Kelainan Genital yang Bikin Pria Tak Bisa Kencing Berdiri

Merry Wahyuningsih, CNN Indonesia | Kamis, 28/05/2015 15:50 WIB
Kelainan Genital yang Bikin Pria Tak Bisa Kencing Berdiri Ilustrasi kesehatan organ intim pria. (Hafizov Ivan/GettyImages)
Jakarta, CNN Indonesia -- Normalnya, seorang laki-laki bisa buang air kecil dengan posisi berdiri karena lubang kencingnya berada di ujung alat kelamin. Namun, dalam kondisi tertentu kencing berdiri tak bisa dilakukan karena adanya kelainan genital.

Dalam dunia kedokteran kondisi tersebut dikenal dengan istilah hipospadia, yaitu kelainan bawaan lahir pada anak laki-laki yang dicirikan dengan letak abnormal lubang kencing. Lubang kencing tidak berada di ujung kepala penis seperti layaknya, tetapi berada lebih ke bawah atau lebih pendek.

Letak lubang kencing abnormal bervariasi, dapat terletak pada kepala penis namun tidak tepat di ujung (hipospadia tipe glanular), pada leher kepala penis (tipe koronal), pada batang penis (tipe penil), pada perbatasan pangkal penis dan kantong kemaluan (tipe penoskrotal), bahkan pada kantong kemaluan (tipe skrotal) atau daerah antara kantong kemaluan dan anus (tipe perineal).


(Baca juga: Waspada Mikropenis pada Bayi Berkelamin Kurang dari 2 Cm)

“Kencingnya mancur ke bawah, biasanya tidak bisa kencing berdiri tapi harus jongkok,” ujar dr. Arry Rodjani, SpU (K), dokter spesialis urologi dari RS Siloam ASRI, dalam acara seminar media ‘Kenali dan Pahami Kelainan Genital pada Anak Laki-laki Sejak Dini!’, di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (28/5).

Biasanya di sekitar lubang kencing abnormal tersebut terbentuk jaringan ikat (fibrosis) yang bersifat menarik dan mengerutkan kulit sekitarnya. “Kulit kulupnya seperti jengger ayam. Kalau ereksi bengkok,” katanya melanjutkan.

Selain adanya kelainan lubang kencing, sebagian besar anak dengan kelainan hipospadia juga memiliki bentuk batang penis yang melengkung.

Penyebab hipospadia sampai saat ini belum dapat diketahui secara pasti, tetapi biasanya melibatkan banyak faktor. Bisa dari kelainan endokrin atau hormonal, genetik, atau faktor lingkungan seperti paparan pestisida, hormon, dan lainnya.

“Ada peningkatan kasus dalam 10-20 tahun terakhir. Penyebabnya karena lingkungan yang mengganggu hormon sejak bayi dalam kandungan. Misalnya penggunaan bedak saat hamil, aerosol spray, dan makanan yang mengandung hormon,” kata dr Arry.

Kasus hipospadia pada anak laki-laki terbilang banyak, yaitu 1 kasus di antara 250 sampai 300 jumlah kelahiran bayi laki-laki hidup.
Hipospadia tidak menimbulkan rasa sakit namun menyebabkan gangguan saat berkemih. Selain itu, setelah dewasa dapat menyebabkan gangguan pada fungsi reproduksi saat ejakulasi karena bentuk penis yang melengkung saat ereksi sehingga terjadi kesulitan penetrasi penis saat berhubungan badan dan gangguan pancaran ejakulasi.

Tapi, dengan adanya kemajuan ilmu kedokteran, saat ini hipospadia dapat disembuhkan melalui tindakan rekonstruksi.

“Waktu pembedahan idealnya usia 6-24 bulan, karena risiko pembiusan setelah usia 6 bulan relatif kecil dan penis sudah cukup berkembang,” kata dr Arry.

Operasi yang dilakukan bisa satu atau beberapa tahap, tapi diharapkan operasi sudah selesai seluruhnya sebelum usia 2 tahun karena si anak sudah mulai paham dengan alat kelaminnya dan mencegah timbulnya masalah psikologi pada anak.

“Anak-anak kan biasanya suka lomba jauh-jauhan kencing sama teman-temannya. Tapi kalau anaknya hipospadia ya tidak bisa seperti itu,” kata dr Arry.