Turis Minta Pemerintah Tegas Soal Wacana Penutupan TN Komodo

CNN Indonesia | Kamis, 31/01/2019 18:24 WIB
Turis Minta Pemerintah Tegas Soal Wacana Penutupan TN Komodo Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Jakarta, CNN Indonesia -- Belum lama ini kawasan Taman Nasional (TN) Komodo di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapat sorotan dunia, lantaran wacana penutupan yang akan berlangsung selama satu tahun.

Wacana yang membuat pro dan kontra ini terbit tidak lama dari rencana kenaikan harga tiket masuk kawasan TN Komodo yang dirasa akan memberatkan wisatawan.

Seorang wisatawan Indonesia yang baru saja pulang berlibur dari TN Komodo, Bastian, mengakui bahwa wacana penutupan sempat membuatnya bingung.


Selain karena tidak tahu pasti alasan penutupannya, ia juga tak mendapat informasi pasti terkait jadwal penutupan.

Seakan berjudi dengan nasib, Bastian nekat datang ke sana meski wacana penutupan telah tersiar sejak awal tahun ini. Beruntung, kondisi wisata di hari kedatangannya diakuinya masih berlangsung normal.

Dikatakan Bastian, alasan konservasi sebagai dasar wacana penutupan sementara TN Komodo masih menggunakan pendekatan lama. Malah ia khawatir penutupan dengan konsep ini bakal membuat aktivitas ilegal lebih sering terjadi.

"Pendekatan lama lebih pada pelarangan, proteksi, penegakan hukum, dan lainnya. Intinya banyak larangan. Dampaknya penggunaan kawasan secara ilegal, seperti masuk diam-diam sampai memancing sembunyi-sembunyi, bakal lebih tinggi," ujar Bastian kepada CNNIndonesia.com saat dihubungi melalui telepon, Kamis (31/1).

Menurutnya konsep konservasi yang tepat adalah yang melibatkan manusia dalam menjaga keberlanjutan alam, serta menggabungkan konsep konservasi dengan ekonomi.

Bastian memberikan saran konsep yang menurutnya tepat diterapkan untuk menjaga lingkungan TN Komodo adalah membatasi jumlah pengunjung.

Karena, ia melanjutkan, untuk TN Komodo sifatnya bukan mass tourism (wisata massal) melainkan eco tourism (wisata alam).

"Semua yang ke TN Komodo harus menjaga keasrian alam. Aturan ini berlaku juga untuk tour operator (operator wisata). Selain itu diperlukan rewards and punishment (hukuman dan imbalan), jika (konsep) ini terjadi maka wacana penutupan itu tidak perlu terjadi," ujarnya.

Bukan cuma turis, salah satu pemilik operator wisata di TN Komodo dan Labuan Bajo, Ahmad Hasanela, menuturkan wacana penutupan dirasa terlalu terburu-buru sehingga meresahkan banyak pihak.

Untuk itu Ahmad meminta adanya sosialisasi dari pemerintah pusat kepada para operator wisata jika benar TN Komodo resmi ditutup; mulai dari apa yang menjadi alasan penutupan sampai durasi waktu penutupan.

"Karena setelah wacananya keluar, infonya jadi simpang siur karena tidak ada validasi dari pihak berwenang. Bahkan terkesan lempar-lemparan, karena tidak ada jawaban yang bisa dipakai kalau ada pertanyaan-pertanyaan yang muncul," ujar Ahmad kepada CNNIndonesia.com, saat dihubungi melalui telepon, Kamis (31/1).

"Info (penutupan) ini menyebabkan penurunan wisatawan, karena (kemunculan wacana) ini jaraknya lumayan dekat dengan statement pertama tentang kenaikan harga tiket masuk komodo. Wacana kenaikan tiket saja sudah bikin orang shock, ditambah lagi (info penutupan) ini," lanjutnya yang juga mengatakan kalau penutupan selama setahun dirasa terlalu lama.

Ahmad menyarankan sebaiknya pemerintah menggunakan contoh kasus dari taman nasional lain di Indonesia jika ingin melakukan penutupan atau menaikkan harga. 

(agr/ard)