PHK Massal Landa Dunia, Bagaimana Nasib Indonesia?

CNN Indonesia
Jumat, 17 Jul 2026 07:10 WIB
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) tengah melanda sejumlah perusahaan di beberapa negara. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) tengah melanda sejumlah perusahaan di beberapa negara.

Salah satu yang menyita perhatian adalah perusahaan teknologi Microsoft yang mengumumkan bakal melakukan PHK massal 4.800 karyawan atau setara 2,1 persen dari total tenaga kerja globalnya.

Kemudian, PHK juga dilakukan induk dari Facebook, yaitu Meta. Mereka melakukan PHK massal secara global seperti di Inggris, Amerika Serikat, dan Singapura. Jumlah pekerja yang terdampak diperkirakan mencapai 8 ribu.

Selain itu, ada perusahaan otomotif Volkswagen Grup (VW) yang tengah mempertimbangkan penutupan sejumlah pabrik, sehingga memunculkan potensi pemangkasan 100 ribu pekerja.

Menanggapi hal ini, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyatakan terus memantau pergerakan ekonomi global.

Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor mengakui situasi di luar memang penuh tantangan, mulai dari geopolitik yang memanas, rantai pasok yang terganggu, sampai pergeseran industri karena digitalisasi.

"Ini jelas berdampak pada perusahaan-perusahaan kita yang bergantung pada pasar ekspor," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (15/7).

Namun, ia menilai struktur ekonomi Indonesia punya daya tahan yang berbeda.

Pasar Indonesia disebut masih sangat kuat karena ditopang oleh konsumsi domestik, sehingga dampak dari tantangan tersebut tidak mentah-mentah langsung memukul seperti negara lain.

Meski demikian, Afriansyah menyatakan Kemnaker tidak ingin lengah. Mereka bersama kementerian lain, asosiasi pengusaha, dan serikat buruh terus berkoordinasi erat di lapangan.

"Prinsip kami tetap jelas sejak awal: PHK adalah jalan paling terakhir. Semua opsi penyelamatan hubungan kerja harus dicoba dulu sampai maksimal," ujarnya.

Berdasarkan informasi yang diterima Afriansyah dari lapangan, ada beberapa perusahaan yang terpaksa melakukan penyesuaian operasional demi merespons dinamika pasar global.

Kemnaker sendiri mencatat sebanyak 43 ribu pekerja mengalami PHK sepanjang Januari-Juni 2026.

Selain itu, ada sejumlah sektor yang menjadi perhatian Kemnaker saat ini karena dinilai memiliki risiko PHK yang tinggi dibanding yang lain. Sektor-sektor ini disebut paling sensitif terhadap fluktuasi pasar internasional.

Pertama adalah industri padat karya seperti tekstil, garmen, dan alas kaki. Sektor ini dinilai paling cepat terasa kalau ada penurunan order dari luar negeri.

Kedua adalah industri elektronik tertentu yang bahan baku atau pasarnya masih sangat bergantung pada rantai pasok global.

"Terakhir, beberapa sub-sektor pertambangan yang operasionalnya langsung terpengaruh oleh naik-turunnya harga komoditas dunia," ujar Afriansyah.

Langkah Kemnaker

Sejumlah langkah antisipasi disiapkan Kemnaker guna mencegah terjadinya PHK massal yang saat ini sedang melanda dunia.

Pertama, Kemnaker memperkuat fungsi deteksi dini lewat sinergi petugas mediator dan pengawas ketenagakerjaan di daerah agar bisa mendeteksi perusahaan yang mulai "lampu kuning".

Kedua, Kemnaker mendorong perundingan bipartit yang sehat antara manajemen dan pekerja untuk mencari titik temu sebelum mengambil keputusan ekstrem.

Ketiga, Kemnaker menyarankan opsi-opsi alternatif. Misalnya dengan mengatur ulang pola kerja, menekan efisiensi pada biaya non-karyawan, atau memanfaatkan momentum ini untuk reskilling dan upskilling pekerja agar produktivitasnya naik.

Afriansyah sadar betul dunia usaha yang sehat adalah kunci tersedianya lapangan kerja, sedangkan pekerja yang sejahtera adalah penggerak produktivitasnya.

"Kuncinya ada pada kolaborasi dan komunikasi yang transparan antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja untuk menghadapi situasi sulit ini secara bersama-sama," ujarnya.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Bagaimana dari Sisi Dunia Usaha?


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :