Hari Kopi Internasional, dan Rahasia Sedapnya Kopi Indonesia

Filani Olyvia , CNN Indonesia | Minggu, 01/10/2017 08:44 WIB
Hari Kopi Internasional, dan Rahasia Sedapnya Kopi Indonesia Sebagai salah satu negara produsen kopi terbesar di dunia, kopi Indonesia selalu punya tempat istimewa di hati pecinta kopi dari seluruh penjuru dunia.( ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hari Kopi Internasional yang jatuh setiap tanggal 1 Oktober, dirayakan oleh sekitar 77 negara di dunia, termasuk Indonesia. Peringatan ini diresmikan Organisasi Kopi Internasional (ICO) sejak 2014 lalu.

Dibanding kopi dari negara lain di dunia, popularitas kopi Indonesia termasuk yang diminati dan dicari. Salah satu alasannya tak lain karena kopi Indonesia memiliki karakteristik dan cita rasa yang khas.

Ungkapan itu disampaikan Moelyono Soesilo, Ketua Departemen Specialty & Industri Badan Pengurus Pusat (BPP) Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI). Ia bahkan tak ragu menyebut bahwa kopi Indonesia adalah salah satu kopi dengan cita rasa terbaik di dunia.

Negara-negara seperti Brasil dan Vietnam, kata Moelyono, boleh saja punya kuantitas kopi lebih besar ketimbang Indonesia. Akan tetapi, perihal rasa, kopi nusantara masih sulit untuk ditandingi.

Iklim tropis Indonesia, serta banyaknya pilihan pegunungan dengan ketersediaan air yang tinggi memang jadi kelebihan tersendiri bagi Indonesia untuk menanam kopi.

Data Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (Gaeki) pada 2014 menyebut bahwa produksi kopi di Indonesia dalam satu tahun bisa mencapai 700 ton. Dengan komposisi kopi robusta sebanyak 83 persen, dan 17 persen lainnya adalah jenis arabika.


Beberapa nama kopi nusantara yang sudah dikenal di kancah internasional secara komersil biasanya justru datang dari jenis arabika. Seperti kopi Gayo dari Aceh, kopi Mandailing dari Sumatera Utara, kopi Jawa dari Jawa Timur, kopi Kintamani dari Bali, kopi Toraja dari Sulawesi Selatan, kopi Flores dari Nusa Tenggara Timur dan kopi Wamena dari Papua.

Masing-masing varietas kopi tersebut memiliki aroma dan cita rasa yang berbeda.

Perbedaan rasa ini tergantung ketinggian, kondisi kesuburan, ketersediaan unsur hara, serta kandungan kimia dari lahan yang menjadi media tanam kopi.

"Kopi dari Bali (Kintamani), biasanya lebih fruity. Jadi, kita bisa merasakan rasa dan aroma jeruk. Kalau kopi dari Jawa lebih dominan dengan rasa cokelatnya. Sementara kopi dari daerah Sumatera biasanya cenderung spicy, kaya dengan rasa rempah," kata Moelyono, saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Indonesia punya banyak biji kopi yang berkualitasIndonesia punya banyak biji kopi yang berkualitas (Foto: Thinkstock/BonNontawat)

Jenis perawatan yang diberikan sebelum masa panen juga turut mempengaruhi kualitas kopi Indonesia. Petani kopi Indonesia sendiri dikenal sebagai petani yang ulet dan rajin.

Faktanya, sekitar 95 persen produksi kopi di Indonesia masih dikelola langsung oleh rakyat (smallholders coffee). Perawatan maksimal yang diberikan para petani lah yang membuat kualitas dan rasa kopi Indonesia jadi jauh lebih unggul.

"Kalau di Brasil dan Vietnam, karena tingkat produksinya tinggi, kebanyakan kopinya justru hanya digunakan untuk bahan utama kopi-kopi komersial. Sedangkan di Indonesia, kopi nusantara masih jadi idola untuk membuat 'high end coffee' yang biasa kita temui di kafe-kafe," ujar Moelyono.


Proses pasca panen juga memberikan andil besar dalam membentuk cita rasa varietas kopi di Indonesia. Bahkan, beberapa pihak menyebutkan bahwa faktor ini punya andil paling penting pada cita rasa akhir kopi.

Secara umum proses pascapanen terbagi menjadi tiga, yaitu proses basah, proses natural, dan proses madu. Belakangan di Indonesia, tepatnya di Aceh, telah berkembang proses pasca panen baru untuk menciptakan kopi dengan cita rasa wine.

Kebanyakan digunakan untuk mengolah kopi jenis arabika yang tumbuh pada ketinggian 1.500 meter dari permukaan laut dan lahannya berpasir, seperti kopi Gayo.

Serupa dengan proses pascapanen natural, kopi Gayo Wine dijemur tanpa mengupas kulit buahnya lebih dulu. Jadi, setelah dipetik, buah kopi langsung dijemur selama 30 hingga 45 hari dalam kondisi utuh.


Bedanya, kopi dijemur di area tertutup. Biasanya digulung dalam terpal. Selama kurun waktu pengeraman itulah semua aroma yang dihasilkan oleh kulit kopi yang terfermentasi diserap oleh biji kopi. Sehingga memberikan pengaruh tersendiri dalam cita rasa biji kopi.

"Jadi, disebut Gayo Wine bukan karena dicampuri wine dalam kopinya. Tapi pascapanen, buah kopinya telah terfermentasi secara alamiah," ujar barista dari East Indische Koffie, Jakarta, Agung Yuwandono, saat ditemui CNNIndonesia.com di Urban Life Coffee, Fashion & Sneakers di Mal Ciputra Jakarta.

Semakin lama proses pengeramannya, maka akan semakin kuat efek fermentasi pada aroma dan rasa kopi. Namun, Agung pribadi memastikan bahwa kopi jenis ini tidak mengandung alkohol, jadi tidak akan memabukkan. Hanya memberi sensasi rasa dan aroma wine saja.

Bayangkan bagaimana dua minuman paling berkelas di dunia, yakni wine dan kopi berpadu dengan rasa dan aroma yang sempurna dalam satu cangkir.
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Rayuan Secangkir Kopi