Tips Aman Berwisata di Kawasan Panas Bumi
Gentur Putro Jati | CNN Indonesia
Selasa, 04 Jul 2017 13:18 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Insiden di kawasan wisata panas bumi kerap terjadi karena faktor kelalaian manusia maupun faktor alam. Jika tidak waspada, wisatawan bisa menjadi korban keganasan alam yang tersembunyi di objek wisata tersebut.
Patricia Erfurt-Cooper, dosen mata kuliah perencanaan pariwisata di Universitas Ritsumeikan Asia Pacific Jepang menuturkan belum ada standar keamanan internasional yang berlaku di kawasan wisata yang biasanya berada di kaki pegunungan berapi itu.
"Tantangan terbesar saat ini adalah merumuskan standar baku keamanan, yang berlaku untuk setiap ukuran gunung berapi, jenis gunung tersebut, sampai kendala bahasa untuk membaca papan peringatan," kata Erfurt-Cooper, dikutip dari Earth Magazine, Selasa (4/7).
Namun, Erfurt-Cooper mengakui pernah mengikuti konvensi International Cities on Volcanoes ke-enam di Tenerife, Spanyol pada 2010 lalu. Secara garis besar, konvensi tersebut memberikan sejumlah tips untuk meminimalisir risiko menjadi korban semburan lumpur panas atau terpapar gas beracun seperti yang terjadi di Kawah Sileri di Dieng, Jawa Tengah yang meletus pada Minggu (2/7) kemarin.
1. Tingkat keramaian objek wisata panas bumi
Popularitas suatu kawasan wisata panas bumi akan memancing banyak wisatawan untuk datang. Semakin padat kawasan tersebut oleh pengunjung, maka risiko akan semakin besar.
"Jika jumlah wisatawan terlalu banyak, maka ancaman bahaya akan semakin besar. Akan lebih mudah bagi para penjaga kawasan tersebut untuk mengkoordinir sekelompok kecil wisatawan," kata Tobias Schorr, seorang pemandu wisata sekaligus fotografer majalah Volcano Discovery terbitan Troisdorf, Jerman.
Ia melanjutkan, jumlah turis yang bisa dikawal oleh seorang pemandu wisata untuk masuk kawasan panas bumi maksimal 20 orang saja.
"Kalau jumlahnya ratusan, jelas berbahaya," tegasnya.
2. Pelajari karakteristik pegunungan berapi
Mungkin terdengar berlebihan, namun dengan mempelajari karakter dari pegunungan berapi yang akan dikunjungi maka hal tersebut bisa menghindarkan wisatawan dari bahaya. Atau cara paling mudah adalah dengan menyewa pemandu wisata lokal yang sudah paham karakter gunung tersebut.
"Insiden terbanyak terjadi pada kelompok wisatawan yang tidak didampingi pemandu wisata," kata Schorr.
Ia menuturkan, idealnya setiap wisatawan yang masuk ke kawasan wisata panas bumi harus menggunakan sepatu yang aman. Pemandu wisata juga harus mempersiapkan masker gas dan helm pelindung untuk wisatawan, jika sewaktu-waktu terjadi letusan.
3. Bahaya Erupsi
Jika berkunjung ke beberapa objek wisata panas bumi di pegunungan berapi yang berbahaya, pahami juga jika erupsi bisa terjadi sewaktu-waktu.
"Semua gunung berapi bisa erupsi sewaktu-waktu, saat wisatawan tidak memperoleh peringatan apapun," kata Erfurt-Cooper.
Patricia Erfurt-Cooper, dosen mata kuliah perencanaan pariwisata di Universitas Ritsumeikan Asia Pacific Jepang menuturkan belum ada standar keamanan internasional yang berlaku di kawasan wisata yang biasanya berada di kaki pegunungan berapi itu.
"Tantangan terbesar saat ini adalah merumuskan standar baku keamanan, yang berlaku untuk setiap ukuran gunung berapi, jenis gunung tersebut, sampai kendala bahasa untuk membaca papan peringatan," kata Erfurt-Cooper, dikutip dari Earth Magazine, Selasa (4/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Tingkat keramaian objek wisata panas bumi
Popularitas suatu kawasan wisata panas bumi akan memancing banyak wisatawan untuk datang. Semakin padat kawasan tersebut oleh pengunjung, maka risiko akan semakin besar.
"Jika jumlah wisatawan terlalu banyak, maka ancaman bahaya akan semakin besar. Akan lebih mudah bagi para penjaga kawasan tersebut untuk mengkoordinir sekelompok kecil wisatawan," kata Tobias Schorr, seorang pemandu wisata sekaligus fotografer majalah Volcano Discovery terbitan Troisdorf, Jerman.
Para wisatawan tengah berfoto dengan latar belakang gunung berapi Ontake di Jepang. (Kyodo) |
Ia melanjutkan, jumlah turis yang bisa dikawal oleh seorang pemandu wisata untuk masuk kawasan panas bumi maksimal 20 orang saja.
"Kalau jumlahnya ratusan, jelas berbahaya," tegasnya.
Mungkin terdengar berlebihan, namun dengan mempelajari karakter dari pegunungan berapi yang akan dikunjungi maka hal tersebut bisa menghindarkan wisatawan dari bahaya. Atau cara paling mudah adalah dengan menyewa pemandu wisata lokal yang sudah paham karakter gunung tersebut.
"Insiden terbanyak terjadi pada kelompok wisatawan yang tidak didampingi pemandu wisata," kata Schorr.
Ia menuturkan, idealnya setiap wisatawan yang masuk ke kawasan wisata panas bumi harus menggunakan sepatu yang aman. Pemandu wisata juga harus mempersiapkan masker gas dan helm pelindung untuk wisatawan, jika sewaktu-waktu terjadi letusan.
3. Bahaya Erupsi
Jika berkunjung ke beberapa objek wisata panas bumi di pegunungan berapi yang berbahaya, pahami juga jika erupsi bisa terjadi sewaktu-waktu.
Erupsi di pegunungan berapi bisa terjadi sewaktu-waktu. Sehingga menuntut kewaspadaan para wisatawan. (ANTARA FOTO/Umarul Faruq) |
"Semua gunung berapi bisa erupsi sewaktu-waktu, saat wisatawan tidak memperoleh peringatan apapun," kata Erfurt-Cooper.
Para wisatawan tengah berfoto dengan latar belakang gunung berapi Ontake di Jepang. (Kyodo)
Erupsi di pegunungan berapi bisa terjadi sewaktu-waktu. Sehingga menuntut kewaspadaan para wisatawan. (ANTARA FOTO/Umarul Faruq)