Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), mengatakan bahwa penyakit kardiovaskular merupakan penyakit yang paling banyak menimbulkan kematian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karenanya, masyarakat diminta mewaspadai gejala-gejala FA, yaitu cepat lelah, irama jantung tak teratur, sesak nafas, berdebar, kesulitan mengerjakan pekerjaan sehari-hari, rasa nyeri, dada tertekan dan seperti diikat, pusing, rasa mengambang dan berputar hingga pingsan dan semakin sering buang air kecil.
Sementara itu, Ketua Panitia Atrial Fibrillation Campaign di Indonesia dan Ketua InaHRS, Dr.dr. Yoga Yuniadi, SpJP(K) mengatakan bahwa prevalensi pasien FA semakin meningkat seiring bertambahnya usia.
"Di umur 40-60 tahun sekitar 0,2 persen dari populasi sedangkan pasien di atas umur 80 tahun mencapai 15-40 persen. Penderita FA memiliki risiko 5 kali lebih tinggi untuk mengalami stroke dibandingkan orang tanpa FA. Sangat disayangkan di Indonesia, banyak insiden stroke akibat FA terjadi pada usia produktif, yaitu dibawah 60 tahun dan pasien datang biasanya datang sudah dalam keadaan Stroke yang disebabkan oleh FA," ungkap dr. Yoga.
Di lain pihak, Ketua 1 PERDOSSI, dr. H. Salim Haris SpS (K) mengatakan bahwa terdapat dua jenis stroke yaitu stroke berdarah dan stroke sumbatan dengan faktor risiko usia, jenis kelamin, darah tinggi, diabetes serta FA.
"FA sebagai faktor risiko sifatnya independen dan dapat dengan cepat menimbulkan stroke sumbatan,” kata dr. Salim.
Selain Stroke, FA juga merupakan faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya gagal jantung dan serangan jantung. Menurut dr. Yoga, pada kasus FA, irama jantung menjadi ireguler sehingga
kontraksi otot-otot jantung menjadi tidak sinkron. Dalam jangka panjang hal tersebut melemahkan pompa jantung dan memicu terjadinya gagal jantung dan selanjutnya diikuti dengan kegagalan fungsi organ penting lainnya.
"Pasien yang mengalami gagal jantung akan memiliki peningkatan risiko kematian sebesar 50 persen dalam 3 tahun," katanya.
Adapun, dr. Yoga menjelaskan bahwa FA yang paling umum terjadi adalah Lone AF (FA perseorangan). Jenis penyakit ini sering terjadi pada usia muda dan terdapat faktor genetik dan kelompok FA lainnya yaitu yang berkaitan dengan hipertensi, diabetes, usia, kebiasaan merokok dan stres.
Ia pun menegaskan bahwa upaya pencegahan sebenarnya bisa dilakukan terutama dengan menghindari faktor risiko tersebut.
"Untuk menurunkan angka mortalitas dan morbiditas akibat FA, maka masyarakat perlu diberikan informasi seluas-luasnya, termasuk upaya pencegahan yang dapat dilakukan, salah satunya adalah dengan memeriksakan diri ke dokter apabila terjadi gejala FA dan pemberian antikoagulan jika terdiagnosa FA," ujarnya. (les)