Pending, Perhiasan Peranakan Perlambang Kemujuran Berulang

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Rabu, 17/05/2017 11:22 WIB
Pending, Perhiasan Peranakan Perlambang Kemujuran Berulang Perhiasan pending karya Samuel Wattimena (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pending sangat identik dengan nama seorang perempuan bernama Herlina Kasim. Kala operasi perjuangan pembebasan Irian Barat, ia jadi satu-satunya relawan perempuan. Atas keberaniannya, ia diganjar pending emas dari Presiden Soekarno pada 1963.

Pending, dalam KBBI merupakan hiasan dada atau ikat pinggang yang dibuat dari lempeng emas atau perak berkerawang.

Menurut antropolog Notty J Mahdi, pending adalah benda budaya yang pertama kali dibawa pedagang Tiongkok pada abad 7. Pending saat itu juga digunakan raja dari kerajaan China sebagai hadiah yang diberikan pada Kerajaan Sriwijaya. Sebagai kerajaan dengan wilayah kekuasaan yang luas dan kekuatan maritim besar, China tak ingin Sriwijaya mengusik jajahan China.


"Ini dilakukan supaya mereka senang dan nggak menyerang negara jajahannya China," kata Notty saat ditemui di Jakarta, Selasa (16/5).

Pedagang Tiongkok pun berbaur dengan masyarakat lokal, dan kini dikenal dengan istilah masyarakat peranakan. Mereka, lanjut Notty, mengembangkan pending sebagai bagian dari upacara pernikahan, perayaan Imlek, juga Cap Go Meh.

Namun mendatangkan pending dari negara asalnya butuh biaya yang mahal. Hal ini membuat pedagang Tiongkok pada abad 12 meminta pengrajin lokal untuk membuatnya.
"Pertama kali yang mengubah bentuk asli dari Tiongkok adalah para pengrajin dari Aceh. Mereka mulai memasukkan unsur-unsur tradisonal seperti bunga,sulur, artinya hidup itu ada indahnya," jelas Notty.

Bulat atau Oval Karena Semua Mesti Berputar

Notty berkata pending tak pernah berbentuk lancip. Dalam filosofi masyarakat Tiongkok atau masyarakat Peranakan itu sendiri, pending bentuknya harus bulat atau oval agar rejeki, keindahan, kebahagiaan semuanya terus berputar. 

"Kalau orang menikah itu selalu diharapkan hidup senang bahagia, rukun sampai salah satu dipanggil Sang Maha Kuasa. Bentuknya oval, agar berputar terus," jelasnya.
Tak hanya menyebar di daratan Sumatera, pending juga sampai ke Jawa. Menurut antropolog dari Forum Kajian Antropologi Indonesia ini, bentuk pending di Jawa agak berbeda. Bentuknya lebih kotak, tapi tak meninggalkan filosofinya dengan ujung oval. 

“Pending sendiri diharapkan membawa kebahagiaan, kemujuran bagi pemakainya," pungkasnya.