Sering Ejakulasi Mengurangi Risiko Kanker Prostat pada Pria

Windratie, CNN Indonesia | Senin, 25/05/2015 20:04 WIB
Sering Ejakulasi Mengurangi Risiko Kanker Prostat pada Pria Menurut penelitian laki-laki yang sering mengalami ejakulasi berisiko lebih kecil terkena kanker prostat. (CNN Indonesia internet/ bark/Flickr)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lelaki yang mengalami ejakulasi hampir setiap hari berisiko lebih rendah terkena kanker prostat, berdasarkan temuan para ahli, seperti dilansir laman Independent.

Dalam sebuah penelitian besar yang mengeksplorasi hubungan potensial ejakulasi dan kanker prostat, para peneliti menemukan, lelaki berusia antara 40 sampai 49 tahun yang ejakulasi setidaknya 21 kali dalam satu bulan, berisiko lebih kecil mengidap kanker prostat, dari mereka yang ejakulasi empat sampai tujuh kali.

Untuk melakukan temuan ini, para ahli di Sekolah Kedoteran Harvard meneliti sekitar 32 ribu orang selama 18 tahun. Sebanyak 3.839 orang didiagnosis mengidap kanker prostat selama waktu tersebut.


Para peneliti bertanya kepada para responden laki-laki itu, seberapa sering mereka mengalami ejakulasi pada usia 20 hingga 29, 40 hingga 49, dan pada tahun 1991, sebelum survei dimulai.

Hasil penelitian menunjukkan, lelaki yang lebih sering mengalami ejakulasi berisiko lebih kecil mengembangkan penyakit kanker prostat pada ketiga titik penelitian tersebut. Hasil temuan tidak berubah ketika faktor lingkungan, termasuk diet, gaya hidup, pemeriksaan kanker prostat diterapkan.

Jennifer Rider, dokter dari Sekolah Kedokteran Harvard, dan Rumah Sakit Perempuan Brigham, mengatakan, temuan tersebut sebagai hal yang menggembirakan, tetapi data pengamatan harus ditafsirkan dengan hati-hati.

Para peneliti berharap mereka dapat menunjukkan mengapa ejakulasi dapat mengurangi risiko kanker prostat.

Penelitian sebelumnya melaporkan bahwa ejakulasi dapat mengurangi kemungkinan kanker prostat, karena ejakulasi efektif untuk membilas agen penyebab kanker.

Kanker prostat adalah penyakit paling umum yang dialami kaum laki-laki di Inggris. Setidaknya ada 40 ribu kasus baru didiagnosis setiap tahun, menurut lembaga kesehatan NHS.


(win/win)