“Terapi audio adalah kesempatan menarik yang harus dipertimbangkan oleh rumah sakit sebagai strategi penting untuk meminimalkan rasa sakit pada anak-anak yang menjalani operasi besar,” kata penulis senior penelitian Santhanam Suresh seperti dilansir dari laman Huffington Post.
“Cara ini murah dan tanpa efek samping.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suresh menekankan pentingnya membiarkan pasien memilih musik mereka. “Semua orang terhubung dengan musik, tetapi orang-orang memiliki preverensi yang berbeda,” katanya. Pasien melaporkan tingkat nyeri yang dirasakan sebelum dan setelah terapi audio. Caranya mereka diminta mengidentifikasi gambar ekspresi wajah yang paling mewakili perasaan mereka.
Sementara, pasien memiliki berbagai rasa sakit di awal, terapi bekerja berdasarkan pada berapa banyak rasa sakit yang mereka keluhkan setelah operasi, menurut penelitian tersebut.
Tim peneliti membagi responden ke dalam tiga kelompok, masing-masing mendapatkan berbagai jenis terapi audio, termasuk audio book, musik, dan noise-cancelling headphones yang masing-masing berlangsung selama 30 menit.
Satu-satunya kelompok yang tidak memiliki penurunan yang signifikan dalam nyeri adalah kelompok yang menggunakan headphone noise-cancelling, menurut penelitian itu. Penelitian, yang diterbitkan dalam jurnal Pediatric Surgery, itu diyakini sebagai evaluasi acak pertama terapi audio pertama yang digunakan sebagai metode mengatasi rasa sakit pada pasien anak.
(win/utw)