Pola Pikir di Balik Budaya Ngaret yang Mengakar

T, CNN Indonesia | Kamis, 08/08/2019 16:40 WIB
Pola Pikir di Balik Budaya Ngaret yang Mengakar Budaya ngaret adalah salah satu kebiasaan yang mengakar di berbagai negara. (Tookapic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Fenomena ngaret tampaknya mengakar pada masyarakat Indonesia. Kata ngaret sebenarnya berasal dari kata karet yang bersifat elastis dan mudah direnggangkan, dalam hal ini waktu.

Dalam hal ini, orang yang suka ngaret berarti suka merenggangkan waktu alias datang terlambat. Kebiasaan itu seringkali dianggap sebagai hal yang lumrah karena melihat sekeliling kita kerap melakukan hal yang sama. Inilah alasannya fenomena ngaret ini tak pernah usai.

Seseorang yang mengulur-ulur waktu layaknya karet yang terus direnggangkan membuat orang lain yang sudah berusaha datang tepat waktu menjadi kesal. Padahal yang datang tepat waktu sudah bersiap berjam-jam sebelumnya demi menghindari jalanan macet agar sampai di tempat janjian tepat waktu.



Ternyata acara harus dimulai molor dari waktu yang dijadwalkan. Yang datang telat dengan santainya mengucapkan kalimat pamungkas, "Maaf, ya. Tadi macet banget."

Terlepas kita tinggal di kota besar dengan jam yang selalu sibuk, bukan berarti datang terlambat tidak dapat diatasi dan dihindari, bukan? Jika sudah tahu psikologi lalu lintas dan kondisi jalanan, mengapa tidak mengantisipasinya dengan berangkat lebih awal?

Tahukah kamu bahwa dalih ngaret yang sering diucapkan ketika waktu yang dijadwalkan ternyata mundur dari yang ditentukan bisa berdampak pada menurunnya produktivitas? Mengapa begitu? Karena ngaret mengganggu jadwal yang telah disusun sebelumnya dan akhirnya memaksa 'memakan' waktu untuk mengerjakan hal produktif lainnya.

Ngaret jelas menyebabkan kemunduran waktu, menjadikan kita yang harusnya menyelesaikan 5 agenda, hanya menjadi 3 agenda saja misalnya. Sehingga orang ngaret biasanya akan dicap sebagai orang yang tidak menghargai waktu juga tidak menghargai orang lain yang telah berusaha menghargai waktu.


Keterlambatan yang sering dibuat ini bukanlah tanpa sebab, kebanyakan karena gagal memperkirakan estimasi waktu. Padahal waktu yang dimiliki setiap orang jumlahnya selalu sama yakni 24 jam.

Namun dalam 24 jam itu tidak semua manusia mampu mengerjakan semua hal secara terstruktur sesuai jadwal. Sehingga fenomena ngaret sebenarnya harus dimulai dari rasa dalam menghargai waktu serta mengolah dan mempergunakan waktu (time management).

Rasanya menyebalkan jika sudah berusaha datang tepat waktu tapi sekeliling masih terlambat. Lalu muncul di benak untuk mengabaikan ketepatan waktu, "besok-besok giliran saya yang datang terlambat, agar dia tahu bagaimana kesalnya menunggu". Pikiran kerdil seperti itu sebaiknya dibuang jauh-jauh.

Dengan pola pikir seperti itu fenomena ngaret tidak akan pernah usai. Sebaliknya, tetaplah menunjukkan kedisiplinan dan manajemen waktu yang baik agar yang datang terlambat menjadi sungkan dan malu.

Meski terkenal dengan budaya ngaret, enggak semua orang Indonesia itu senang terlambat. Masih banyak orang-orang yang datang tepat waktu dan sangat menghargai ketepatan waktu. Biasanya orang-orang ini sangat kesal dengan orang yang suka ngaret karena dianggap tidak menghargai waktu dan usaha orang lain.

Untuk para pejuang #AntiNgaret, kamu gak perlu khawatir lagi karena GrabBike hadir untuk membantu kamu mengejar berbagai hal yang berarti bagi kamu, setiap harinya!

Sebelum itu, buat kamu yang suka ngaret, yuk mulai lebih menghargai diri sendiri dan orang lain dengan menjadi orang yang lebih tepat waktu! Nantikan informasi lebih lanjut mengenai program #AntiNgaret persembahan GrabBike, atau kunjungi Instagram Grab, @GrabID.

(dei/fef)