Rasa Cemas Berlebih Pertanda Gangguan Kejiwaan

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Selasa, 06/10/2015 15:06 WIB
Rasa Cemas Berlebih Pertanda Gangguan Kejiwaan Ilustrasi kecemasan. (Thinkstock/Jupiterimages)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pernahkah Anda merasa jantung berdebar-debar, berkeringat, atau gemetar secara tiba-tiba tanpa sebab yang jelas? Jika jawabannya ya, berarti Anda menderita gangguan kecemasan yang termasuk ke dalam gangguan jiwa.

Dokter spesialis kedokteran jiwa atau psikiatri Suryo Dharmono mengatakan ada beberapa jenis gangguan cemas yang bisa dialami oleh manusia. Ada panik, fobia, dan obsesif kompulsif atau biasa dikenal dengan OCD.

Menurut Suryo, dari keempat gangguan cemas tersebut gangguan panik adalah yang paling sering diderita masyarakat.  


"Itu adalah gangguan cemas yang gejalanya sesak napas, mau pingsan, tapi ketika diperiksa secara medik normal. Ternyata setelah dievaluasi gejala paniknya itu dilatarbelakangi psikis sosial," kata Suryo ketika ditemui di Sudirman, Jakarta, Senin (5/10).

Gangguan panik ini biasanya tidak memiliki stressor atau pemicu ketika penderitanya merasakan gangguan tersebut. Suryo menjelaskan kalau kecemasan biasa, ada stressor yang menimbulkan panik itu timbul.

Beda dengan kepanikan biasa yang mempunyai stressor, seperti dipanggil bos, atau kondisi dan situasi nyata lainnya.

"Kalau panik tidak jelas dan tiba-tiba berdebar-debar, sampai perasaan mau pingsan berkali-kali dan mau akses UGD, itu gangguan panik," ujarnya.

Selain gangguan panik, ada juga gangguan lainnya yang sering menghinggapi, seperti fobia. Salah satunya adalah fobia sosial.

"Mereka yang fobia sosial berhadapan dengan situasi sosial. Biasa ketika berhadapan dengan situasi sosial dia berdebar, tidak bisa ngomong, cemas, dan panik berlebihan," ujar Suryo.

Sementara untuk obsesif kompulsif, kecemasan ditandai dengan perilaku yang berulang. Suryo menyontohkan, misalnya saja dengan mencuci tangan berulang-ulang ketika sehabis memegang sesuatu yang tidak disukai.

Gangguan cemas, lanjut Suryo, bisa menyerang orang dewasa muda yang berusia 18-25 tahun. Bahkan Suryo menambahkan anak-anak pun bisa mengalaminya.

Gangguan cemas ini bisa dipulihkan dan dan bisa diminimalisasi. Namun, ketika ada stressor atau pemicu, gangguan cemas bisa kambuh sewaktu-waktu. (utw/utw)