Sosok Wakil Indonesia dalam Kompetisi Sushi Dunia di Jepang

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Jumat, 28/08/2015 10:34 WIB
Sosok Wakil Indonesia dalam Kompetisi Sushi Dunia di Jepang Slamet Basuki terlihat selalu membersihkan tangan dengan air cuka sebelum membuat sushi selanjutnya dalam babak regional Global Sushi Challenge, Tangerang, Kamis (27/8). (CNN Indonesia/Hanna Azarya Samosir
Jakarta, CNN Indonesia -- "Saya sedang memisahkan ikan dari kulitnya. Saya tinggal ikannya sebentar, orang Jepang ini mengamuk tak karuan," ujar koki dan pengelola Restoran Umaku, Slamet Basuki, kepada CNN Indonesia.

Bukan sembarang orang Jepang, amukan tersebut tersembur dari mulut pemilik restoran tempat Basuki bekerja, Desember 1997. Tak pernah terbersit di benak lulusan ilmu pelayaran ini sebelumnya, akan berada di dalam restoran yang dinahkodai oleh seorang Jepang.

Namun, badai kritik dan pelajaran yang Basuki dapatkan dalam restoran tersebut ternyata mengubah arus kehidupannya. Segala ilmu yang ia himpun, dialirkan ke atas meja pertarungan membuat sushi di Menara Top Food, Tangerang, Kamis (27/8).


Nama Basuki pun disebut sebagai pemenang dan terpilih sebagai perwakilan Indonesia untuk berlaga melawan koki dari 13 negara lain di Global Sushi Challenge di Tokyo, Jepang, pada November mendatang.
Meskipun tak terlihat sespektakuler tampilan sushi andalan koki lainnya, sushi salmon lemon miso Uki, demikian Basuki akrab disapa, berhasil menjerat lidah para juri profesional dari Jepang.

Menurut Uki, justru kesederhanaan itulah yang menjadi keunggulannya. "Masakan Jepang itu mengutamakan rasa asli dari bahan dasarnya. Saya pakai saus sederhana, hanya sekadar asin, segar, dan manis, agar rasa orisinalnya tetap menonjol," kata Uki.

Kesederhanaan ini pula yang membuat Uki lebih menonjol di mata seorang juri asal Jepang, Masayoshi Kazato, dari World Sushi Skills Institute (WSSI).

"Saat buat sushi orisinal, Uki adalah salah satu yang hampir sempurna merepresentasikan budaya makan tradisional Jepang. Peserta lain lebih menonjolkan rasa saus yang terkadang tak sesuai dengan rasa daging mentahnya," tutur Kazato sambil tersenyum sehingga keriput di wajahnya kian jelas.

Sushi buatan Basuki (CNN Indonesia/Hanna Azarya Samosir)


Kazato juga terkesima dengan pilihan Uki untuk menggunakan miso sebagai saus sushi. "Masakan Jepang mengutamakan kebersihan. Selain teknik pembakaran permukaan ikan, miso itu mencegah bakteri dan saus itu meresap sempurna ke dalam sushi Uki," tutur Kazato.

Tak hanya rasa, kelihaian tangan dan teknik pembuatan sushi yang detail juga cukup membuat kagum para juri dari WSSI.

"Cara memotong ikannya benar. Tak ada gerakan percuma. Dari hasil penataan di piring terlihat sudah sering latihan," tutur Kazato.

Segala teknik tersebut disempurnakan dengan kebersihan cara kerja Uki. "Dia selalu menyelupkan tangan ke air cuka sebelum mulai buat sushi lain. Jika ada kotoran di meja, langsung dibersihkan. Itu penting karena bakteri cepat tumbuh di daging mentah," papar Kazato.

Menurut Kazato, kesederhanaan yang membuat makanan tradisional Jepang menjadi mewah.

Uki pun menyayangkan kecenderungan restoran-restoran Indonesia menyajikan makanan tradisional Jepang yang telah disesuaikan dengan lidah lokal.

"Saya menyayangkan edukasi yang datang belakangan daripada rasa suka, padahal kalau edukasi sudah paham, tentu akan lebih baik," kata Uki.

Ia lantas memberi contoh beberapa kebiasaan santap sushi orang Indonesia yang bisa jadi berbahaya.

"Indonesia suka sushi tanpa washabi, padahal antibakteri ada di sana. Minumnya bukan ocha, padahal ada antibakteri juga di sana," kata Uki.

Selain itu, beberapa tahap menikmati sushi juga sering kali dilewatkan begitu saja oleh orang Indonesia. Sebut saja ketika akan menyantap jenis sushi lain.

"Seharsunya, di sela makan sushi berbeda itu makan dulu jahe. Jahe akan menetralisir indra pengecap agar rasanya tidak bercampur," katanya.

Uki tak tinggal diam. Sambil melayani pelanggannya di balik sushi bar Umaku, Uki perlahan mulai mengedukasi mereka.

"Setiap makan apa, saya suruh coba tahap selanjutnya dalam tradisi Jepang. Mereka harus tahu apa yang mereka makan dan filosofi di baliknya. Ini adalah tanggung jawab bersama," tutur Uki.



(mer)