Jauh dari Buah dan Sayur, Anak Rentan Idap Asma

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Senin, 14/11/2016 07:54 WIB
Tubuh akan lebih mungkin rentan terhadap penyakit dan virus dalam sistem pernapasan dapat memicu serangan asma, sebagai akibat dari kekurangan nutrisi. Ilustrasi (tatyana_tomsickova/Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sayur dan buah ternyata bukan hanya bermanfaat untuk pemenuhan asupan vitamin dan lancarnya sistem pencernaan. Menurut penelitian, anak-anak yang hidup jauh dari sumber sayur dan buah berisiko tinggi terkena asma.

Melansir Daily Mail pada Sabtu (12/11), peneliti dari American College of Allergy, Asthma and Immunology (ACAAI) melakukan penelitian tentang asma terhadap 2.043 anak-anak di Amerika Serikat berusia enam hingga 18 tahun.

Para peneliti menemukan fakta bahwa sebanyak 57 persen dari jumlah total anak-anak itu tinggal setidaknya 800 meter dari toko sayur dan buah terdekat. Dan satu dari sepuluh anak tinggal setidaknya 1,6 kilometer lebih jauh.


Dari penelitian yang dibawa dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan ACAAI itu juga ditemukan fakta bahwa sekitar 21 persen anak yang tinggal jauh dari toko sayur dan buah berisiko tinggi mengidap asma. Sedangkan anak yang tinggal lebih dekat hanya memiliki risiko 17 persen.

"Dalam studi ini, kami telah memperhitungkan persentase rhinitis alergi dan obesitas sebagai kondisi lain yang dapat mempengaruhi kendali akan asma," kata salah satu peneliti, Maripaz Morales.

Rhinitis alergi atau yang juga disebut hay fever merupakan peradangan dan iritasi di membran mukosa di dalam hidung. Gejala ini disebabkan oleh alergi terhadap debu, kulit hewan tertentu, dan serbuk sari.

"Sulit mendapatkan anak yang memiliki jumlah asupan buah segar dan sayur yang tepat. Namun anak-anak yang tinggal di daerah minim sayur dan buah memiliki kerugian lebih besar," lanjutnya.

Morales menambahkan nutrisi yang baik penting bagi semua pihak, termasuk penderita asma. Menurutnya, tubuh akan lebih mungkin rentan terhadap penyakit dan virus dalam sistem pernapasan dapat memicu serangan asma sebagai akibat dari kekurangan nutrisi.

Namun Morales mengatakan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut keterkaitan makanan sehat dengan menurunkan risiko dari asma.

Sebelumnya, beberapa studi mengungkap mengonsumsi buah dan sayuran dalam jumlah yang cukup membantu tikus bertahan dari asma.

Penelitian itu menemukan bahwa tikus yang diberi makanan tinggi serat memiliki peradangan paru-paru lebih rendah saat diberi paparan debu rumah yang sering memicu gangguan pernapasan.

Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa prevalensi asma cenderung meningkat seiring dengan bertambahnya usia.

Menurut data tersebut, prevalensi paling tinggi terkena asma adalah kelompok usia 25 hingga 34 tahun dengan 5,7 persen. Diikuti dengan kelompok 15-24 tahun, dan 5-14 tahun.

(ard/ard)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK