Bisakah Manusia Bertahan di Suhu Dingin yang Ekstrem?

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Rabu, 08/04/2015 16:15 WIB
Bisakah Manusia Bertahan di Suhu Dingin yang Ekstrem? Ilustrasi (Reuters/Yuri Gripas)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mario Stevan, si penyusup dalam roda pesawat ditemukan dalam kondisi yang kedinginan dan kekurangan oksigen. Dikatakan Jeffry Tenggara, dokter ahli penyakit dalam dari MRCCC Siloam Semanggi mengatakan semua hal ini disebabkan karena adanya perubahan tekanan yang tiba-tiba.

"Tubuh manusia bisa beradaptasi dengan perubahan ini, namun tidak dalam waktu yang sangat cepat," kata dr. Jeffry Tenggara Sp.PD kepada CNN Indonesia, Rabu (8/4)

Tubuh manusia memang bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Bahkan di dalam kondisi yang minim oksigen dan dingin sekalipun. Buktinya penduduk Tibet mampu bertahan hidup di lingkungan yang cukup ekstrem bagi manusia.


Namun kondisi ini akan sangat berbeda, ketika wisawatan tiba-tiba datang ke Tibet. Ketika mengunjungi Tibet, Anda harus berjuang keras untuk hidup di ketinggian. Anda bahkan juga mungkin harus menghadapi penyakit di ketinggian. Belum lagi ada masalah dengan oksigen yang tipis.

Melansir Live Science, dalam sebuah studi di jurnal Science melaporkan bahwa masyarakat Tibet sudah memiliki ketahanan genetik dan sudah bisa beradaptasi dengan ketinggian wilayah dan semua 'permasalahannya.'

Dalam penelitian terpisah, peneliti meneliti genom manusia Tibet yang terkait dengan kandungan hemoglobin (Hb) yang rendah dalam darah. Ini menjelaskan bagaimana orang Tibet bisa bertahan hidup sekalipun di kondisi lingkungan yang rendah oksigen.

Studi lain yang dimuat dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, menyoroti bagaimana orang Tibet yang sudah hidup di ketinggian ekstrem selama lebih dari 10.000 tahun ini berevolusi. Mereka berevolusi dari zaman nenek moyang yang sebelumnya hidup di ketinggian rendah dan berpindah ke ketinggian ekstrem ribuan tahun lalu.

Tekanan udara yang rendah di ketinggian berarti molekul oksigen akan lebih sedikit masuk ke dalam tubuh. "Ketinggian wilayah akan memengaruhi pemikiran, pernapasan, dan kemampuan Anda untuk tidur. Tetapi masyarakat pribumi Tibet tidak bermasalah dengan ini," kata rekan penulis Cynthia Beall dari Case Western Reserve University. "Mereka bisa hidup sehat, dan mereka benar-benar merasa nyaman."

Ternyata, orang-orang yang hidup dan tinggal di dataran tinggi merespons hal ini dengan memproduksi hemoglobin lebih banyak. Hemoglobin adalah komponen pembawa oksigen dari dalam darah manusia. "Ini sebabnya atlet ingin berlatih di ketinggian," kata Beall. "Hal ini akan meningkatkan kapasitas pengangkutan oksigen dalam tubuh."

Hanya saja, terlalu banyak hemoglobin dalam darah juga bisa berakibat buruk. Hemoglobin berlebih adalah ciri khas penyakit 'orang gunung' — sebutan orang yang tinggal di dataran tinggi — ini merupakan sebuah reaksi yang berlebihan terhadap suatu ketinggian tempat.

Hal ini ditandai dengan darah yang 'tebal' dan kental. Namun uniknya, berbeda dari wilayah lainnya, evolusi penduduk Tibet nyatanya bisa mempertahankan produksi hemoglobin yang relatif rendah untuk penduduk di dataran tinggi. Hal ini membuat mereka jadi lebih tahan penyakit dibanding populasi lainnya.

Kromosom tahan dingin

Para peneliti mengumpulkan sampel darah dari hampir 200 desa di Tibet sekitar Himalaya. Sampel darah ini dibandingkan dengan DNA populasi lain di dataran rendah Tiongkok, mereka memiliki kesamaan kromosom. Keduanya sama-sama memiliki kromosom 2 yang disebut EPAS1. Kromosom ini terlibat dalam produksi sel darah merah dan konsentrasi hemoglobin dalam darah.

Awalnya peneliti menyangka gen inilah yang menyebabkan penduduk Tibet tahan dingin. Namun kenyataannya, semua manusia memiliki EPAS1. Hanya saja, penduduk Tibet memiliki EPAS1 yang khusus, warisan dari orang tuanya. "Ini adalah bukti kuat adanya seleksi genetik di Tibet," ucap Peter Robbins dari Oxford University.


(chs/mer)