Destinasi Wisata Indonesia 'Digerayangi' Mafia Wisata Murah

ANTARA, CNN Indonesia | Senin, 10/12/2018 20:13 WIB
Pemandangan Pantai Kuta di Bali. (CNN Indonesia/Artho Viando)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jika belakangan ini sempat berkunjung ke Bali, pasti akan sering melihat kerumunan turis asal China.

Tercatat dalam waktu dua tahun terakhir, jumlah turis dari China ke Indonesia mengalami pertumbuhan yang signifikan. Khususnya di Pulau Dewata, bahkan jumlahnya menggeser sumbangan turis asal Australia yang selama ini berada di peringkat pertama.

Data dari Badan Pusat Statistik per September 2018 menunjukkan bahwa jumlah turis asal China ke Bali sebanyak 1,1 juta orang.


Meningkatnya jumlah kedatangan turis China tentu saja memberi angin segar bagi industri pariwisata Indonesia.

Namun di balik hal tersebut, ada dilema yang dirasakan oleh sejumlah pihak, terutama pelaku industri pariwisata yang mengutamakan kualitas ketimbang kuantitas.

Serbuan turis China ke Bali ditengarai karena penjualan paket wisata murah yang dilakukan oleh kawanan 'mafia'. 

Isu ini diduga sudah terjadi sekian lama bahkan sebelum Gubernur Bali Made Mangku Pastika menjabat selama dua periode.

Praktik yang dilakukan mafia turis ini ialah menekan tarif layanan wisata agar turis China berdatangan.

Paket wisata murah itu ditawarkan dengan harga mulai dari 1.700 RMB per orang, yang sudah termasuk tiket pesawat pulang pergi dan akomodasi selama lima hari dan menginap empat malam di Bali. Paket ini ditawarkan kepada turis yang datang dengan rombongan.

Selain beroperasi dari China, oknum-oknum dari kalangan penerbangan, agen wisata, tempat penginapan, tempat makan sampai tempat penjualan oleh-oleh di Bali juga diduga terlibat dalam praktik ini. Mereka yang terlibat mendapat keuntungan dalam bentuk komisi.

Secara sederhana, setelah mendapat jumlah turis untuk satu rombongan, oknum dari China menghubungi oknum-oknum yang menguasai layanan wisata di Bali.

Semua kegiatan dan layanan wisata yang akan dinikmati turis sudah ditentukan oleh mafia. Ada harga tentu saja ada kualitas, namun karena paket yang ditawarkan terlampau murah, banyak contoh kasus pelayanan yang diberikan terasa asal-asalan.

Salah satu contoh kasus ialah pernah terjadi rombongan turis yang ditinggalkan pemandu wisata, karena mereka berbelanja bukan di toko cendera mata yang sudah ditentukan.

Oknum yang tergabung dalam mafia memang mendapatkan keuntungan, tapi citra industri pariwisata Bali berpotensi tercoreng atas praktik ini.

Hingga Mangku Pastika mengakhiri jabatannya pada tahun ini, agaknya isu paket wisata murah itu masih saja menjadi dilema yang belum tuntas.


Berlanjut ke halaman berikutnya...
(ard)
1 dari 2