Sejuta Rasa Mi Nusantara

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Jumat, 06/05/2016 17:06 WIB
Sejuta Rasa Mi Nusantara Mi cakalang khas Manado, Sulawesi Utara. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mi koclok, mi godok, mi cakalang. Ada begitu banyak ragam sajian mi di Indonesia yang menggugah selera. Yang menyenangkan, sebagian di antaranya bisa dicicipi tanpa perlu melanglang jauh, cukup menjejakkan kaki di kawasan Kelapa Gading, Jakarta.

Tepatnya, di acara Jakarta Food & Fashion Festival 2016 di mana dibangun Kampoeng Tempoe Doeloe. Di kampung bernuansa merah kuning khas Pecinan ini disajikan sedikitnya delapan masakan mi dari Aceh sampai Sulawesi di sejumlah gerai.

Mie koclok khas Bandung dimasak dengan cara dikocok menggunakan saringan saat direbus. Setelah lunak, mi dituang ke mangkuk, dipadu toge, seledri, kikil sapi atau ceker pedas, juga kuah kaldu sumsum tulang kaki sapi sarat rempah-rempah.


Mie kocok dengan tambahan ceker pedas (CNNIndonesia/Agniya Khoiri)
Lain lagi mi khas Jawa Tengah. Menurut salah seorang penjualnya, Wahyu Hartono, mi jawa terbagi dua macam. Ada yang berkuah putih seperti mi asal Yogyakata alias bakmi Jogja, atau berkuah kecokelatan yang ditambah kecap seperti mi asal Semarang.

“Mi jawa ini cenderung kental karena pakai kemiri sehingga lebih pekat. Bakmi godok Jawa bedanya pakai kecap, dan masaknya pakai areng. Isinya sayuran seperti sawi, kol, daun bawang, kemudian ayam dan telor,” tutur Wahyu.

Penggunaan kompor arang, yang menjadi ciri kreasi mi asal Jawa, diyakini Wahyu, membuat masakan lebih beraroma. Biasanya digunakan arang dari kayu atau tempurung kelapa. Kompor arang mematangkan masakan secara perlahan, berbeda dengan kompor gas.

Sebagian penduduk Jawa Tengah juga mengenal masakan mawut, mi goreng bercampur nasi. “Tradisi atau kebiasaan di Jawa banyak yang memakan bakmi dengan nasi, tanpa nasi rasanya tidak puas atau ‘enggak lego,’ sehingga muncul lah menu ini,” ungkap Wahyu.


Mi goreng dan mi godok khas Jawa. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Yang juga jadi incaran, yaitu mi aceh sarat rempah-rempah dan sedikit pedas. Menurut seorang koki mi aceh di salah satu gerai Jakarta Food & Fashion Festival, mi khas Aceh ini kerap disajikan dengan tiga variasi, yaitu kuah, goreng, atau tumis, dan dipadukan dengan acar bawang merah serta kerupuk emping.

“Mi aceh itu terkenal pedasnya, jadi kalau orang pesan ‘sedang’ pada penjual mi aceh, sebenarnya itu tingkatan yang dipesan adalah level pedas pada umumnya,” ujar sang koki. “Jadi kalau tidak begitu suka pedas, sebaiknya pesan yang tidak pedas, karena itu saja akan ada tetap ada sedikit rasa pedasnya.”

Tak kalah lezat, mi cakalang dari Manado, Sulawesi Utara. Disebut demikian karena mi bukan dipadu potongan daging sapi atau ayam sebagaimana lazim di Jawa, melainkan ikan cakalang atau tongkol besar (Katsuwonus pelamis).

“Bumbunya sama kayak mi goreng biasa, namun biasanya mi pakai udang, ayam, kami pakainya ikan cakalang,” ujar Eni Nuraini, penjual mi cakalang di salah satu gerai di Jakarta Food & Fashion Festival. “Proses ikannya di-fufu atau diasap.”

Ada juga mi cakalang dengan kuah being khas Manado, yang menggunakan kaldu ikan. Perasan jeruk membuat aroma dan cita rasa mi cakalang makin menyegarkan dan menggiurkan. “Tambahan lainnya sesuai selera, pakai sambal ikan roa,” kata Eni.

Mi cakalang menarik minat salah seorang pengunjung, Elia, untuk mencicipinya. “Saya suka ikan, jadi pengen coba mi ini,” kata perempuan yang berprofesi sebagai dokter radiologi. Lebih jauh, ia menyatakan kegemarannya pada masakan mi Nusantara.

“Mi Nusantara kan ada dari Jawa, Aceh, Medan. Mi jawa pasti khasnya pakai ayam kampung, mi aceh pedas, mi medan gurih. Saya sebenarnya sukanya mi jawa, tapi kalau ada ikan saya tertarik juga. Mi jawa cenderung tidak ada rasa pedas dan pasti pakai kecap,” kata Elia.

Mi cakalang juga menggugah selera Lulu yang datang ke acara Jakarta Food & Fashion Festival bersama seorang temannya. Ia mengaku tertarik mencicipi mi Nusantara lantaran bosan dengan banyaknya mi dari luar negeri, macam spageti.

Gerai-gerai mi Nusantara di acara Jakarta Food & Fashion Festival di kawasan Kelapa Gading, Jakarta. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
“Seru juga dan bagus ada ragam mi Nusantara ini, saya coba mi cakalang, dia mi aceh. Kalau cakalang memang ikan banget, dan tadi coba mi aceh ada rasa asem dan  bumbu rempahnya kental. Mi cakalang, minya lebih gede dan kenyal, kalau mi aceh lebih lembek,” kata Lulu.

Melihat perkembangan pesat inovasi mi, menurut Edwin Lau, menyenangkan dari sisi industri, karena banyak orang bisa menggantungkan hidupnya dari bisnis mi. Namun di sisi lain, sebagai healthy chef, menurutnya, mi bukanlah makanan yang bisa dianggap sehat.

“Mi sebenarnya adalah makanan ‘buatan’ atau olahan manusia yang lebih banyak efek buruknya ketimbang baiknya,” kata Edwin. “Jarang saya melihat pencinta mi yang tetap bisa menjaga bentuk tubuhnya atau yang tidak mengalami komplikasi penyakit seperti tinggi koresterol, tinggi gula, dan alergi gluten.”

“Jadi, bagi saya, mi tetaplah sesuatu yang bitter sweet. As a chef is a yes, but as a health coach is a big no,” tambah Edwin.

(vga/vga)