WHO Umumkan Tingkat Depresi Dunia Naik 18 Persen

SYS, CNN Indonesia | Jumat, 31/03/2017 10:40 WIB
WHO Umumkan Tingkat Depresi Dunia Naik 18 Persen Depresi menambah risiko penyakit berbahaya dan gangguan kejiwaan. (Jedidja/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- World Health Organization (WHO) umumkan jika depresi menjadi penyebab utama masalah kesehatan dan ketidakmampuan di seluruh dunia. Ada sekitar 300 juta orang menderita penyakit mental ini.

Angka penderita depresi ini telah naik lebih dari 18 persen sejak 2005. Kurangnya bantuan untuk kesehatan mental yang dikombinasikan dengan ketakutan publik terhadap stigma depresi ini membuat banyak yang mengalami depresi tidak mendapat penanganan layak yang sebenarnya dibutuhkan agar mereka bisa menjalankan kehidupan yang sehat dan produktif.

“Angka ini sebenarnya teguran bagi semua negara untuk mempertimbangkan ulang mengenai pendekatan mereka akan program dan kebijakan mengenai kesehatan mental. Hal ini juga harus segera ditindak lanjut sebagai sebuah urgensi,” ungkap Margaret Chan, direktur umum WHO, langsung dari kantor pusat organisasi ini di Genewa.


Untuk menaikkan kesadaran sekaligus menghapus stigma dan kesalahpahaman persepsi mengenai penyakit mental ini, WHO menjalankan kampanye Depression: Let's Talk.

“Bagi seseorang yang hidup dengan depresi, berbicara pada seseorang yang bisa dipercaya kadang menjadi langkah pertama untuk penanganan dan kesembuhan,” ujar Shekhar Saxena, direktur departemen kesehatan mental WHO.

Depresi adalah penyakit mental dengan ciri kesedihan yang berkepanjangan dan hilangnya minat dan kurangnya kemampuan untuk beraktivitas dalam kegiatan hari-hari dan pekerjaan. Penyakit ini mempengaruhi sekitar 322 juta orang di seluruh dunia.

Depresi juga menambah risiko penyakit berbahaya dan gangguan kejiwaan termasuk kecanduan, perilaku bunuh diri, diabetes dan penyakit jantung. Keempat hal ini merupakan pembunuh manusia terbesar di dunia.

WHO menunjukkan keprihatinan pada banyak negara yang tidak memiliki dukungan untuk masalah penyakit mental ini dan hanya separuhnya saja orang yang menderita depresi mendapat perawatan di negara-negara kaya.

Sebagai rata-ratanya saja, menurut WHO, hanya 3 persen dana kesehatan pemerintah dialokasikan untuk kesehatan mental dengan variasi 1 persen di negara miskin dan 5 persen di negara kaya.

“Pengertian yang lebih baik akan depresi dan bagaimana mengobatinya, itu saja sudah sebuah permulaan yang baik. Yang dibutuhkan kemudian adalah pelayanan kesehatan mental yang layak dan berkelanjutan bisa diakses oleh siapapun, termasuk mereka yang berada di daerah terpencil sekalipun,” terang Saxena.