51 Juta Orang Indonesia Buang Air Besar Sembarangan

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Rabu, 25/11/2015 14:06 WIB
51 Juta Orang Indonesia Buang Air Besar Sembarangan Ilustrasi toilet (Thinkstock/Hope Milam)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anda mungkin berpikiran kalau sebagian besar masyarakat Indonesia sudah berperilaku hidup sehat dan bebas dari kebiasaan buang air besar (BAB) sembarangan. Mungkin itu ada di lingkungan sekitar Anda, bagaimana dengan di daerah-daerah lainnya di Indonesia?

Kenyataannya, menurut data Unicef, Indonesia adalah negara kedua yang memiliki angka BABS terbesar di dunia. Posisi pertama ditempati oleh India. Menurut laporan Join Monitoring Program (JMP) WHO/Unicef 2015, sekitar 51 juta penduduk Indonesia masih buang air besar sembarangan. Mereka masih buang air besar di samping sungai dan di pantai.

Apa yang menyebabkan Indonesia masih sulit terbebas dari perilaku BABS? Mengutip laporan Unicef Wash (water sanitation hygiene), BABS sudah merupakan kebiasaan yang tertanam sejak kecil, sehingga sulit dihilangkan saat dewasa. Selain itu ketidakmampuan untuk memiliki toilet dan tak punya rumah menyebabkan praktik BABS dianggap normal dan tak tak berbahaya.


Sebanyak 2,4 miliar penduduk dunia ternyata masih tak memiliki toilet. Dan sekitar 946 atau satu dari delapan orang di dunia masih buang air besar di tempat terbuka. Di Indonesia sendiri, 12,9 persen penduduk Indonesia ternyata belum memiliki toilet yang memadai.

Benarkah tak berbahaya?

Perilaku hidup tak bersih pastinya akan berakibat pada menurunnya tingkat kesehatan seseorang. Masalah paling menonjol karena masalah perilaku buang air besar sembarangan ini adalah serangan diare.

Parahnya, diare adalah penyebab sembilan persen kematian balita setiap tahunnya. Catatan UNICEF menunjukkan balita di dunia mengalami 1,7 miliar kasus diare setiap tahun. Sekitar 300.000 balita meninggal setiap tahun – atau lebih dari 800 per hari- dari penyakit diare yang diakibatkan air, sanitasi dan kebersihan yang buruk.

Data riskesdas tahun 2007 mengungkapkan kasus diare ini 66 persen lebih tinggi terjadi di lingkungan yang melakukan BABS di area perumahan yang memiliki toilet pribadi.

Selain diare, masalah lain yang disebabkan oleh perilaku BABS ini adalah malnutrisi. Sebuah laporan Improving Nutrition Outcomes with Better Water, Sanitation and Hygiene, dari UNICEF, USAID dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk pertama kalinya menyatukan hasil riset dan studi kasus selama bertahun-tahun yang menunjukkan mata rantai yang menghubungkan sanitasi dan malnutrisi. Menurut laporan tersebut, kurangnya sanitasi dan perilaku BABS, berkontribusi kepada diare dan penyebaran parasit perut, yang pada akhirnya mengakibatkan malnutrisi.

“Hubungan antara sanitasi dengan malnutrisi adalah satu lagi benang merah yang menekankan bahwa respon kita terhadap masalah sanitasi harus saling bersinergi," kata Aidan Cronin, Ketua Program Water, Sanitasi dan Higiene (WASH) UNICEF Indonesia.

Keterkaitan antara perilaku BABS dengan malnutrisi memang tidak secara langsung dan nyata terlihat. Namun BABS ini akan mencemari air sungai dan air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari. Air kotor yang tercemar tinja ini digunakan untuk mengairi sawah dan perkebunan. Akibatnya sumber makanan jadi tercemar dan bahaya saat dikonsumsi.

Bahaya kuman ini juga akan terjadi karena 'bantuan' serangga. Serangga, misalnya lalat akan hinggap di tinja yang dibuang sembarangan sehingga menyebarkan kotoran dan penyakit. Makanan akan jadi berbahaya ketika serangga yang membawa kuman dari tinja ini hinggap di makanan yang akan dikonsumsi.

Karena makanan yang tak sehat untuk dikonsumsi ini  akan menyebabkan anak-anak jadi kekurangan gizi yang dibutuhkan tubuh. Sekitar sembilan juta anak Indonesia memiliki tubuh yang pendek.

Selain itu, kekurangan gizi juga akan menyebabkan pertumbuhan anak jadi tak normal. Pada akhirnya, terganggunya pertumbuhan fisik ini akan berpengaruh terhadap kemampuan belajar anak-anak. (chs/utw)