Mengenal Daerah Wisata dari Mata Penduduk Lokal

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Sabtu, 03/12/2016 05:59 WIB
Mengenal Daerah Wisata dari Mata Penduduk Lokal Ilustrasi. (Thinkstock/Michael H.)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berbagai agen perjalanan wisata di Indonesia berlomba-lomba untuk menjaring wisatawan yang sedang merencanakan perjalanan ke sejumlah daerah di Tanah Air. Bermacam konsep pun ditawarkan, mulai dari yang mengajak berkegiatan sosial sampai menjelajahi gedung berhantu.

Mencari tahu serba-serbi sebuah daerah wisata dari penduduk lokal merupakan hal terbaik yang bisa dilakukan ketika berwisata. Agen perjalanan wisata Triponyu.com yang didirikan salah satunya oleh Alfonsus Aditya mencoba menawarkan hal tersebut dalam situsnya.

Ketika diwawancarai oleh CNNIndonesia.com pada Jumat (2/12), Alfonsus mengatakan kalau konsep yang dirintisnya sejak 2015 tersebut berdasarkan pengalaman pribadinya, yang mulai bosan dengan pengalaman berwisata dari pemandu wisata pada umumnya.


Menurutnya, komunitas atau penduduk lokal lebih paham dengan tipe wisata yang diinginkan wisatawan.

Konsep tersebut juga didasari oleh hasil survei timnya, yang menyebutkan kalau 97 persen wisatawan lebih memilih untuk bertanya langsung kepada penduduk lokal, ketimbang pemandu wisata umum.

Dari survei yang sama, disebutkan juga kalau 81 persen wisatawan lebih tertarik untuk melakukan aktivitas berwisata yang tidak biasa.

“Saat berwisata dengan pemandu yang umum, mereka hanya menjelaskan hal-hal yang sudah biasa. Tapi dengan dipandu komunitas atau penduduk lokal, mereka bisa menjelaskan hal-hal yang tidak biasa, dan mungkin belum diketahui orang pada umumnya,” kata Alfonsus.

“Ketika masuk ke situs kami, wisatawan dapat langsung memilih daerah tujuan, jumlah peserta dan tipe wisata; mulai dari kuliner, belanja sampai kegiatan alam,” lanjutnya.

Salah satu contoh kegiatan berwisata yang sudah dilakukan adalah mengajak wisatawan untuk datang ke acara Tingali Dalem Jumenengan, yaitu ritual kenaikan tahta di Keraton Surakarta.

Tak sembarang orang bisa datang ke sana, tapi Triponyu bisa mewujudkannya.

“Kami bekerja sama langsung dengan Yayasan Keraton Surakarta. Mereka sepakat dengan konsep kami yang mengembangkan kearifan lokal, sehingga wisatawan kami bisa diterima dengan baik,” kata Alfonsus.

Selain dapat hadir di acara khusus, Triponyu juga mengajak wisatawan melakukan aktivitas yang tak biasa, seperti bersepeda mengelilingi komplek kuburan kuno. Kegiatan uji nyali ini merupakan keseruan tersendiri bagi wisatawan yang gemar menantang adrenalin.

“Kalau kegiatan wisata ini dikelola oleh komunitas lokal di Yogyakarta, yang diberi nama Wisata Kliwonan,” ujar Alfonsus.

Sampai saat ini sudah ada 120 komunitas dan penduduk lokal yang terdaftar dalam situs Triponyu. Tentu saja pihaknya melakukan pemeriksaan latar belakang khusus, baik untuk pemandu wisata dan wisatawan.

Setelah komunitas atau penduduk lokal bersepakat dengan wisatawan, Triponyu tetap memantau perjalanan wisata yang dilakukan demi keamanan bersama. Jika ada yang nakal, mereka tak segan turun tangan langsung.

Sebelum melayani wisatawan, komunitas dan penduduk lokal diberi pemahaman mengenai standar pelayanan wisata yang harus dilakukan.

“Kami ingin mereka memberikan terbaik bagi wisatawan, agar wisatawan tidak kapok datang kembali dan menggunakan jasanya,” kata Alfonsus.

Alfonsus mengklaim, kalau sudah ada 200 wisatawan yang menggunakan jasa Triponyu, baik wisatawan lokal maupun mancanegara.

“Kami juga pernah menerima wisman asal Belanda untuk berkunjung ke Solo. Mereka mengaku saat ingin mengenal adat istiadat di sana,” ujar Alfonsus.

Ke depannya, Triponyu akan bekerja sama dengan salah satu perusahaan asuransi besar, guna memantapkan layanan, jika wisatawan yang menggunakan jasanya semakin banyak.

“Walaupun sejauh ini belum ada masalah keamanan yang berarti, tetapi kami akan terus berusaha untuk meningkatkan kualitas pelayanan,” tutup Alfonsus.

(Awita Ekasari Larasati/ard)