Paris Fashion Week

Potongan Klasik Hermes di Tengah Modernitas Paris

Fandi Stuerz, CNN Indonesia | Selasa, 02/10/2018 00:03 WIB
Potongan Klasik Hermes di Tengah Modernitas Paris Koleksi Hermes (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)
Paris, CNN Indonesia -- Setiap rumah mode yang bisa bertahan dan berkembang meski berusia puluhan tahun atau bahkan lebih dari satu abad dan menjadi legendaris memiliki paling tidak satu kualitas penanda yang menjadi signature.

Bagi rumah mode Hermes, craftsmanship atau ketrampilan, dan keahlian menciptakan produk fesyen berkualitas sangat baik memainkan peran terpenting dalam menjadikannya salah satu rumah mode terbesar di dunia.

Musim demi musim, sang desainer Nadège Vanhee-Cybulski memanjakan konsumen Hermès yang loyal dan market yang bertumbuh secara stabil.



Berlokasi di Hippodrome Paris Longchamp, yakni sebuah tempat pacuan kuda seluas 57 hektar di batas luar kota Paris, Hermes yang identik dengan pacuan kuda memilih lokasi yang sesuai dengan jiwa rumah mode yang berdiri sejak 1837 ini (Hermes dimulai dari sebuah studio kecil di Grand Boulevards yang memproduksi harness eksklusif untuk kereta kuda).

Hermes menyulap arena pacuan kuda dan mendirikan panel kaca raksasa sepanjang 20 meter yang merefleksikan langit dan menggambarkan pantai di mana pelaut dan penunggang kuda di masa lalu bertemu, dan menempatkan para tamu undangan di barisan tempat duduk penonton seolah-olah sedang menyaksikan pacuan kuda.

Koleksi HermesFoto: CNN Indonesia/Fandi Stuerz
Koleksi Hermes

Namun, alih-alih derapan kuda balap, para model berjalan diatas runway pasir pantai dan mempresentasikan potongan-potongan klasik Hermès yang rileks dan refined.

Warna-warna kalem off-white berupa jaket double-breasted dan celana pendek, krem, coklat tua, abu-abu grafit dan merah bata disandingkan dengan oranye khas Hermes seperti pada sebuah jaket parka oversized dan monk shirt dengan celana panjang berlipit.


Tas Herbag yang ikonik juga kembali dengan warna-warna cerah biru elektrik, merah menyala, dan tak ketinggalan warna Burnt Orange Hermès yang menurut standar warna Pantone bernomor 1448.

Deretan exit berikutnya menampilkan gaya-gaya effortless: potongan-potongan rileks dengan jahitan straight double-stich yang kuat khas pakaian pelaut digabungkan dengan celana panjang yang diproses dengan perforasi untuk menciptakan efek anyaman. Mantel trench katun dan sutra berlapis berwarna titanium abu-abu, rok berbahan kulit anak sapi yang lembut, juga dengan teknik perforasi berwarna tanah liat hijau, dan jaket bergaya biker berbahan khaki.

Koleksi HermesFoto: CNN Indonesia/Fandi Stuerz
Koleksi Hermes

Sandal bermodel gladiator karya desainer aksesori Pierre Hardy yang santai dan berplatform rendah melengkapi seluruh koleksi Hermès kali ini.

Salah satu model juga mengenakan sebuah kalung dari koleksi haute joaillerie milik Hermès bertajuk Enchaînements Libre yang juga didesain oleh Pierre Hardy. Kalung yang berbentuk seperti untaian mata rantai berbagai ukuran ini terbuat dari rose gold dan dihiasi berlian seberat 100,44 karat.


Bagi Hermès, kemewahan adalah sesuatu yang tidak seharusnya ditampilkan secara gamblang atau agresif (menjadi menarik untuk ditilik adalah para fashionista yang menenteng Birkin atau Kelly Bag, menjadikannya lebih sebagai status simbol dan sedikit memahami tentang filosofi Hermès yang sesungguhnya). Kualitas jahitan dan material, presisi potongan, serta mulusnya eksekusi akhir dari ide dan konsep yang matang dan tidak neko-neko, dan yang terpenting apresiasi terhadap kualitas lah yang menjadikan Hermès berbeda. (chs)