Tanpa informasi yang pasti mengenai kandungan klorin dalam pembalut, masyarakat menangkap informasi tidak seimbang mengenai fungsi klorin pada pembalut. Menurut M. Nurhadi Rahman, Ketua Asosiasi Ginekolog, sebetulnya ada dua hal yang harus diketahui mengapa klorin atau dioksin ada dalam pembalut.
“Klorin dipakai dalam proses pemutihan awal pembalut,” kata Nurhadi. Menurutnya, proses pembuatan pembalut yang memakai campuran kapas dan rayon menghasilkan warna yang agak jelek sehingga diperlukan proses pemutihan yang memakai klorin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proses pemutihan bebas klorin kedua adalah totally free chlorine bleaching. “Yakni pemutihan yang benar-benar bebas klorin,” ucap Nurhadi melanjutkan.
Di Amerika Serikat, pemutihan pembalut bebas klorin yang dibolehkan oleh badan kesehatan Food and Drug Administration (FDA) adalah elemental chlorine-free. “Yang dibolehkan oleh FDA adalah yang (pembalut) bebas klorin tapi elemental.”
Artinya, Nurhadi menambahkan, pembalut yang dipakai di Amerika adalah pembalut yang bebas klorin, tapi tetap memiliki kadar klorin yang sangat kecil. “Pembalut mereka bebas klorin tapi tetap memiliki kandungan klorin yang kecil sekali, yaitu 0,1 sampai 1 dari satu triliun dioksin klorin,” ucapnya.
Kandungan tersebut dikatakan bebas, tapi masih ada, ujar Nurhadi.
Apakah di Indonesia memakai standar yang sama, Nurhadi mengaku tidak mengetahuinya. “Namun, jika masih beredar kadar klorin dalam pembalut yang menyalahi aturan, itu berarti menyalahi standar yang ditetapkan dari BPOM,” katanya mengungkapkan.
(win/mer)