Parlemen Australia melakukan penyelidikan terhadap masalah ibu menyusui setelah terjadi ledakan ibu baru yang kembali bekerja ke kantor. Andrew Southcott, kepala komite dan anggota parlemen dari Partai Liberal, mengatakan, ketentuan memadai perlu dibuat untuk para orang tua baru.
“DPR mengalami ledakan jumlah kelahiran bayi. Tahun ini, ada sepuluh anggota (parlemen) menyambut kelahiran bayi dalam keluarga mereka,” katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, muncul perdebatan setelah anggota parlemen dari partai Liberal Kelly O'Dwyer diimbau seorang tokoh politik, September lalu, agar memerah lebih banyak susu untuk bayinya di luar jam kerja. Alasannya, supaya dia dapat mengerjakan tugas-tugas parlemen lebih baik, seperti dilaporkan oleh Sydney Morning Herald.
Berdasarkan ketentuan tersebut, ibu menyusui yang berprofesi sebagai politisi diberi kebatasan menyusi dan tidak bisa memberikan ASI secara langsung.
Saat itu Anna tidak punya pilihan karena di parlemen, tidak disediakan tempat menyusui. Kejadian serupa juga terjadi pada seorang senator, pada 2009 silam. Semua peristiwa tersebut menyebabkan hadirnya peraturan baru yang menyebutkan politisi wanita kembali diizinkan menyusui di senat Australia.
Meskipun begitu, beberapa politisi wanita mengatakan menyusui di ruang parlemen sebenarnya kurang etis dan nyaman.
O'Dwyer mengatakan, “Jika hukum tersebut berubah, saya tidak akan menyusui bayi di ruang parlemen.” Menurutnya, setiap ibu akan mengatakan, beberapa hal nyaman dilakukan, sementara yang lain tidak.
(win/les)