Risiko Jadi Ayah di Usia yang Tidak Lagi Muda

Vega Probo, CNN Indonesia | Jumat, 09/12/2016 16:43 WIB
Risiko Jadi Ayah di Usia yang Tidak Lagi Muda Penyanyi rock gaek Mick Jagger, baru-baru ini, memiliki anak ke-delapan di usia 73 tahun. (REUTERS/Alexandre Meneghini)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bagi para pria, tak berlaku ‘tanggal kedaluwarsa’ untuk memiliki anak. Mereka tidak mengalami menopause layaknya perempuan. Jadi masih bisa punya anak sekalipun sudah lanjut usia (lansia).

Lihat saja, penyanyi rock gaek Mick Jagger yang baru-baru ini memiliki anak ke-delapan di usia 73 tahun. Sebelumnya, pada Desember 2015, rekan satu grup band-nya di Rolling Stones, Ronnie Wood, juga memiliki anak lagi di usia 68 tahun.

Belakangan ini, menurut laman Men’s Health, makin banyak pria yang memilih untuk memiliki anak di usia yang tidak lagi muda. Menurut The Centers for Disease Control and Prevention di AS, rata-rata pria memiliki anak pertama di usia 25 tahun.


Namun pada era 1980 hingga 2014, terjadi pergeseran. Menurut data statistik Pemerintah AS, terjadi pertambahan jumlah pria usia 35 tahun ke atas yang memiliki bayi sebanyak 58 persen. Namun sejatinya, pertambahan usia itu bukan masalah.

Kebanyakan pria lanjut usia tidak punya masalah fertilitas mapun masalah fisik atau perkembangannya. Demikian disampaikan Robert E. Brannigan, ahli urologi dan spesialis pengobatan reproduksi pria di Feinberg School of Medicine, Northwestern University.

Meski begitu bukan berarti 'telat' menjadi ayah tidak berisiko.

Belakangan ini, menurut laman Men’s Health, makin banyak pria yang memilih untuk memiliki anak di usia yang tidak lagi muda. Belakangan ini, menurut laman Men’s Health, makin banyak pria yang memilih untuk memiliki anak di usia yang tidak lagi muda. (Thinkstock/PointImages)

Problem Produksi Sperma

Wanita dikarunia indung telur, sedangkan pria diberkahi ‘pabrik’ sperma. Menurut Dr. Bradley Anawalt, ahli endokrinologi dari University of Washington merangkap juru bicara Endocrine Society, sekitar seribu ‘perenang’ diproduksi pria setiap kali jantungnya berdetak.

Tapi Dr. Ranjith Ramasamy, direktur pengobatan dan operasi reproduksi pria di Miami Miller School of Medicine, menyatakan ‘mesin pabrik’ si pria mulai macet begitu menginjak usia 30 tahun. Penyebabnya, dari radiasi, racun, sampai penuaan.

Seiring pertambahan usia, Dr. Brannigan menegaskan, faktor-faktor penyebab masalah fertilitas makin bertambah. Pria bakal kehilangan sel-sel Leydig di testikel dan sel-sel Sertoli yang mendukung dan menyuburkan sperma baru.

Hasilnya, tubuh memproduksi lebih banyak sperma yang justru tidak efektif karena mengandung mutasi DNA yang membahayakan si calon jabang bayi. Menurut data Nature, rata-rata pria usia 30 tahun mewariskan 55 mutasi kepada keturunannya.

Jumlah tersebut, menurut penulis Nature, akan berlipat ganda seiring pertambahan usia. Dengan kata lain, setiap 16,5 tahun sekali, penambahan jumlah mutasi yang diturunkan dari ayah ke anak akan berlipat ganda.

Jika dihitung sejak usia 30 tahun, dalam kurun 50 tahun, maka kelak di usia 80 tahun, pria mengalami delapan kali mutasi DNA.

tubuh memproduksi lebih banyak sperma yang justru tidak efektif karena mengandung mutasi DNA yang membahayakan si calon jabang bayi.Tubuh pria lansia memproduksi lebih banyak sperma yang justru tidak efektif karena mengandung mutasi DNA yang membahayakan si calon jabang bayi. (Thinkstock/mbot)

Seberapa Besar Risikonya?


Tentu saja, tidak semua mutasi memicu masalah kesehatan. Namun, dikatakan Dr. Ramasamy, sebagian menyebabkan susah hamil. Hasil sebuah penelitian di Inggris menemukan fakta pria usia 35 tahun ke atas punya kesempatan 50 lebih rendah untuk punya keturunan.

Sebuah hasil penelitian lain yang dimuat di American Journal of Epidemiology mendapati fakta bahwa pasangan berusia 35 tahun ke atas 25 persen lebih berpotensi mengalami keguguran dibandingkan jika pasangan yang berusia 25 tahun atau lebih muda lagi.

Faktor usia pasangan jelas mempengaruhi. Kemungkinan kompikasi meningkat lantaran jumlah dan kualitas indung telur perempuan juga menurun dari waktu ke waktu. Mutasi menyebabkan cacat lahir, kelainan kromosom dan penyankit genetik pada anak-anak.

Dalam ulasan Baylor College of Medicine, para peneliti menemukan 86 masalah kongenital yang terkait ayah berusia lanjut. Mereka menyimpulkan bahwa satu dari 42 pria usia 40 tahun ke atas menanggung risiko yang terus meningkat.

Risikonya antara lain, memiliki anak yang menyandang achondroplasia-a atau bertubuh pendek (cebol), schizophrenia,  autism, leukemia dan bahkan kanker. Sementara anak perempuan bisa jadi kelak mengidap kanker payudara.

Meski fakta tersebut mengerikan, menurut Dr. Brannigan, mayoritas ayah berusia lanjut memiliki anak-anak yang sehat. Karena pasangannya, perempuan berusia 35 tahun ke atas, juga menjaga kehamilan dengan penuh kehati-hatian.

Yang jelas, pria lanjut usia tidak perlu kelewat khawatir jika ingin memiliki keturunan lagi. Si pria bisa berkonsultasi dengan konselor genetik, dan kelak bisa mengikuti tes genetik untuk mengetahui mutu spermanya.

(vga/vga)