupakan proses interaksi yang intens antara ekonomi dan politik.
"Sejarah menunjukkan bahwa hiperinflasi biasanya berakhir (dan seringkali hanya biasa diakhiri) dengan perubahan sistem politik. Itu terjadi di Indonesia pada 1966," jelasnya.
Menurut data penelitian Ekonom AS Steve Hanke dan Nicholas Krus, rata-rata negara yang pernah merasakan hiperinflasi adalah mereka yang terdampak perang dunia. Berikut daftar 10 negara yang pernah merasakan kejamnya hiperinflasi:
1. Hungaria (1945-1946, inflasi bulanan tertinggi 41,9 triliun persen) 2. Zimbabwe (2007-2008, inflasi bulanan tertinggi 7,96 miliar persen) 3. Yugoslavia (1992-1994, inflasi bulanan tertinggi 313 juta persen) 4. Republik Srpska (1992-1994, inflasi bulanan tertinggi 297 juta persen) 5. Jerman (1922-1923, inflasi bulanan tertinggi 29,5 ribu persen) 6. Yunani (1941-1945, inflasi bulanan tertinggi 13,8 ribu persen) 7. China (1947-1949, inflasi bulanan tertinggi 5.070 persen) 8. Danzig (1922-1923, inflasi bulanan tertinggi 2.440 persen) 9. Armenia (1993-1994, inflasi bulanan tertinggi 438 persen) 10. Turkmenistan (1993-1994, inflasi bulanan tertinggi 429 persen)