Berdasarkan fakta itu, tak heran bila sebagian besar orang yang hidup di Jakarta merasa tidak bahagia. Polusi, macet, serta banjir merupakan beberapa masalah yang menyurutkan kebahagiaan warga Jakarta. Ada pula masalah lain, yaitu kurangnya ruang publik.
Hal tersebut diungkapkan oleh Sosiolog Imam Prasodjo. Ia menjelaskan setidaknya ada dua jenis kebahagiaan, yaitu kebahagiaan individual dan kebahagiaan sosial. Kebahagiaan individual bersumber dari diri sendiri, sedangkan kebahagiaan sosial tercipta karena hubungan dengan orang lain. Sifatnya lebih relasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena itu, dijelaskan oleh Imam, ruang publik jadi faktor yang sangat penting untuk membuat seseorang bahagia. Sayangnya, Jakarta sangat minim ruang publik.
"Jika Jakarta punya ruang publik yang nyaman dan semua orang bisa berpartisipasi dan menunjukkan rasa toleransi, maka akan muncul kebahagiaan yang lengkap dalam diri warga Jakarta," kata dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia ini.
Ruang publik tersebut mencakup taman, gedung olahraga, pusat seni, tempat konser musik, dan tempat penayangan film. "Ruang publik harus disesuaikan dengan warga yang ada di sekitar. Misalnya, di wilayah bersangkutan ada banyak ibu-ibu yang suka olahraga. Dari situ, bisa dibangun pusat kebugaran atau jalur lari pagi," katanya.
Imam menyarankan, agar pemerintah mau membeli lahan-lahan kosong yang masih banyak di Jakarta. Ia menyarankan agar lahan-lahan kosong itu dimanfaatkan menjadi ruang publik yang berguna bagi orang banyak.
"Jadikan lahan-lahan itu aset publik. Lalu libatkan masyarakat sekitar untuk mengelolanya. Supaya mereka punya perasaan memiliki,"
(vga/vga)