REKOMENDASI KULINER

Nostalgia di 'Taman Gembira' 90 Tahun di Sudut Jakarta

Endro Priherdityo & Hizkia Darmayana | CNN Indonesia
Jumat, 03 Feb 2017 22:08 WIB
Nostalgia di 'Taman Gembira' 90 Tahun di Sudut Jakarta
Menu gurame asam manis di Restoran Eka Ria, Jakarta Pusat. (Screenshoot via Instagram/@ekaria.resto)
Tjoeng memilih mengenalkan menu asal kampung halamannya, khususnya Kanton, sebagai sajian utama rumah makan mungil yang ia miliki.

Roda zaman berputar. Tjoeng kemudian meneruskan usahanya itu kepada sang anak, Tjoeng Sang alias Suharto Tjondro pada 1958.

Namun, akibat peremajaan kawasan Glodok yang membabat banyak bangunan tua, restoran ini harus angkat kaki pada akhir dekade 1960-an.  Suharto kemudian memindahkan rumah makan itu ke Pasar Lindeteves, Jalan Hayam Wuruk, pada 11 November 1970.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat restoran berada di tangan generasi ke-dua Tjoeng yaitu Tjoeng Tjien Tjen alias Koko Suharto pada 1984, Pasar Lindeteves terbakar.

Sepetak tanah kosong di sudut Jalan KH Zainal Arifin menarik Koko untuk mendirikan restoran peninggalan itu dengan nama baru.

"Saat itu Presiden Soeharto melarang semua nama yang bernuansa China," kata Koko saat ditemui CNNIndonesia.com, baru-baru ini.

[Gambas:Instagram]

"Dan sebenarnya Eka Ria itu terjemahan Jit Lok Jun. Jit artinya satu atau eka, lok artinya gembira ria, dan jun artinya taman. Jadi, Jit Lok Jun artinya 'sebuah taman yang gembira', disederhanakan menjadi Eka Ria," papar Koko.

Menjalani bisnis hingga lebih dari 90 tahun bukan hal sederhana bagi keluarga besar Koko. Pasang-surut bisnis kuliner sudah kenyang mereka hadapi.

"Yang membuat restoran ini bertahan hingga selama ini adalah rasa tanggung jawab kami terhadap seluruh karyawan yang rata-rata sudah bekerja lama dengan kami," kata Koko.

"Kami tidak ingin hanya karena sepi pengunjung lantas kami menutup restoran ini, nanti bagaimana nasib karyawan kami?"
Jakarta, CNN Indonesia -- Suara keramaian memecah ketika pintu kayu gedung tiga lantai di tepi Jalan KH Zainal Arifin, Jakarta Pusat, itu dibuka. Saat itu, puluhan wanita paruh baya tengah menari, bercengkerama, dan berbincang seolah bernostalgia melepas rindu.

Mereka berkumpul di sebuah tempat legendaris di ibu kota. Bangunan tiga lantai bercat putih bertuliskan 'Restoran Eka Ria' di bagian luar bangunan itu memiliki model bangunan yang menandakan ia tidak dibuat dari era milenium.

Namun para wanita yang meramaikan lantai dasar restoran itu tidak peduli seberapa tua tempat tersebut. Mereka asik mengobrol mengelilingi meja bundar berisi 10 orang yang tersebar mengelilingi aula besar untuk dansa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yesi, 45, adalah salah satu wanita di tengah keramaian itu. Ia berserta dengan teman-temannya kerap berkumpul rutin di Eka Ria.

"Di sini enak makanannya, dan suasananya membuat kami sering ke sini," kata Yesi saat ditemui CNNIndonesia.com.
Aula utama restoran Eka Ria kerap jadi lantai dansa. Aula utama restoran Eka Ria kerap jadi lantai dansa.(CNN Indonesia/Hizkia Darmayana)
Yesi dan kawan-kawannya adalah sebagian kecil yang terus datang meramaikan restoran peranakan tertua di Jakarta itu. Yesi, dan pelanggan lainnya, terus datang dan menjadi nadi kehidupan restoran yang berdiri bahkan sebelum Indonesia merdeka.

Eka Ria pada awalnya adalah sebuah restoran yang didirikan oleh pedagang asal Guang Zhou, China, bernama Tjoeng Tan. Tjoeng mendirikan cikal bakal Eka Ria yang bernama Rumah Makan Jit Lok Jun pada 1925 di kawasan Glodok.

'Perintah' Orde Baru

Aula Restoran Eka Ria kerap dijadikan tempat pesta. (Screenshoot via Instagram/@ekaria.resto)

Tjoeng memilih mengenalkan menu asal kampung halamannya, khususnya Kanton, sebagai sajian utama rumah makan mungil yang ia miliki.

Roda zaman berputar. Tjoeng kemudian meneruskan usahanya itu kepada sang anak, Tjoeng Sang alias Suharto Tjondro pada 1958.

Namun, akibat peremajaan kawasan Glodok yang membabat banyak bangunan tua, restoran ini harus angkat kaki pada akhir dekade 1960-an.  Suharto kemudian memindahkan rumah makan itu ke Pasar Lindeteves, Jalan Hayam Wuruk, pada 11 November 1970.

Saat restoran berada di tangan generasi ke-dua Tjoeng yaitu Tjoeng Tjien Tjen alias Koko Suharto pada 1984, Pasar Lindeteves terbakar.

Sepetak tanah kosong di sudut Jalan KH Zainal Arifin menarik Koko untuk mendirikan restoran peninggalan itu dengan nama baru.

"Saat itu Presiden Soeharto melarang semua nama yang bernuansa China," kata Koko saat ditemui CNNIndonesia.com, baru-baru ini.

[Gambas:Instagram]

"Dan sebenarnya Eka Ria itu terjemahan Jit Lok Jun. Jit artinya satu atau eka, lok artinya gembira ria, dan jun artinya taman. Jadi, Jit Lok Jun artinya 'sebuah taman yang gembira', disederhanakan menjadi Eka Ria," papar Koko.

Menjalani bisnis hingga lebih dari 90 tahun bukan hal sederhana bagi keluarga besar Koko. Pasang-surut bisnis kuliner sudah kenyang mereka hadapi.

"Yang membuat restoran ini bertahan hingga selama ini adalah rasa tanggung jawab kami terhadap seluruh karyawan yang rata-rata sudah bekerja lama dengan kami," kata Koko.

"Kami tidak ingin hanya karena sepi pengunjung lantas kami menutup restoran ini, nanti bagaimana nasib karyawan kami?"
Rasa tetap sama BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2 3