Ritual Balia, Menyembuhkan Sakit dengan Injak Bara Api

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Senin, 26/09/2016 19:00 WIB
Di Palu, Sulawesi Tengah, ada cara pengobatan unik yang dilakukan masyarakat Kaili yakni menginjak bara api, bernama Ritual Balia. Ritual Balia atau tradisi menginjak bara api di Palu, Sulawesi Tengah, dipercaya masyarakat lokal bisa memberikan kesembuhan. (Thinkstock/Janejka)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ada banyak cara menyembuhkan penyakit, mulai dari berobat ke dokter hingga mencari bahan herbal tertentu. Namun di Palu, Sulawesi Tengah, ada cara lain dengan menginjak bara api, bernama ritual balia.

Tradisi ini dilakukan masyarakat Kaili yang mendiami lembah Palu. Ritual ini biasa dilakukan oleh masyarakat adat yang percaya api dapat mengusir penyakit. Konon, ritual ini erat kaitannya dengan kalangan ningrat

Kini, ritual ini kadang dilakukan ketika upaya medis tak kunjung berhasil mendatangkan kesembuhan.


Prosesi yang mulai jarang dilakukan oleh generasi modern ini bukan hanya sekadar menginjak bara api. Tercatat, ada sepuluh ritual yang harus dilakukan dalam prosesi balia.

Ritual-ritual tersebut terdiri atas ritual pompoura atau tala bala'a, ritual adat enje da'a, ritual tampilangi ulujadi, pompoura vunja, ritual manuru viata, ritual adat jinja, balia topoledo, vunja ntana, ritual tampilangi, dan nora binangga.

Berbagai ritual tersebut dapat memakan waktu hingga tujuh hari tujuh malam, tergantung tingkat keparahan penyakit yang ingin diobati.

Prosesi dimulai dengan persiapan berbagai bahan upacara mulai dari dupa, keranda, buah-buahan, hingga hewan kurban seperti ayam, kambing, atau kerbau tergantung kasta sang penyelenggara prosesi.

Ketika persiapan rampung, pawang yang harus dibawakan oleh laki-laki mulai menyebut jampi dan mantra. Ia menyebutkan berbagai mantra untuk memanggil arwah dan memberikan sejumlah sesajian berbeda pada tiap prosesi yang diletakkan dekat dupa.

Tarian khas balia juga harus terus dilakukan menemani orang sakit yang diusung hingga acara puncak, penyembelihan hewan kurban. Hewan kurban tersebut adalah simbol harapan kesungguhan atas kesembuhan.

Berbagai prosesi tersebut kini coba diangkat kembali dalam sebuah perayaan budaya dalam Festival Palu Nomoni yang baru saja digelar, tepatnya tanggal 24 hingga 26 September di Palu, Sulawesi Tengah.

Rangkaian adat ritual balia itu sendiri dilakukan di lima area yang masing-masing rangkaian ritual dilakukan oleh sebuah kelurahan.

"Kami hanya ingin ritual ini menjadi seni pertunjukkan, karena sudah hampir punah. Sehingga dengan jadi pertunjukan, generasi saat ini masih dapat menyaksikan tradisi ini," kata Wali Kota Palu, Hidayat.

Berbagai lokasi sudah disiapkan dan diharapkan dapat menarik perhatian masyarakat mengetahui bagian kekayaan masyarakat Kaili tersebut. Kegiatan itu sendiri juga mendukung penyelenggaraan festival yang digelar sejauh 7,2 kilometer sepanjang Teluk Palu.

"Kegiatan akan mengangkat ritual adat dan budaya dan uniknya kendaraan yang boleh digunakan selama festival berlangsung hanya dua, yakni dokar dan sepeda," kata Hidayat.

Sebelumnya, Festival Palu Nomoni ini bernama Festival Teluk Palu dan menjadi ajang promosi ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah tersebut sebagai destinasi unggulan di provinsi itu.

Pihak penyelenggara memprediksi selama tiga hari penyelenggaraan festival ini akan menyedot 300 ribu wisatawan domestik dan 500 ribu wisatawan mancanegara. (les)