Kapal dengan GT 44.348 dan panjang 230 meter itu membawa 700 turis mancanegara dan 500 awak kapal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kedatangan kapal pesiar Artania ke Sabang merupakan kali kedua. Sebelumnya, awal tahun 2014, kapal itu juga sudah mendaratkan 1.000 turis asing ke Sabang,” ujar Kadispar Aceh, Reza Pahlevi, Kamis (7/4) dalam press release yang diterima CNNIndonesia.com.
Sesuai adat istiadat, saat kapal ini merapat dan penumpang turun, acara peumulia jamee atau memuliakan tamu langsung digelar. Penumpang yang turun disambut tari Guel yang berasal dari dataran tinggi Gayo, Aceh. Kapten Artania, Elman Muehlebach juga disambut dengan pengalungan bunga.
Karena setelah seremoni penyambutan, sebagian besar penumpang dan awak kapal berkeliling dan menikmati keindahan Kota Sabang, ke pantai, dan mengunjungi tugu kilometer 0 yang menjadi spot favorit penumpang MV. Artania. Mereka pun merasakan sensasi naik becak bermotor yang jadi khas di sana.
“Untuk tahun ini, sudah 16 kali kapal pesiar yang merapat ke Sabang. Dan ini merupakan keuntungan bagi masyarakat Sabang yang sebagian di antaranya terlibat di ekonomi pariwisata,” kata Reza.
Setelah delapan jam hotel berjalan ini merapat di pelabuhan Teluk Sabang, MV. Artania kembali meneruskan perjalanan menuju Madagaskar dan Panama, melalui Selat Malaka.
Merapatnya kapal pesiar di Sabang tak lepas dari kebijakan dicabutnya asas cabotage, yakni komoditas domestik wajib diangkut kapal berbendera Indonesia. Alhasil, kapal pesiar besar bisa merapat sekaligus menaik-turunkan penumpang di pelabuhan di Indonesia. (sil)